Sunatullah: Hukum Tuhan yang Mengubah Sejarah

KHAMENEI.ID– Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang menang. Namun, ada saat-saat ketika sejarah justru lahir karena sesuatu yang tidak pernah diperkirakan siapa pun. Revolusi, kebangkitan sebuah bangsa, atau runtuhnya kekuasaan yang tampak begitu kokoh, kerap muncul di luar kalkulasi para ahli politik dan pengamat. Seolah ada hukum lain yang bekerja di balik peristiwa-peristiwa besar itu yaitu sebuah hukum yang tidak selalu dapat dibaca dengan statistik, senjata, atau peta kekuatan.

Dalam Islam, hukum itu dikenal sebagai sunatullah: ketetapan Allah yang mengatur perjalanan alam semesta, termasuk perjalanan manusia dan masyarakat. Ia bukan sekadar konsep teologis, melainkan prinsip yang bekerja sebagaimana hukum gravitasi. Bedanya, jika gravitasi mengatur benda-benda langit dan bumi, sunatullah mengatur jatuh bangunnya peradaban.

Sering kali manusia hanya percaya pada sesuatu yang dapat diukur. Kekuatan militer, besarnya anggaran, kecanggihan teknologi, atau dominasi media dianggap sebagai penentu kemenangan. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa semua itu tidak selalu menjadi faktor terakhir.

Ada masa ketika sebuah rezim tampak begitu mustahil untuk digoyahkan. Seluruh perangkat kekuasaan berada di tangannya. Aparat keamanan, dukungan negara-negara besar, kekuatan ekonomi, hingga mesin propaganda bekerja serempak menjaga status quo. Secara logika politik, perubahan hampir mustahil terjadi.

Namun kenyataannya, sesuatu yang mustahil itu benar-benar terjadi.

Di titik inilah Al-Qur’an memperkenalkan cara pandang yang berbeda terhadap sejarah. Allah berfirman:

سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلُ ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا

“Itulah sunatullah yang berlaku bagi orang-orang terdahulu. Dan ketetapan Allah itu telah ditetapkan dengan pasti” (QS. Al-Ahzab: 38)

Pada ayat lain ditegaskan:

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Baca Juga  Taqwa di Ruang Kekuasaan: Mengapa Politik Kehilangan Nurani?

“Itulah sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah itu” (QS. Al-Fath: 23)

Ayat-ayat ini mengajak manusia melihat bahwa kehidupan sosial pun memiliki hukum-hukum tetap. Sebagaimana api membakar karena sifatnya memang demikian, kemenangan dan kekalahan sebuah masyarakat pun memiliki sebab-sebab yang telah ditetapkan Allah. Hanya saja, sebab itu tidak selalu bersifat material.

Dalam konteks yang lebih luas, sunatullah mengajarkan bahwa pertolongan Tuhan bukanlah keajaiban yang datang tanpa syarat. Ia bekerja melalui sebab-sebab yang harus dihadirkan manusia sendiri. Seperti seseorang yang menginginkan api menyala; ia harus lebih dahulu menyalakan pemantik, menyediakan kayu kering, dan menciptakan kondisi yang memungkinkan api bekerja. Setelah sebab itu tersedia, hukum alam akan berjalan dengan sendirinya.

Begitu pula dengan pertolongan Ilahi.

Allah tidak menjanjikan kemenangan kepada siapa saja hanya karena mereka mengaku beriman. Yang dijanjikan adalah kemenangan bagi mereka yang menghadirkan syarat-syaratnya: kejujuran, keteguhan, kesabaran, keberanian, dan kesediaan berkorban.

Gagasan ini menemukan penegasan yang indah dalam ucapan Imam Ali a.s di Nahjul Balaghah:

فَلَمَّا رَأَى اللَّهُ صِدْقَنَا أَنْزَلَ بِعَدُوِّنَا الْكَبْتَ وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا النَّصْرَ

“Ketika Allah melihat ketulusan kami, Dia menimpakan kehinaan kepada musuh kami dan menurunkan kemenangan kepada kami”

Kalimat itu sangat singkat, tetapi menyimpan sebuah hukum yang amat dalam. Kata kuncinya bukan kemenangan, melainkan ketulusan. Bukan jumlah pasukan, bukan besarnya kekuatan, melainkan kejujuran dalam memperjuangkan kebenaran.

Di sinilah letak perbedaan antara pandangan material dan pandangan tauhid terhadap sejarah. Pandangan material berhenti pada apa yang tampak oleh mata. Sebaliknya, Al-Qur’an mengajak manusia melihat lapisan yang lebih dalam: ada hukum Allah yang bekerja di balik seluruh sebab-sebab lahiriah.

Baca Juga  Ketika Tuhan Memuliakan Amal Kecil: Rahasia Rahmat dalam Ibadah

Bukan berarti Islam menolak strategi, kekuatan ekonomi, atau kemampuan teknologi. Semua itu tetap penting. Namun semuanya hanyalah alat. Tanpa fondasi moral dan spiritual, alat-alat itu kehilangan ruhnya. Sebaliknya, ketika sebuah masyarakat membangun kejujuran, kesatuan, kesabaran, dan keberanian, mereka sedang menyiapkan lahan bagi bekerjanya sunatullah.

Persoalan inilah yang sering dilupakan ketika melihat besarnya tantangan zaman. Kita mudah merasa kecil ketika berhadapan dengan kekuatan global, dominasi media, tekanan ekonomi, atau propaganda yang seolah tidak pernah berhenti. Ketakutan itu lahir karena perhatian kita hanya tertuju pada besarnya lawan, sementara kita lupa pada hukum yang mengendalikan jalannya sejarah.

Padahal musuh yang kuat bukanlah fenomena baru. Sejak zaman para nabi, selalu ada kekuatan yang tampak jauh lebih besar daripada mereka yang memperjuangkan kebenaran. Yang membedakan hasil akhirnya bukan semata-mata keseimbangan kekuatan, melainkan apakah syarat-syarat pertolongan Allah telah benar-benar diwujudkan.

Di titik ini, sunatullah menjadi pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan modern. Ia mengajarkan bahwa perubahan sosial tidak dimulai dari menunggu mukjizat, melainkan dari memperbaiki kualitas manusia. Integritas lebih dahulu daripada kemenangan. Keteguhan lebih dahulu daripada hasil. Kesetiaan kepada nilai lebih dahulu daripada keberhasilan politik.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar lawan yang kita hadapi. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: sudahkah kita menghadirkan sebab-sebab yang membuat hukum Allah bekerja?

Jika jawabannya belum, maka yang perlu diperbaiki bukanlah sunatullah, melainkan diri kita sendiri.

Sejarah pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling kuat. Ia adalah kisah tentang siapa yang paling mampu menyelaraskan dirinya dengan hukum-hukum Allah yang tidak pernah berubah. Ketika syarat itu terpenuhi, sesuatu yang tampak mustahil dapat menjadi kenyataan. Dan ketika syarat itu diabaikan, sebesar apa pun kekuatan yang dimiliki, ia perlahan akan kehilangan pijakannya.

Baca Juga  Mereka yang Diam-Diam Menjadi Sebab Datangnya Pertolongan 

Itulah sebabnya, sunatullah bukan sekadar konsep keagamaan. Ia adalah hukum kehidupan yang terus bekerja diam, pasti, dan tidak pernah keliru.

Bagikan:
Terkait
Komentar