Ada satu jenis kritik yang paling sulit diterima manusia: kritik tentang dirinya sendiri. Kita bisa mendengar ceramah tentang keserakahan, iri hati, kemunafikan, atau kesombongan dengan wajah tenang selama kita merasa semua itu sedang membicarakan orang lain. Tapi begitu cermin diarahkan tepat ke wajah kita, kita mulai gelisah.
Barangkali itulah mengapa sebuah hadis kuno ini terasa begitu mengganggu. Ia tidak datang dengan ancaman neraka yang meledak-ledak. Tidak pula dengan bahasa hukum yang keras. Ia justru terdengar seperti keluhan yang tenang, tapi menusuk.
يَا ابنَ آدَمَ ما تُنصِفُنی
“Wahai anak Adam, engkau tidak berlaku adil kepada-Ku.”
Kalimat itu seperti teguran yang lahir dari hubungan yang terlalu lama diabaikan. Tuhan, dalam hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw melalui Imam Ali as, seolah sedang berbicara langsung kepada manusia yang sibuk merasa benar. Manusia yang terus meminta, tetapi lupa berterima kasih. Manusia yang menikmati hidup, tetapi diam-diam memusuhi sumber kehidupan itu sendiri.
Di zaman modern, ketidakadilan manusia kepada Allah Ta’ala mungkin tidak lagi tampak dalam bentuk penolakan terbuka. Ia hadir lebih halus. Dalam hidup yang terlalu penuh distraksi. Dalam ibadah yang mekanis. Dalam rasa cukup yang perlahan mengusir rasa bergantung kepada Yang Maha Kuasa.
Padahal, seperti disebut dalam hadis itu, hubungan Tuhan dengan manusia justru dibangun lewat kelembutan.
اَتَحَبَّبُ اِلَیکَ بِالنِّعَمِ وَ تَتَمَقَّتُ اِلَیَّ بِالمَعاصی
“Aku mendekatimu dengan nikmat-nikmat, tetapi engkau membalas-Ku dengan maksiat.”
Ada ironi besar dalam kehidupan manusia: kita sering kali baru sadar nilai sesuatu ketika ia hilang. Napas, misalnya. Sesuatu yang begitu rutin sampai hampir tak pernah disyukuri. Padahal tanpa satu tarikan udara saja, seluruh ambisi manusia runtuh dalam hitungan detik.
Kesehatan, penglihatan, kemampuan berpikir, kesempatan mencintai, bahkan kemampuan untuk tidur tenang, semuanya datang tanpa pernah kita beli. Tidak ada tagihan yang dikirim setiap pagi untuk udara yang kita hirup. Tidak ada kontrak yang memaksa jantung terus berdetak sepanjang malam. Semua berjalan diam-diam, nyaris tanpa suara.
Namun manusia punya bakat aneh: terbiasa dengan mukjizat.
Karena terlalu sering menerima, kita mulai merasa semua itu wajar. Dari situlah lahir kesombongan kecil yang perlahan membesar. Kita merasa hidup berdiri di atas kemampuan sendiri. Merasa sukses adalah hasil kerja keras semata. Merasa bisa mengendalikan segalanya.
Lalu, ketika larangan Tuhan datang tentang dusta, iri hati, kerakusan, pengkhianatan, atau kesombongan, manusia sering memperlakukannya seperti gangguan terhadap kebebasan pribadi. Seolah Tuhan terlalu banyak mengatur.
Padahal hadis itu menyebutnya secara gamblang: مَقت yang berarti Permusuhan.
Bukan karena manusia membenci Tuhan secara langsung, melainkan karena ia terus menikmati pemberian-Nya sambil menolak kehendak-Nya.
Yang lebih menarik, hadis ini tidak berhenti pada dosa-dosa besar. Ia justru menyinggung hal-hal yang tampak remeh, tetapi memenuhi keseharian manusia modern. Cara bicara. Cara memandang orang lain. Cara mendengar. Perasaan-perasaan tersembunyi yang tak pernah masuk pengadilan, tetapi diam-diam mengotori batin.
