KHAMENEI.ID– Kekuasaan sering kali tidak runtuh karena serangan dari luar. Ia lebih dahulu retak dari dalam, ketika para pemimpinnya mulai hidup dalam dunia yang berbeda dari rakyat yang mereka pimpin. Jarak itu mula-mula hanya tampak dari rumah yang semakin megah, pesta yang semakin meriah, atau iring-iringan kendaraan yang semakin panjang. Namun perlahan, yang sesungguhnya hilang bukan sekadar kesederhanaan, melainkan kasih sayang dan kepercayaan masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa kedekatan seorang pemimpin dengan rakyat bukan hanya ditentukan oleh pidato yang menyentuh atau kebijakan yang berpihak. Ada sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana ia menjalani hidupnya. Dalam Islam, kesederhanaan bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan fondasi moral kepemimpinan.
Rasulullah Muhammad saw adalah teladan paling nyata. Beliau tidak hanya mengajarkan kesederhanaan melalui kata-kata, tetapi menjadikannya sebagai jalan hidup. Imam Ali a.s menggambarkan beliau dengan kalimat yang begitu dalam:
قَدْ حَقَّرَ الدُّنْيَا وَصَغَّرَهَا وَأَهْوَنَ بِهَا وَهَوَّنَهَا
“Beliau memandang dunia ini kecil, merendahkannya, dan tidak memberikan nilai yang berlebihan kepadanya”
Yang dimaksud “dunia” di sini bukan bumi yang kita pijak atau kehidupan yang harus dijalani. Yang diperkecil oleh Rasulullah saw adalah keterikatan pada kenikmatan yang membuat manusia lupa pada tujuan hidup. Beliau tidak memusuhi harta, tetapi menolak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan.
Ada sebuah kisah yang menggambarkan sikap itu dengan sangat sederhana. Suatu ketika Rasulullah saw diberi minuman berupa air yang dicampur madu. Beliau tidak mengatakan bahwa madu itu haram. Beliau hanya memilih tidak meminumnya. “Ini bukan air lagi, bukan pula madu semata,” kira-kira demikian maknanya. Beliau meninggalkan sesuatu yang sepenuhnya halal, bukan karena dilarang, melainkan karena ingin menjaga jarak dari kemewahan yang dapat perlahan menumbuhkan ketergantungan hati.
Di sinilah letak perbedaan antara hidup sederhana dan hidup miskin. Kesederhanaan adalah pilihan sadar. Ia lahir dari kebebasan batin, bukan dari keterpaksaan ekonomi.
Memang, tidak semua orang mampu mencapai derajat spiritual seperti Rasulullah saw. Bahkan Imam Ali a.s yang dikenal sebagai simbol kezuhudan mengakui bahwa kedudukan Nabi saw berada pada tingkatan yang sangat tinggi. Dalam pandangan beliau, Allah sengaja menjauhkan Rasul-Nya dari gemerlap dunia karena telah menyiapkan kenikmatan yang jauh lebih agung.
Inilah rahasia yang sering luput dari pandangan kita. Orang-orang saleh mampu meninggalkan sebagian kenikmatan dunia bukan karena mereka membenci kehidupan, melainkan karena mereka melihat sesuatu yang lebih bernilai daripada semua itu. Mereka tidak kehilangan apa pun; justru mereka menemukan kebebasan yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan.
Namun jika ditarik ke dalam konteks kehidupan modern, pesan ini tidak berhenti pada wilayah spiritual pribadi. Ia berbicara langsung kepada mereka yang memegang amanah publik.
Seorang pejabat mungkin memperoleh fasilitas yang sah menurut aturan. Rumah dinas, kendaraan, perjalanan resmi, hingga berbagai kemudahan lain dapat dibenarkan secara administratif. Akan tetapi, persoalannya bukan semata-mata halal atau tidak halal. Persoalannya adalah apakah semua itu masih menjaga kedekatan emosional dengan rakyat, atau justru menciptakan jurang yang semakin lebar.
Ketika pemimpin mulai menikmati kemewahan sebagai simbol keberhasilan, masyarakat perlahan merasa bahwa pemimpinnya telah pindah ke dunia yang berbeda. Dari situlah kepercayaan mulai terkikis. Rakyat tidak hanya menilai keputusan, tetapi juga menilai cara hidup orang yang mengambil keputusan tersebut.
Ironisnya, perubahan itu sering berlangsung tanpa disadari. Seseorang yang dahulu adalah guru, mahasiswa, dai, atau aktivis sederhana, setelah memegang jabatan mulai terbiasa dengan pesta yang megah, rumah yang berlebihan, dan gaya hidup yang sebelumnya justru ia kritik. Perubahan itu tampak kecil pada awalnya, tetapi lama-kelamaan membentuk budaya baru: budaya kemewahan di sekitar kekuasaan.
Islam memiliki istilah yang sangat tajam untuk menggambarkan keadaan seperti ini, yaitu mutrafin golongan yang tenggelam dalam kemewahan hingga kehilangan kepekaan moral. Al-Qur’an memperingatkan:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, tetapi mereka berbuat durhaka di dalamnya. Maka pantaslah berlaku ketentuan Kami atas negeri itu, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS. Al-Isra’: 16)
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kekayaan. Yang diperingatkan adalah mentalitas kemewahan yang melahirkan kelalaian, kesombongan, dan akhirnya penyimpangan moral. Kemewahan yang tidak dikendalikan bukan hanya mengubah gaya hidup seseorang, tetapi perlahan mengubah cara ia memandang manusia lain.
Di titik inilah kesederhanaan memperoleh makna politik sekaligus moral. Ia bukan pencitraan, bukan pula strategi komunikasi publik. Kesederhanaan adalah cara menjaga hati agar tidak terpisah dari denyut kehidupan masyarakat.
Dalam sejarah Islam, kekuatan seorang pemimpin tidak pernah diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, melainkan dari seberapa sedikit dunia berhasil menguasai dirinya. Jabatan hanyalah amanah yang bersifat sementara. Kemewahan mudah datang bersamanya, tetapi tidak semua orang mampu melepaskan diri dari godaannya.
Barangkali karena itulah warisan terbesar Rasulullah saw bukanlah istana, bukan pula simbol-simbol kemegahan. Yang beliau tinggalkan adalah teladan bahwa pemimpin yang paling dicintai adalah mereka yang tetap hidup bersama rakyat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan tidak membangun tembok kemewahan di antara dirinya dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi sebuah masyarakat bukan semata-mata kemiskinan ekonomi, melainkan ketika para pemimpinnya kehilangan kesederhanaan. Sebab ketika kesederhanaan pergi, empati menyusul hilang. Dan ketika empati lenyap, kepercayaan rakyat perlahan ikut menghilang. Di situlah awal kemunduran sebuah peradaban.







