Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 11): Mengapa Percaya kepada Allah Saja Belum Cukup?

KHAMENEI.ID –

Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 4: Wahyu sebagai Pilar Ketakwaan dan Penuntun Kehidupan

Di antara enam karakter orang bertakwa yang dipaparkan pada pembukaan Surah Al-Baqarah, Al-Qur’an kemudian menyebut satu fondasi yang menentukan arah seluruh kehidupan manusia. Allah swt berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ

“Dan mereka yang beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 4)

Menurut Imam Khamenei, ayat ini bukan sekadar mengajarkan penghormatan kepada kitab-kitab suci terdahulu. Lebih mendasar daripada itu, ayat ini sedang menjelaskan salah satu unsur pembentuk ketakwaan, yaitu iman kepada wahyu.

Jika pada ayat sebelumnya Al-Qur’an menjelaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan rezeki, maka ayat ini melengkapi bangunan tersebut dengan keyakinan bahwa Allah swt tidak membiarkan manusia berjalan sendiri. Dia membimbing manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada para nabi.

Wahyu Menjadi Pembeda antara Keyakinan dan Dugaan

Imam Ali Khamenei qs menjelaskan bahwa kedua bagian ayat ini memiliki satu titik temu.

Baik “بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ” maupun “وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ”, sama-sama berbicara tentang keimanan kepada wahyu. Yang pertama menunjuk kepada wahyu yang diterima Nabi Muhammad saw, sedangkan yang kedua mengakui seluruh rangkaian wahyu yang pernah Allah swt turunkan kepada para nabi sebelumnya.

Dengan demikian, salah satu unsur pokok ketakwaan adalah menerima bahwa Allah benar-benar memberikan petunjuk kepada manusia melalui para utusan-Nya.

Menurut beliau, seseorang mungkin saja telah sampai pada keyakinan bahwa Tuhan itu ada. Akalnya membimbingnya untuk mengakui adanya Sang Pencipta. Namun pengakuan itu belum cukup apabila ia menolak wahyu.

Baca Juga  Manusia Modern Merasa Bebas, Padahal Sedang Menyembah Banyak “Tuhan” Kecil

Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali menggandengkan ketaatan kepada Allah swt dengan ketaatan kepada Rasul.

Allah swt berfirman:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul.”
(Lihat QS. An-Nisā’ [4]: 59 dan ayat-ayat lain yang senada.)

Bagi seorang mukmin, dua perintah ini memang tampak menyatu. Siapa yang menaati Allah tentu akan menaati Rasul-Nya. Namun Al-Qur’an sengaja memisahkannya karena selalu ada kemungkinan seseorang mengakui keberadaan Tuhan, tetapi menolak otoritas wahyu.

Di sinilah letak persoalannya.

Mengapa Akal Membutuhkan Wahyu?

Menurut Syahid Ali Khamenei, ketika seseorang hanya mengandalkan akalnya, akan muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Bagaimana manusia mengetahui kehendak Allah?

Apa ukuran benar dan salah?

Apa yang benar-benar membawa manusia menuju kebahagiaan?

Kalau setiap orang hanya mengikuti kesimpulannya sendiri, maka setiap pendapat akan mengklaim dirinya sebagai kebenaran.

Padahal sejarah menunjukkan kenyataan sebaliknya.

Manusia yang sama-sama cerdas sering kali melahirkan kesimpulan yang saling bertolak belakang. Berbagai mazhab filsafat, ideologi, dan sistem pemikiran lahir justru karena akal manusia menghasilkan penilaian yang berbeda-beda terhadap persoalan hidup.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, akal memerlukan pembimbing.

Bukan karena akal tidak bernilai, tetapi karena akal membutuhkan petunjuk yang berasal dari Zat Yang Mahatahu agar mampu membedakan mana hakikat dan mana ilusi.

Di sinilah fungsi wahyu.

Wahyu menjadi petunjuk Ilahi yang mengarahkan akal agar tidak tersesat dalam berbagai kemungkinan yang diciptakannya sendiri.

Wahyu Adalah Pendidikan Langsung dari Allah swt

Dalam penjelasan beliau, hakikat wahyu tidak dibahas dari sisi filsafat yang rumit. Yang ditekankan adalah fungsinya.

