KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa tidak lagi cukup hanya bertahan. Ia harus memilih. Memilih apakah akan tetap berjalan dalam bayang-bayang perpecahan, atau menemukan kembali kekuatan yang pernah membuatnya berdiri tegak. Bagi dunia Islam, pilihan semacam itu bukan sekadar urusan politik. Ia menyangkut martabat, masa depan, bahkan cara sebuah umat memandang dirinya sendiri.
Dalam konteks itulah gagasan tentang persatuan menjadi penting. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw bukan semata-mata perayaan sejarah tentang seorang manusia yang lahir berabad-abad silam. Ia dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: apa yang sebenarnya diwariskan Nabi saw kepada umatnya ketika dunia Islam hari ini masih bergulat dengan konflik, ketimpangan, tekanan politik, dan pertikaian di antara sesama?
Al-Quran menggambarkan kedekatan Nabi saw dengan penderitaan umat melalui ayat yang sangat manusiawi:
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami; ia sangat menginginkan kebaikan bagi kalian dan penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman” (QS. At-Taubah: 128)
Ayat itu menghadirkan Nabi saw bukan sebagai sosok yang jauh dari kegelisahan manusia, melainkan sebagai pemimpin yang penderitaan umatnya terasa sebagai penderitaan dirinya sendiri. Karena itu, membicarakan Nabi saw berarti pula membicarakan nasib umat yang ditinggalkannya.
Di titik ini, peringatan kelahiran Nabi saw dapat dibaca lebih jauh daripada seremoni. Ia menjadi cermin bagi dunia Islam. Sejarah telah memperlihatkan berbagai pasang-surut: kejayaan, kemunduran, penjajahan, konflik, kebangkitan, lalu kembali pada persoalan yang sama. Namun ada satu pertanyaan yang terus berulang: apakah umat Islam mampu mengenali kekuatannya sendiri?
Jawabannya sangat bergantung pada mereka yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Para pemimpin politik, ulama, intelektual, akademisi, budayawan, penulis, dan tokoh masyarakat bukan sekadar pengamat keadaan. Mereka mempunyai kemampuan untuk menentukan ke mana perhatian publik diarahkan. Mereka dapat memperlebar jurang, tetapi juga dapat membangun jembatan.
Masalahnya, perpecahan sering kali terasa lebih mudah daripada persatuan. Perbedaan mazhab, etnis, bangsa, kepentingan politik, bahkan tafsir keagamaan dapat berubah menjadi alasan untuk saling curiga. Ketika itu terjadi, energi umat habis untuk bertengkar dengan tetangga sendiri, sementara persoalan yang jauh lebih besar luput dari perhatian.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah bahaya terbesar dari keterpecahan: bukan hanya membuat umat lemah, tetapi juga membuatnya kehilangan kemampuan untuk menentukan agenda sendiri. Konflik internal dapat membuat sebuah masyarakat terus-menerus bereaksi terhadap keadaan tanpa pernah benar-benar menjadi penentu arah sejarahnya.
Persoalan Palestina menjadi salah satu gambaran paling menyakitkan. Ketika sebuah bangsa menghadapi tekanan dan penderitaan, dukungan dunia Islam semestinya tidak berhenti pada simpati. Persatuan, dalam pengertian yang lebih substantif, berarti keberanian menempatkan penderitaan manusia di atas kepentingan sempit dan kalkulasi politik jangka pendek.
Namun persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Dunia Islam terlalu luas dan terlalu beragam untuk dipaksa menjadi seragam. Persatuan justru membutuhkan kedewasaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Sunni dan Syiah, berbagai bangsa dan kelompok, tidak harus memiliki semua pandangan yang sama untuk dapat berdiri pada titik yang sama ketika martabat manusia, keadilan, dan kemerdekaan dipertaruhkan.
Karena itu, penghinaan terhadap Nabi saw memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar persoalan perasaan keagamaan. Bagi jutaan Muslim, Nabi saw adalah titik emosional yang mempertemukan identitas mereka yang beragam. Ia adalah figur yang dicintai melampaui batas negara, bahasa, dan mazhab. Ketika cinta itu dirawat, ia dapat menjadi sumber persaudaraan. Sebaliknya, ketika perbedaan dibiarkan menjadi alasan untuk saling menuduh dan mengeluarkan satu sama lain dari lingkaran agama, titik temu itu justru berubah menjadi sumber konflik.
Di sinilah tanggung jawab para pemimpin dan intelektual menjadi berat. Kata-kata mereka tidak pernah benar-benar netral. Sebuah pidato dapat menenangkan ketegangan atau menyalakan kebencian. Sebuah tulisan dapat mempertemukan manusia yang berbeda atau membuat mereka saling memandang sebagai musuh.
Maka seruan persatuan bukanlah ajakan untuk menutup mata terhadap perbedaan. Ia adalah ajakan untuk mengetahui mana perbedaan yang harus dibicarakan dengan ilmu dan mana perselisihan yang justru sedang dimanfaatkan oleh mereka yang ingin melihat umat terus terpecah.
Dunia Islam tidak membutuhkan ajakan untuk mencari musuh baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengenali harga dirinya sendiri. Mengenali sejarah, warisan intelektual, kebudayaan, dan kekuatan masyarakatnya. Kesadaran semacam itu bukan seruan untuk memusuhi dunia, melainkan penolakan terhadap mentalitas yang membuat sebuah umat merasa selalu lebih rendah dan selalu harus menerima keadaan sebagai sesuatu yang tak dapat diubah.
Namun perubahan tidak datang dalam sehari. Kemajuan adalah pekerjaan panjang. Persatuan pun bukan hasil dari satu pertemuan atau satu pekan peringatan. Ia dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang terus diulang: menahan diri dari kebencian, menolak provokasi, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.
Mungkin inilah makna paling penting dari sebuah peringatan kelahiran Nabi saw. Ia tidak terutama meminta kita menoleh ke masa lalu, melainkan menguji bagaimana kita memperlakukan masa depan.
Sebab sebuah umat tidak kehilangan masa depannya hanya ketika kalah dalam perang. Ia juga dapat kehilangannya ketika para pemimpinnya terlambat menyadari keadaan, ketika kaum terdidiknya sibuk dengan pertengkaran, dan ketika masyarakatnya lupa bahwa perbedaan tidak harus berakhir menjadi permusuhan.
Pada akhirnya, persatuan bukan sekadar slogan. Ia adalah pilihan sejarah. Dan setiap zaman memiliki saat ketika pilihan itu harus dibuat. Boleh jadi, pertanyaan yang paling layak diajukan pada dunia Islam hari ini bukan seberapa besar kekuatannya, melainkan apakah ia cukup dewasa untuk menggunakan kekuatan itu bersama-sama.







