Semakin Dihormati, Semakin Rendah Hati: Jalan Melawan Kesombongan

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang kerap luput kita sadari. Ketika seseorang mulai dihormati, justru pada saat itulah ia menghadapi ujian yang paling sunyi. Bukan lagi ujian kemiskinan, keterbatasan, atau penolakan, melainkan godaan yang jauh lebih halus: merasa dirinya memang pantas berada di atas orang lain.

Penghormatan memang menyenangkan. Pujian terasa menghangatkan hati. Jabatan menghadirkan wibawa. Popularitas membuat seseorang mudah didengar. Namun semua itu menyimpan jebakan yang sering kali tidak disadari. Sedikit demi sedikit, seseorang mulai memandang dirinya melalui tepuk tangan orang lain. Ia merasa lebih penting, lebih benar, bahkan lebih mulia daripada mereka yang dahulu berjalan bersamanya.

Di situlah kesombongan lahir. Bukan selalu dalam bentuk ucapan yang kasar atau tindakan yang angkuh, melainkan dalam bisikan yang sangat halus: “Aku berbeda. Aku lebih tinggi”

Padahal, dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang yang mengagumi kita. Yang menjadi ukuran adalah sejauh mana hati tetap tunduk ketika dunia sedang mengangkat nama kita.

Imam Ali Zainal Abidin a.s memberikan pelajaran yang sangat mendalam dalam Doa Makarimul Akhlak di dalam Sahifah Sajjadiyah. Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ لَا تَرْفَعْنِي فِي النَّاسِ دَرَجَةً إِلَّا حَطَطْتَنِي عِنْدَ نَفْسِي

“Ya Allah, janganlah Engkau mengangkat derajatku di hadapan manusia, kecuali Engkau membuatku semakin rendah dalam pandanganku terhadap diriku sendiri.”

Doa ini terasa paradoksal. Bukankah setiap orang berharap dihormati? Mengapa justru memohon agar dirinya dipandang kecil oleh dirinya sendiri?

Jawabannya terletak pada cara Islam memandang hati manusia. Pengakuan dari orang lain adalah sesuatu yang berada di luar kendali kita. Hari ini seseorang dipuji, besok ia bisa dilupakan. Hari ini dielu-elukan, esok mungkin dicela. Jika harga diri dibangun di atas penilaian manusia, maka hidup akan terus bergantung pada sesuatu yang rapuh.

Baca Juga  Bekerja dengan Sepenuh Hati: Mengapa Islam Memuliakan Profesionalisme

Karena itu, Imam Sajjad a.s mengajarkan keseimbangan yang indah. Tidak ada larangan menerima penghormatan jika memang datang secara wajar. Yang harus dijaga adalah jangan sampai penghormatan itu mengubah cara kita memandang diri sendiri.

Di titik ini, kerendahan hati bukan berarti merendahkan kemampuan atau menolak kenyataan bahwa seseorang memiliki prestasi. Tawadhu bukanlah berpura-pura tidak bisa atau menolak tanggung jawab. Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa semua kelebihan hanyalah titipan. Ilmu bisa hilang, jabatan bisa dicabut, kesehatan dapat berubah, dan nama besar suatu hari akan tinggal sebagai kenangan.

Kesadaran semacam ini membuat seseorang tetap tenang ketika dipuji dan tidak hancur ketika dicela.

Dalam konteks yang lebih luas, penyakit kesombongan justru sering tumbuh di tengah orang-orang yang memiliki misi mulia. Aktivis sosial, tokoh agama, pemimpin organisasi, akademisi, bahkan mereka yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat tidak kebal terhadap godaan ini. Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula peluang munculnya rasa istimewa.

Ketika orang berdiri menyambut kedatangannya, ketika namanya diteriakkan dalam sebuah forum, ketika setiap pendapatnya selalu dianggap benar, perlahan ia dapat terperangkap dalam ilusi bahwa dirinya memang lebih tinggi daripada orang lain.

Padahal penghormatan itu sesungguhnya adalah ujian.

Orang-orang mungkin menghormati jabatan, bukan pribadi. Mereka mungkin menghargai amanah yang sedang dipikul, bukan karena pemilik amanah itu lebih suci daripada manusia lain. Jika perbedaan ini tidak disadari, kesombongan akan tumbuh tanpa terasa.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang sangat relevan di era media sosial. Hari ini, ukuran keberhasilan sering dihitung melalui jumlah pengikut, tanda suka, tayangan, atau komentar yang memuji. Perlahan-lahan identitas seseorang dibangun oleh angka-angka digital. Semakin banyak apresiasi, semakin tinggi pula rasa percaya dirinya.

Baca Juga  Sejarah Revolusi: Ketika Gagasan Diuji oleh Kenyataan

Tidak sedikit orang akhirnya merasa dirinya lebih bernilai hanya karena lebih dikenal.

Padahal dunia digital hanyalah cermin yang mudah berubah. Algoritma berganti, perhatian publik berpindah, dan ketenaran dapat menghilang secepat ia datang. Jika hati ikut naik bersama popularitas, maka ia akan jatuh ketika popularitas itu memudar.

Karena itu, doa Imam Sajjad a.s terasa semakin relevan pada zaman ini. Beliau seolah mengajarkan agar ada dua gerakan yang berjalan bersamaan. Ketika Allah meninggikan posisi seseorang di mata manusia, pada saat yang sama hati justru semakin tunduk kepada-Nya. Semakin besar amanah, semakin besar rasa takut untuk menyalahgunakannya. Semakin luas pengaruh, semakin dalam kesadaran bahwa semua itu hanyalah pinjaman yang suatu hari akan diminta kembali.

Mungkin inilah rahasia mengapa orang-orang besar dalam sejarah justru dikenal karena kerendahan hatinya. Mereka tidak sibuk mempertahankan citra sebagai manusia istimewa. Mereka lebih sibuk mengoreksi diri daripada mengoreksi orang lain. Mereka tidak silau oleh pujian, karena tahu bahwa pujian sering kali lebih berbahaya daripada kritik.

Pada akhirnya, ukuran sejati seseorang bukanlah seberapa tinggi ia diangkat oleh manusia, melainkan seberapa rendah ia mampu menempatkan dirinya di hadapan Tuhan. Sebab, semakin tinggi pohon menjulang, semakin dalam akar harus menghunjam ke tanah. Demikian pula manusia. Semakin besar penghormatan yang diterimanya, semakin besar pula kebutuhan untuk merawat kerendahan hati.

Barangkali itulah makna terdalam dari doa Imam Sajjad a.s: bukan meminta agar manusia berhenti menghormati kita, melainkan memohon agar hati tidak pernah ikut meninggi. Sebab kehormatan yang paling aman bukanlah ketika nama kita dikenal banyak orang, melainkan ketika jiwa tetap merasa kecil di hadapan Allah.

Baca Juga  Ketika Keadilan Mengalir dari Puncak Kekuasaan
Bagikan:
Terkait
Komentar