Wahyu merupakan pendidikan khusus dari Allah kepada hamba pilihan-Nya, yaitu para nabi. Para nabi kemudian menyampaikan pendidikan itu kepada umat manusia.

Baca Juga  Mubahalah dan Karbala: Ketika Kebenaran Menuntut Pengorbanan Orang-Orang Tercinta

Dengan demikian, wahyu bukan hasil renungan seorang tokoh, bukan pula kesimpulan para filsuf atau pengalaman spiritual pribadi.

Wahyu adalah petunjuk yang berasal dari Allah untuk membimbing kehidupan manusia.

Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ

yang dimaksud bukan hanya mempercayai bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga menerima seluruh sistem petunjuk yang dibawa Islam.

Menurut Imam Khamenei, seluruh ajaran Islam yang diturunkan melalui wahyu bertujuan membangun manusia secara utuh.

1. Wahyu Membimbing Akal

Wilayah pertama yang disentuh wahyu adalah akal manusia.

Di sinilah wahyu menjelaskan hakikat kehidupan, tujuan penciptaan, makna kematian, kehidupan akhirat, hakikat manusia, serta hubungan manusia dengan alam semesta dan Tuhannya.

Berbagai persoalan mendasar yang sejak dahulu menjadi bahan perdebatan para filsuf memperoleh arah yang jelas melalui petunjuk Ilahi.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, wahyu membimbing cara manusia berpikir agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang keliru tentang realitas kehidupan.

2. Wahyu Membersihkan Jiwa

Namun manusia bukan hanya makhluk berpikir.

Ia juga memiliki hati yang dapat dipenuhi berbagai penyakit.

Karena itu wilayah kedua yang disentuh wahyu adalah akhlak.

Imam Khamenei menyebut berbagai penyakit batin yang dapat merusak kehidupan manusia: kikir, rakus, pengecut, dendam, kelalaian, riya, dan berbagai sifat tercela lainnya.

Semua itu bukan sekadar persoalan pribadi.

Ketika penyakit-penyakit tersebut berkembang dalam masyarakat, kehidupan bersama pun ikut rusak.

Karena itulah wahyu tidak hanya berbicara mengenai keyakinan, tetapi juga mendidik hati agar bersih dari sifat-sifat yang menghalangi manusia menuju kesempurnaan.

2. Wahyu Mengatur Perbuatan Manusia

Wilayah ketiga adalah amal perbuatan.

Setelah akal diarahkan dan jiwa dibersihkan, wahyu membimbing tindakan manusia.

Baca Juga  Kemajuan Ilmu, Kemerosotan Moral: Mengapa Dunia Hari Ini Mirip Zaman Kelahiran Nabi Muhammad?

Apa yang harus dilakukan.

Apa yang harus ditinggalkan.

Bagaimana menjalani kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga hubungan antarmanusia.

Menurut Imam Khamenei, ketiga wilayah ini saling berkaitan erat.

Cara berpikir memengaruhi akhlak.

Akhlak memengaruhi tindakan.

Dan tindakan akan membentuk perjalanan hidup manusia.

Karena itu, wahyu Islam tidak hanya datang membawa ajaran ibadah, tetapi menghadirkan sistem pendidikan yang mencakup seluruh dimensi kehidupan.

Ketakwaan Tidak Mungkin Terbangun Tanpa Wahyu

Melalui ayat keempat Surah Al-Baqarah ini, Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketakwaan tidak cukup dibangun oleh keimanan kepada Tuhan semata.

Orang bertakwa adalah mereka yang menerima bimbingan Allah swt sebagaimana Dia menurunkannya kepada para nabi.

Mereka tidak menjadikan hawa nafsu, selera pribadi, atau penalaran manusia sebagai sumber kebenaran terakhir.

Sebaliknya, mereka membuka akal, membersihkan jiwa, dan mengarahkan seluruh amal berdasarkan petunjuk wahyu.

Karena itulah keimanan kepada wahyu menjadi salah satu fondasi utama yang menjadikan seseorang layak memperoleh hidayah Al-Qur’an.

Bagikan:
Terkait
Komentar