Sifat hasud ketika melihat keberhasilan orang lain. Kebencian yang dipelihara diam-diam. Kebenaran yang sengaja diabaikan demi kenyamanan kelompok. Kepura-puraan dalam ibadah. Semua itu, menurut hadis tersebut, terus “naik” ke langit setiap hari.
خَیری عَلَیکَ نازِلٌ وَ شَرُّکَ اِلَیَّ صاعِدٌ
“Kebaikan-Ku senantiasa turun kepadamu, sementara keburukanmu juga senantiasa naik kepada-Ku.”
Kalimat itu terasa seperti potret hubungan yang timpang. Dari satu sisi turun rahmat tanpa henti. Dari sisi lain naik kekeliruan tanpa jeda.
Tetapi bagian paling menghantam justru datang setelahnya.
Hadis itu mengatakan: jika suatu hari kita mendengar seluruh sifat buruk kita diceritakan tentang orang lain; tentang cara kita bicara, cara kita beribadah, kepalsuan kita, ego kita, maka kemungkinan besar kita sendiri akan membenci orang itu.
Betapa sering manusia menjadi hakim paling keras terhadap dosa yang diam-diam ia simpan sendiri.
Kita mudah muak pada orang riya, tetapi diam-diam menikmati pujian. Kita kesal melihat kemunafikan, tetapi terus memakai topeng sosial agar tampak baik. Kita marah pada kebohongan publik, sambil memelihara kebohongan-kebohongan kecil dalam kehidupan pribadi.
Di media sosial, misalnya, manusia modern hidup dalam ruang pencitraan tanpa akhir. Orang berlomba terlihat saleh, bijak, peduli, sederhana, atau intelektual. Kadang bukan untuk menjadi semua itu, melainkan untuk dianggap demikian.
Hadis ini seperti membongkar seluruh panggung itu.
Ia memaksa manusia bercermin tanpa filter.
Lalu datang nasihat terakhir dan mungkin yang paling relevan di zaman penuh kemarahan ini.
یَا ابنَ آدَمَ اذکُرنی حینَ تَغضَبُ
“Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika engkau marah.”
Kemarahan hari ini telah menjadi industri. Media sosial hidup dari amarah. Politik dipelihara oleh kemarahan. Percakapan publik dibangun di atas penghinaan cepat dan penghakiman instan. Orang tidak lagi sekadar berbeda pendapat; mereka ingin saling menghancurkan.
Dalam keadaan marah, manusia merasa paling benar dan paling suci. Di titik itu, ia mudah melampaui batas: menghina, memfitnah, memutus hubungan, bahkan merusak hidup orang lain hanya demi melampiaskan emosi sesaat.
Karena itu nasihat hadis ini terasa sangat manusiawi. Ingat Tuhan ketika marah. Bukan untuk mematikan emosi, tetapi agar kemarahan tidak berubah menjadi kehancuran.
Hadis itu lalu ditutup dengan kalimat yang sunyi sekaligus menenangkan:
“Ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku murka.”
Seolah Tuhan sedang berkata: bahkan di saat paling burukmu, pintu itu belum tertutup sepenuhnya.
Mungkin manusia memang tidak pernah benar-benar mampu membalas seluruh nikmat Tuhan dengan adil. Mungkin kita terlalu rapuh, terlalu mudah lupa, terlalu mudah tergoda oleh diri sendiri.
Tetapi barangkali inti hadis ini bukan tentang rasa bersalah yang tak berujung. Melainkan tentang kesediaan untuk jujur melihat diri sendiri. Tentang keberanian mengakui bahwa sering kali masalah terbesar manusia bukan kurangnya nikmat, melainkan hilangnya kesadaran.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk kembali mengingat Tuhan terutama saat marah, sombong, dan merasa paling benar adalah bentuk kewarasan spiritual yang paling langka hari ini.
Baca Juga:
Ketika “Aku” Menggeser “Tuhan”: Titik Paling Sunyi dari Sebuah Penyimpangan
Menelusuri Cinta, Rahasia, dan Keteladanan dalam Islam dalam Diri Fathimah







