Di Hadapan Tuhan, Satu Orang Tak Pernah Menjadi Kecil 

KHAMENEI.ID– Ada jenis kekuasaan yang membuat seseorang takut kehilangan jabatan. Ada pula kekuasaan yang justru membuat seseorang takut berlaku zalim. Keduanya sama-sama berbicara tentang kepemimpinan, tetapi berdiri di dua dunia moral yang berbeda.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s berada di dunia yang kedua.

Pada suatu masa ketika wilayah kekuasaannya membentang begitu luas, dari kawasan sekitar Sungai Jihun hingga Sungai Nil, ia tidak melihat rakyat sebagai angka dalam peta kekuasaan. Ia melihat mereka sebagai manusia yang kelak akan menjadi saksi di hadapan Tuhan. Karena itu, bagi Imam Ali a.s, ukuran seorang penguasa bukanlah seberapa luas wilayah yang dapat ditaklukkan, berapa banyak pasukan yang dimiliki, atau seberapa kuat lawan dapat ditundukkan. Ukurannya jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih berat: apakah ada satu manusia yang dizaliminya.

Di situlah keadilan Imam Ali a.s memperoleh maknanya yang paling dalam.

Dalam salah satu ungkapannya yang terkenal, ia berkata:

وَاللهِ لَاَن اَبیتَ عَلی حَسَکِ السَّعدانِ مَسَهَّداً اَو اُجَرَّ فِی الاَغلالِ مُصَفَّداً

“Demi Allah, sungguh aku lebih suka bermalam di atas duri-duri dalam keadaan tidak dapat tidur, atau diseret dalam belenggu dengan tubuh terikat…”

Kalimat itu belum selesai. Justru bagian berikutnya yang membuatnya mengguncang pengertian kita tentang kekuasaan:

اَحَبُّ اِلَیَّ مِن اَن اَلقَی اللهَ عَزَّ وَ جَلّ یَومَ القیامَةِ ظالِماً لِبَعضِ العِباد

“…daripada aku berjumpa dengan Allah Yang Mahamulia pada hari kiamat sementara aku telah menzalimi salah seorang dari hamba-Nya”

Bayangkan seorang penguasa mengatakan itu.

Bukan seorang pertapa yang hidup jauh dari hiruk-pikuk politik. Bukan seorang rakyat biasa yang tidak memiliki kekuasaan. Ia adalah pemimpin sebuah pemerintahan luas, dengan wilayah yang mencakup bagian-bagian dari Iran, Afghanistan, Irak, dan Mesir. Kekuasaan semacam itu, dalam ukuran manusia, seharusnya memberikan ruang yang sangat besar untuk menikmati privilese.

Baca Juga  Persatuan Dunia Islam Memiliki Tingkatan, dari Tidak Saling Menyerang hingga Membangun Peradaban Islam

Namun bagi Imam Ali a.s, luasnya kekuasaan justru memperluas tanggung jawab.

Semakin banyak manusia berada di bawah kekuasaan seseorang, semakin banyak pula kemungkinan kezaliman terjadi melalui keputusan orang itu. Karena itu, kekuasaan tidak pernah semata-mata hak. Ia adalah beban yang kelak dipertanggungjawabkan.

Di titik ini, keadilan tidak lagi bisa dipahami hanya sebagai aturan hukum. Keadilan menjadi semacam kegelisahan batin seorang pemimpin: kegelisahan bahwa mungkin ada seseorang yang terluka oleh keputusan yang ia ambil.

Itulah yang membuat pandangan Imam Ali a.s tentang kepemimpinan terasa begitu jauh sekaligus begitu dekat dengan zaman kita.

Kita hidup dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan pemerintahan melalui angka. Pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, investasi, stabilitas politik, elektabilitas, dan berbagai indikator lainnya tentu penting. Tetapi ada satu ukuran yang lebih sunyi dan jarang muncul dalam laporan statistik: apakah manusia yang paling lemah merasa diperlakukan adil?

Sebab ketidakadilan hampir selalu dimulai dari sesuatu yang tampak kecil.

