

KHAMENEI.ID – Ada orang yang semakin dipuji semakin sulit melihat kekurangannya sendiri. Ia mengira sanjungan sebagai bukti kebaikan, keselamatan sebagai tanda bahwa dirinya tidak bersalah, dan kelimpahan nikmat sebagai pengakuan bahwa hidupnya berada di jalan yang benar. Tanpa disadari, ia sedang membangun keyakinan tentang dirinya dari hal-hal yang justru belum tentu

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa yang memudar seiring berjalannya waktu. Ia datang seperti riak air setelah batu dilempar ke kolam: sesaat mengembang, lalu perlahan hilang tanpa jejak. Namun ada pula peristiwa yang justru mengalami hal sebaliknya. Semakin jauh dari hari kejadiannya, semakin besar gaungnya. Semakin lama berlalu, semakin jelas maknanya. Di antara

KHAMENEI.ID – Di tengah sejarah Islam yang dipenuhi tokoh-tokoh besar, ada satu sosok yang keagungannya melampaui batas-batas usia, gender, dan zaman. Ia bukan seorang panglima perang, bukan pula penguasa sebuah negeri. Namun ketika ia memasuki ruangan, manusia paling mulia di muka bumi berdiri menyambutnya. Bukan sekadar berdiri, tetapi melangkah mendekat

KHAMENEI.ID – Siapa bilang Islam membatasi ruang gerak wanita? Fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Topik mengenai kehadiran sosial kaum wanita dan kontribusi mereka dalam berbagai persoalan kemasyarakatan senantiasa menjadi titik perdebatan yang menarik sekaligus penuh tantangan di tengah masyarakat dan peradaban yang berbeda-beda. Di bumi Iran sendiri, beragam sikap yang cenderung

KHAMENEI.ID – Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut tampil memukau setiap saat—bukan karena kebahagiaan pribadi, melainkan agar dinikmati oleh pandangan laki-laki. . Apakah itu bentuk kebebasan atau justru perbudakan modern? Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam beberapa pertemuan khusus dengan peseerta perempuan menyatakan bahwa fenomena ini tak lain merupakan “ketidakadilan”

KHAMENEI.ID– Di banyak tempat, nama Ali bin Abi Thalib a.s disebut dengan penuh cinta. Majelis-majelis dipenuhi pujian tentang keberanian, ilmu, dan ketakwaannya. Air mata mengalir ketika kisah hidupnya dibacakan. Namun sebuah pertanyaan penting sering luput diajukan: apakah mencintai Ali a.s sudah cukup? Pertanyaan itu terasa tajam di zaman sekarang, ketika simbol

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahpahaman yang terus berulang dalam kehidupan politik modern: bahwa kekuasaan adalah tujuan. Karena itu, pemilu diperlakukan sebagai medan perang, kursi jabatan dianggap puncak pencapaian, dan kemenangan menjadi ukuran utama keberhasilan. Namun, dalam pandangan Islam, politik sesungguhnya dimulai dari titik yang berbeda. Kekuasaan bukan tujuan akhir, melainkan amanah.

KHAMENEI.ID– Ada satu kesalahan yang kerap berulang dalam sejarah: ketika sebuah gerakan besar berhasil mengubah nasib bangsa, selalu muncul kelompok yang merasa paling berhak atas warisan perubahan itu. Mereka menganggap diri sebagai pemilik rumah, sementara generasi berikutnya hanya tamu yang menumpang. Padahal, justru di titik itulah banyak revolusi kehilangan ruhnya.

KHAMENEI.ID – Di tengah dunia Islam yang sering dipenuhi perdebatan identitas, perbedaan mazhab, dan pertarungan klaim kebenaran, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: adakah sosok yang benar-benar dicintai dan dihormati oleh hampir seluruh umat Islam? Jawabannya mungkin sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Sosok itu adalah Ali bin Abi Thalib a.s.

KHAMENEI.ID – Di tengah dunia modern yang semakin rasional dan serba cepat, ada satu pertanyaan yang sesekali muncul: mengapa umat Islam, khususnya para pecinta Ahlulbayt, terus mengenang tragedi Karbala? Mengapa majelis-majelis duka, lantunan syair, tangisan, dan peringatan Asyura tetap dipelihara dari generasi ke generasi? Sebagian orang memandangnya sebagai tradisi emosional

KHAMENEI.IR – Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang berbicara tentang keberanian. Namun hanya sedikit yang berbicara tentang keberanian dengan harga yang begitu mahal: membawa orang-orang yang paling dicintai ke tengah medan pembuktian kebenaran. Di sinilah letak keistimewaan peristiwa Mubahalah. Dalam pandangan Imam Ali Khamenei, Mubahalah bukan sekadar debat