KHAMENEI.ID– Ada yang lebih berbahaya daripada kekalahan: kemenangan yang membuat manusia lupa diri.
Sejarah berkali-kali menunjukkan paradoks itu. Banyak orang sanggup bertahan dalam penderitaan, tetapi gagal bertahan ketika berhasil. Saat cita-cita tercapai, saat usaha membuahkan hasil, atau ketika kemenangan datang berturut-turut, manusia diam-diam mulai percaya bahwa semua itu adalah hasil kecerdasannya sendiri. Di titik itulah kesombongan tumbuh, sering kali tanpa disadari.
Menariknya, Al-Qur’an justru memberikan pelajaran yang berlawanan dengan naluri manusia. Ketika kemenangan datang, yang diperintahkan bukan pesta, bukan pula euforia yang berlebihan. Yang diminta justru tasbih dan istigfar.
Allah berfirman:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat” (QS. An-Nashr: 1–3)
Perintah itu terasa tidak biasa. Bukankah kemenangan lazimnya dirayakan dengan sorak-sorai? Mengapa justru tasbih dan istigfar?
Jawabannya sederhana sekaligus mendalam. Kemenangan bukanlah panggung untuk membesarkan diri, melainkan saat terbaik untuk mengecilkan ego. Ketika manusia berhasil, ia paling rentan menganggap dirinya sebagai penyebab utama keberhasilan itu. Al-Qur’an mengoreksi kecenderungan tersebut sejak awal. Pertolongan itu disebut nasrullah pertolongan Allah, bukan semata hasil kemampuan manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, kemenangan apa pun sebenarnya selalu melibatkan banyak hal yang berada di luar kuasa kita. Ada kesehatan yang tidak kita ciptakan sendiri, kesempatan yang tidak kita rancang sepenuhnya, orang-orang yang membantu tanpa kita sadari, hingga keadaan yang berpihak di saat yang tepat. Semua itu adalah bagian dari anugerah yang sering luput dihitung.
Karena itulah tasbih menjadi bentuk pengakuan bahwa sumber segala keberhasilan berada di luar diri manusia. Ia adalah latihan batin agar keberhasilan tidak berubah menjadi kesombongan.
Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada tasbih. Setelah memuji Allah, manusia juga diperintahkan beristigfar.
Perintah ini bahkan lebih menggetarkan. Mengapa seseorang harus memohon ampun justru ketika berada di puncak keberhasilan?
Sebab setiap perjuangan, betapapun mulianya, hampir pasti menyisakan kekurangan. Mungkin ada niat yang sempat bergeser, ada ucapan yang melukai orang lain, ada rasa bangga yang muncul sesaat, atau ada hak orang yang belum sepenuhnya tertunaikan. Kemenangan tidak otomatis berarti perjalanan itu bebas dari cacat.
Istigfar adalah kesadaran bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk memperbaiki diri. Semakin besar keberhasilan, semakin besar pula kebutuhan untuk mengoreksi hati.
Gagasan ini kemudian menyentuh pelajaran yang lebih mendasar tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam Surah Al-Anfal, Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw:
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ
“Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar” (QS. Al-Anfal: 17)
Ayat ini tidak menafikan usaha manusia. Nabi a.s tetap melempar. Tangan beliau tetap bergerak. Ikhtiar tetap dilakukan. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa efektivitas sebuah usaha tetap bergantung pada kehendak Allah. Manusia bekerja, tetapi hasil akhirnya bukan sepenuhnya miliknya.
Kesadaran seperti inilah yang melahirkan kerendahan hati. Orang yang memahami hakikat ini tidak akan mudah mabuk kemenangan, sebab ia tahu bahwa dirinya hanyalah bagian dari rangkaian sebab yang jauh lebih besar.
Di zaman sekarang, pelajaran ini terasa semakin relevan. Budaya modern sering mengagungkan pencapaian pribadi. Kesuksesan dipamerkan di media sosial, prestasi dijadikan identitas, sementara kegagalan dianggap aib yang harus disembunyikan. Sedikit demi sedikit lahirlah ilusi bahwa manusia adalah pencipta mutlak nasibnya sendiri.
Padahal sejarah selalu menunjukkan betapa rapuhnya keberhasilan yang dibangun di atas kesombongan. Banyak organisasi runtuh karena merasa tak terkalahkan. Banyak pemimpin kehilangan arah karena terlalu percaya pada dirinya. Bahkan banyak individu kehilangan kebijaksanaan justru setelah memperoleh apa yang selama ini mereka impikan.
Kesombongan hampir tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dimulai dari keyakinan kecil bahwa “semua ini karena aku.”
Karena itu, Imam Sajjad a.s dalam Sahifah Sajjadiyah memanjatkan doa yang sangat menyentuh:
فَأَمَّا أَنْتَ يَا إِلَهِي فَأَهْلٌ أَنْ لَا يَغْتَرَّ بِكَ الصِّدِّيقُونَ، وَلَا يَيْأَسَ مِنْكَ الْمُجْرِمُونَ
“Ya Tuhanku, Engkau layak sehingga orang-orang yang paling benar sekalipun tidak menjadi sombong karena rahmat-Mu, dan orang-orang yang berdosa tidak berputus asa dari rahmat-Mu”
Doa ini menghadirkan keseimbangan yang indah. Orang saleh tidak boleh merasa aman dari ujian kesombongan, sementara orang yang banyak dosa tidak boleh kehilangan harapan kepada kasih sayang Allah. Di hadapan-Nya, tidak ada ruang bagi keangkuhan, tetapi juga tidak ada alasan untuk berputus asa.
Barangkali inilah salah satu ukuran kedewasaan spiritual yang paling sulit dicapai: tetap rendah hati ketika dipuji, tetap bersyukur ketika berhasil, dan tetap merasa membutuhkan ampunan ketika orang lain menganggap kita telah mencapai puncak.
Kemenangan sejati ternyata bukan sekadar mengalahkan lawan, memenangkan kompetisi, atau mencapai target yang diimpikan. Kemenangan terbesar adalah ketika keberhasilan tidak mengubah hati menjadi angkuh. Sebab pada akhirnya, yang paling berbahaya bukanlah kegagalan, melainkan keberhasilan yang membuat manusia lupa kepada Sang Pemberi keberhasilan.