Satu orang kehilangan haknya. Satu keluarga diperlakukan berbeda karena tidak memiliki akses. Satu keputusan dibuat tanpa mendengar mereka yang terdampak. Satu kelompok memperoleh keistimewaan karena kedekatannya dengan kekuasaan. Di atas kertas, semuanya mungkin terlihat sebagai perkara kecil. Tetapi bagi orang yang menjadi korban, ketidakadilan itu bisa mengubah seluruh hidupnya.

Imam Ali a.s justru mengajarkan agar seorang pemimpin melihat persoalan dari sisi manusia yang paling kecil itu.

Jika satu orang saja dizalimi, persoalan tersebut tidak menjadi kecil hanya karena jutaan orang lain hidup dalam keadaan baik.

Pandangan ini sekaligus mengubah cara kita memahami kebesaran seorang pemimpin. Kebesaran tidak selalu tampak dalam pidato, kemenangan politik, atau monumen yang dibangun setelah ia berkuasa. Kadang-kadang kebesaran justru tersembunyi dalam kemampuan seseorang menahan dirinya sendiri ketika ia sebenarnya memiliki kekuasaan untuk berbuat sebaliknya.

Baca Juga  Belajar Kemanusiaan dari Imam Ali: Saat Air Mata Tak Mengenal Agama

Seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan untuk menghukum, tetapi memilih berhati-hati, sedang memperlihatkan kekuatan moral. Seorang pemimpin yang dapat mengambil lebih banyak untuk dirinya, tetapi memilih hidup secukupnya, sedang menunjukkan bahwa jabatan tidak membuatnya kehilangan batas. Dan seorang pemimpin yang takut bertemu Tuhan karena mungkin telah merugikan seorang manusia, sedang menempatkan pertanggungjawaban moral di atas kenikmatan kekuasaan.

Dalam konteks yang lebih luas, warisan Imam Ali a.s tentang keadilan sebenarnya bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia adalah pertanyaan untuk setiap zaman.

Apa arti kekuasaan jika manusia kecil tetap tidak memiliki tempat untuk mengadu?

Apa arti hukum jika keadilan hanya mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki uang, hubungan, atau pengaruh?

Dan apa arti kepemimpinan jika kursi kekuasaan justru membuat hati semakin kebal terhadap penderitaan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat sosok Imam Ali a.s tetap hidup melampaui zamannya. Bukan karena ia memiliki wilayah pemerintahan yang luas, melainkan karena ia memahami sesuatu yang sering dilupakan oleh kekuasaan: manusia mungkin mampu menghindari pengadilan dunia, tetapi tidak dapat menghindari pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan.

Barangkali karena itu, ungkapan Imam Ali a.s tentang keadilan terdengar begitu ekstrem. Ia rela menerima penderitaan fisik apa pun daripada membawa satu kezaliman ke hadapan Tuhan.

Ada paradoks yang indah di sana. Seorang penguasa yang menguasai wilayah begitu luas justru mengukur dirinya melalui nasib satu orang. Ia tidak mengatakan, “Selama negara aman, satu-dua orang boleh dikorbankan.” Ia justru memperlakukan satu manusia seolah seluruh persoalan kemanusiaan sedang dipertaruhkan di sana.

Dan mungkin di situlah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya.

Bukan seberapa tinggi seseorang berdiri di atas orang lain, melainkan seberapa takut ia menginjak mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Baca Juga  Benarkah Perempuan "Kurang Akal"? Membaca Ulang Hadis dalam Bayang-Bayang Sejarah

Kekuasaan pada akhirnya akan berlalu. Jabatan akan berganti. Nama-nama akan perlahan menghilang dari ingatan. Tetapi luka akibat ketidakadilan dapat tinggal jauh lebih lama daripada usia sebuah pemerintahan.

Imam Ali a.s seakan mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya meninggalkan bangunan dan kebijakan. Ia juga meninggalkan jejak pada hati manusia yang pernah berada di bawah kekuasaannya.

Dan mungkin, pada hari ketika semua jabatan kehilangan maknanya, yang tersisa bukanlah seberapa besar kekuasaan yang pernah kita miliki, melainkan satu pertanyaan sederhana: ketika memiliki kuasa, berapa banyak manusia yang kita selamatkan dari kezaliman dan berapa banyak yang justru terluka karenanya?

Bagikan:
Terkait
Komentar