KHAMENEI.ID– Ada paradoks yang semakin sering terlihat di dunia modern: semakin banyak orang berbicara tentang spiritualitas, tetapi semakin sedikit yang merasa perlu terlibat dalam persoalan keadilan.
Kita hidup di zaman ketika meditasi menjadi tren, ceramah motivasi spiritual mudah ditemukan, dan pembicaraan tentang ketenangan batin semakin populer. Banyak orang berusaha memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi pada saat yang sama menutup mata terhadap penderitaan manusia di sekitarnya. Seolah-olah kesalehan adalah urusan pribadi semata, terpisah dari nasib masyarakat.
Padahal, dalam pandangan Islam, spiritualitas dan keadilan tidak pernah berjalan sendiri. Keduanya ibarat dua benang yang saling menjalin dan membentuk satu kain yang utuh. Ketika salah satunya dilepaskan, makna agama menjadi pincang.
Keadilan membutuhkan spiritualitas karena memperjuangkan kebenaran bukan pekerjaan yang mudah. Orang yang berdiri melawan kezaliman sering berhadapan dengan tekanan, ancaman, bahkan kesepian. Jika perjuangan itu hanya didorong oleh kepentingan pribadi atau keuntungan duniawi, semangatnya mudah padam. Namun ketika keadilan diperjuangkan karena Tuhan dan karena keyakinan akan nilai-nilai ilahi, seseorang memperoleh sumber kekuatan yang lebih dalam daripada sekadar kepentingan material.
Sejarah manusia berulang kali menunjukkan bahwa banyak pejuang keadilan mampu bertahan bukan karena mereka memiliki kekuasaan besar, melainkan karena mereka memiliki keyakinan besar. Mereka percaya bahwa membela yang lemah bukan sekadar pilihan sosial, tetapi juga panggilan moral.
Namun hubungan itu tidak berjalan satu arah. Spiritualitas juga membutuhkan keadilan.
Ada orang-orang yang tampak sangat religius. Mereka rajin beribadah, banyak berdoa, dan gemar berbicara tentang kehidupan akhirat. Tetapi ketika berhadapan dengan penindasan, korupsi, kemiskinan yang disengaja, atau eksploitasi manusia, mereka memilih diam. Mereka merasa semua itu bukan urusan mereka.
Di sinilah Islam memberikan kritik yang sangat tajam.
Rasulullah saw. pernah bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ لَا يَهْتَمُّ بِأُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ وَ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يُنَادِي يَا لَلْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَيْسَ بِمُسْلِم
“Siapa yang memasuki pagi hari tanpa mempedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka. Dan siapa yang mendengar seseorang meminta pertolongan kepada kaum Muslimin lalu tidak menjawabnya, maka ia bukan seorang Muslim.”
Hadis yang diriwayatkan melalui Imam Ja’far Shadiq a.s ini menyampaikan pesan yang sangat kuat: agama bukan sekadar hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Agama juga menuntut kepedulian terhadap nasib sesama manusia.
Kalimat “tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin” tidak harus dipahami secara sempit. Ia berbicara tentang hilangnya rasa tanggung jawab sosial. Ketika ada kemiskinan yang merampas martabat manusia, ketika ada ketidakadilan yang merugikan banyak orang, ketika ada penindasan yang berlangsung di depan mata, seorang beriman tidak bisa bersikap seolah semua itu tidak ada.
Di era digital, pesan ini justru terasa semakin relevan.
Kita bisa mengetahui penderitaan ribuan orang hanya melalui layar telepon genggam. Kita melihat perang, pengungsian, kelaparan, ketimpangan ekonomi, hingga berbagai bentuk ketidakadilan yang tersebar di seluruh dunia. Ironisnya, derasnya informasi kadang justru membuat hati menjadi kebal. Kita melihat begitu banyak tragedi hingga akhirnya kehilangan kemampuan untuk peduli.
Di sinilah spiritualitas diuji.
Apakah ibadah membuat seseorang semakin peka terhadap penderitaan manusia, atau justru membuatnya sibuk dengan dirinya sendiri? Apakah kedekatan kepada Tuhan melahirkan keberanian membela kebenaran, atau hanya menghasilkan kenyamanan pribadi yang terisolasi dari realitas sosial?
Islam tidak mengenal spiritualitas yang berdamai dengan kezaliman. Tidak ada makna mendalam dalam ibadah jika seseorang bisa tenang menyaksikan ketidakadilan tanpa merasa terganggu. Sebab Tuhan yang disembah dalam shalat adalah Tuhan yang sama yang memerintahkan keadilan. Dan cinta kepada Tuhan tidak mungkin sepenuhnya terpisah dari kepedulian terhadap makhluk-Nya.
Karena itu, para pemikir Islam sering menegaskan bahwa manusia spiritual sejati bukanlah mereka yang sekadar menjauh dari dunia, melainkan mereka yang membawa nilai-nilai langit ke dalam kehidupan sosial. Mereka tidak hanya berusaha membersihkan hati sendiri, tetapi juga berusaha mengurangi penderitaan orang lain. Mereka tidak hanya menangisi dosa pribadi, tetapi juga gelisah melihat ketidakadilan yang merusak kehidupan bersama.
Keadilan tanpa spiritualitas bisa berubah menjadi perebutan kepentingan. Sebaliknya, spiritualitas tanpa keadilan bisa berubah menjadi pelarian yang nyaman dari tanggung jawab sosial. Keduanya membutuhkan satu sama lain.
Mungkin itulah sebabnya Islam tidak pernah memisahkan antara hati dan masyarakat, antara doa dan kepedulian, antara ibadah dan perjuangan moral. Sebab manusia tidak diciptakan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi juga untuk menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebaikan di dunia.
Pada akhirnya, kualitas spiritual seseorang mungkin tidak hanya terlihat dari seberapa khusyuk ia berdoa, tetapi juga dari seberapa besar ia merasa terusik ketika melihat ketidakadilan. Sebab hati yang benar-benar dekat kepada Tuhan biasanya tidak pernah sanggup merasa tenang saat manusia lain sedang diperlakukan secara tidak adil.






