Ketika Hari Raya Hanya Menjadi Pesta: Agama Tinggal Menjadi Tradisi Sosial 

KHAMENEI.ID— Ada satu ironi yang perlahan menjadi biasa setiap kali Idulfitri tiba: manusia merayakan kemenangan, tetapi sering lupa apa yang sebenarnya dimenangkan. Jalanan penuh kendaraan, pusat perbelanjaan sesak, media sosial dipenuhi foto kebahagiaan, tetapi hati banyak orang justru kembali kosong beberapa hari setelah takbir berhenti berkumandang.

Idulfitri yang semestinya menjadi momentum pemurnian jiwa perlahan bergeser menjadi perayaan budaya dan rutinitas sosial. Orang sibuk membeli pakaian baru, tetapi lupa memperbarui hidupnya. Kita saling meminta maaf dengan kalimat yang indah, namun sering tanpa keberanian sungguh-sungguh untuk berubah.

Padahal dalam tradisi Islam, Idulfitri bukan sekadar hari libur religius. Ia adalah simbol kemenangan spiritual manusia setelah sebulan melawan dirinya sendiri.

Dalam doa qunut shalat Idulfitri terdapat kalimat yang sangat dalam maknanya:

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمِينَ عِيدًا

“Aku memohon kepada-Mu demi hari ini yang Engkau jadikan sebagai hari raya bagi kaum Muslim”

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan besar. Hari raya dalam Islam bukan sekadar pesta. Ia adalah hari yang menyatukan manusia. Hari ketika orang berkumpul, saling mengenal, memperbaiki hubungan, dan memperbarui cara hidup.

Karena itu Idulfitri sejak awal bukan hanya ritual personal, melainkan juga peristiwa sosial. Ada dimensi kebersamaan di dalamnya. Orang kaya dan miskin berdiri dalam satu saf shalat. Takbir menggema tanpa membedakan jabatan, status ekonomi, atau latar belakang sosial. Untuk sesaat, manusia diingatkan bahwa mereka sama-sama rapuh di hadapan Tuhan.

Dalam lanjutan doa itu disebutkan:

وَلِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ ذُخْرًا وَشَرَفًا وَكَرَامَةً وَمَزِيدًا

“Dan Engkau jadikan hari ini sebagai simpanan kemuliaan, kehormatan, dan tambahan kemuliaan bagi Muhammad.”

Baca Juga  Al-Husein dan Kerinduan Manusia Akan Cahaya di Zaman yang Semakin Gelap 

Di sinilah makna Idulfitri menjadi jauh lebih dalam. Hari raya ternyata bukan hanya tentang kebahagiaan umat, tetapi juga tentang menjaga warisan moral Nabi Muhammad saw. Idulfitri seharusnya menjadi momentum yang memperbesar kemuliaan risalah beliau di tengah kehidupan manusia.

Pertanyaannya: kapan Idulfitri benar-benar menjadi kemuliaan bagi Nabi?

Mungkin jawaban yang sangat tajam adalah ketika umat mengikuti arah yang ditunjukkan Nabi. Artinya, kemeriahan Idulfitri tidak ada artinya jika setelah Ramadan manusia kembali pada kerakusan, kebencian, korupsi, kebohongan, dan ketidakadilan.

Di sinilah kritik besar terhadap budaya hari raya modern terasa relevan.

Hari ini Idulfitri sering berubah menjadi festival konsumsi. Orang rela berutang demi tampil mewah saat Lebaran. Nilai manusia diukur dari pakaian baru, makanan berlimpah, atau isi amplop. Bahkan media sosial membuat hari raya terasa seperti panggung pencitraan kebahagiaan.

Padahal Nabi Muhammad datang membawa kesederhanaan dan empati sosial. Dalam Islam, kebahagiaan Idulfitri seharusnya juga dirasakan mereka yang lapar, miskin, dan tersisih. Karena itu sebelum shalat Id, ada zakat fitrah; sebuah simbol bahwa kemenangan spiritual tidak boleh dinikmati sendirian.

Namun yang terjadi hari ini sering sebaliknya. Kita mudah menghabiskan uang untuk dekorasi dan gaya hidup, tetapi sulit berbagi dengan tulus kepada mereka yang membutuhkan. Akibatnya, Idulfitri kehilangan ruh sosialnya dan tinggal menjadi tradisi tahunan tanpa transformasi moral.

Doa qunut Idulfitri sebenarnya juga mengajarkan sesuatu yang sangat penting tentang arah hidup manusia. Di dalamnya terdapat permohonan:

“Ya Allah, masukkan aku ke dalam setiap kebaikan yang Engkau masukkan Muhammad dan keluarganya ke dalamnya, dan jauhkan aku dari setiap keburukan yang Engkau jauhkan mereka darinya.”

Doa ini bukan sekadar permintaan spiritual abstrak. Ia adalah permohonan agar manusia memiliki jalan hidup yang lebih bersih, lebih jujur, dan lebih bermartabat. Dengan kata lain, Idulfitri bukan hanya soal selesai berpuasa, tetapi tentang memilih kembali arah hidup setelah Ramadan.

Baca Juga  Tiga Penyakit yang Membunuh Cinta, Keadilan, dan Kebenaran 

Sayangnya, banyak manusia justru kembali kepada kebiasaan lama segera setelah bulan suci berakhir. Lidah yang selama Ramadan lebih terjaga kembali mudah menyakiti. Tangan yang rajin bersedekah kembali menggenggam terlalu erat. Hati yang sempat lembut kembali keras oleh ambisi dunia.

Mungkin karena itu Idulfitri disebut “fitri”, kembali kepada kesucian asal manusia. Sebab kemenangan terbesar bukan berhasil menahan lapar selama sebulan, tetapi berhasil mempertahankan kejernihan hati setelah Ramadan pergi.

Dalam kehidupan modern yang penuh kompetisi dan tekanan sosial, manusia sering kehilangan ruang untuk memeriksa dirinya sendiri. Kita sibuk mengejar pencapaian, tetapi lupa bertanya: apakah hidup ini membuat kita semakin dekat kepada nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan Nabi?

Idulfitri seharusnya menjadi momen untuk menghidupkan kembali pertanyaan itu.

Sebab inti ajaran Nabi saw bukan sekadar ritual, melainkan pembentukan manusia yang penuh kasih sayang, adil, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Ketika Idulfitri gagal melahirkan manusia semacam itu, maka yang tersisa hanyalah perayaan tanpa jiwa.

Dan mungkin di situlah letak makna paling menyentuh dari doa Idulfitri ini: hari raya bukan tentang seberapa meriah kita merayakannya, tetapi seberapa jauh ia membuat kita kembali mengikuti jejak Nabi.

Karena pada akhirnya, kemuliaan Idulfitri tidak diukur dari gemerlap pakaian baru atau ramainya meja makan, melainkan dari apakah setelah Ramadan manusia benar-benar menjadi lebih manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar