Mengapa Duduk Bersama Ulama Masih Penting di Zaman Serba Instan?

KHAMENEI.ID– Ada ironi yang pelan-pelan menjadi ciri zaman kita. Pengetahuan semakin mudah diakses, tetapi kebijaksanaan terasa semakin sulit ditemukan. Dalam hitungan detik, seseorang bisa memperoleh ribuan artikel, ceramah, atau video pendek tentang agama. Namun, kemudahan itu tidak selalu melahirkan kedalaman. Kita mengetahui banyak hal, tetapi sering kehilangan kemampuan untuk memahami mana yang benar-benar layak diyakini.

Di tengah banjir informasi itulah, ada satu tradisi lama yang justru semakin relevan: duduk bersama orang-orang berilmu. Bukan sekadar mendengar ceramah atau mengumpulkan pengetahuan, melainkan membangun kedekatan dengan mereka yang hidupnya ditempa oleh ilmu, akhlak, dan pengalaman spiritual. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dalam peradaban Islam sejak awal, karena ilmu bukan hanya dipindahkan melalui buku, tetapi juga melalui pergaulan.

Keimanan yang kokoh tidak lahir hanya dari hafalan atau argumentasi. Ia tumbuh melalui proses yang panjang: membaca, berpikir, berdialog dan menyaksikan bagaimana ilmu itu menjelma menjadi karakter. Karena itulah, memperkuat fondasi keyakinan menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai, terutama bagi generasi muda yang setiap hari berhadapan dengan berbagai ide, pandangan hidup, dan godaan untuk menerima segala sesuatu tanpa proses penyaringan.

Di titik ini, belajar tidak cukup dilakukan sendirian. Ada nilai yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang hadir di tengah orang-orang yang telah lebih dahulu menempuh perjalanan ilmu. Dari mereka, seseorang belajar cara bertanya, cara meragukan sesuatu secara sehat, sekaligus cara menemukan jawaban tanpa kehilangan kerendahan hati.

Tradisi Islam menyimpan pengingat yang sangat menyentuh mengenai hal ini. Dalam Doa Abu Hamzah ats-Tsumali, Imam Sajjad a.s mengungkapkan sebuah munajat yang sarat makna:

لَعَلَّكَ فَقَدْتَنِي مِنْ مَجَالِسِ الْعُلَمَاءِ

Baca Juga  Hamzah Sang Syuhada: Ketika Kesetiaan kepada Tuhan Lebih Panjang dari Usia

“Mungkin Engkau mendapati aku tidak hadir dalam majelis-majelis para ulama”

Kalimat itu muncul sebagai salah satu kemungkinan penyebab mengapa seorang hamba merasa sulit merasakan nikmatnya berdoa dan kedekatan kepada Allah. Menariknya, penyebab yang disebut bukan semata-mata karena kurangnya ibadah, melainkan karena seseorang menjauh dari lingkungan orang-orang berilmu.

Pesan ini terasa sangat dalam. Barangkali kekeringan spiritual tidak selalu disebabkan oleh banyaknya dosa besar. Bisa jadi, ia berawal dari keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele: berhenti belajar, enggan menghadiri majelis ilmu, merasa sudah cukup memahami agama, atau lebih memilih menghabiskan waktu bersama arus informasi yang dangkal daripada berdialog dengan mereka yang memiliki kedalaman pandangan.

Tentu, yang dimaksud ulama di sini tidak terbatas pada mereka yang mengenakan pakaian keagamaan tertentu. Yang lebih penting adalah sosok yang menguasai ilmu agama, memiliki integritas moral, dan mampu membimbing manusia menuju pemahaman yang lebih jernih. Mereka adalah orang-orang yang kehadirannya membuat ilmu terasa hidup, bukan sekadar menjadi kumpulan teori.

Dalam konteks yang lebih luas, pergaulan memiliki pengaruh yang jauh melampaui apa yang sering kita sadari. Cara berpikir, cara memandang kehidupan, bahkan standar benar dan salah sering kali terbentuk oleh lingkungan tempat kita menghabiskan waktu. Karena itu, memilih lingkungan intelektual dan spiritual sesungguhnya adalah memilih arah perjalanan hidup.

Hal ini menjadi semakin penting bagi mahasiswa dan generasi muda. Dunia kampus adalah ruang yang dipenuhi pertukaran gagasan, kritik, dan berbagai ideologi. Semua itu merupakan bagian yang wajar dari proses berpikir. Namun, keterbukaan intelektual hanya akan menjadi kekuatan jika ditopang oleh fondasi keimanan yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, seseorang mudah terombang-ambing oleh setiap gagasan baru yang terdengar menarik, meskipun belum tentu benar.

Baca Juga  Kemuliaan Manusia dalam Islam: Mengembalikan Martabat yang Sering Terlupakan

Membangun fondasi itu membutuhkan lebih dari sekadar membaca buku. Membaca membuka cakrawala, tetapi berdialog dengan orang-orang berilmu mengajarkan cara memahami apa yang dibaca. Pengalaman mereka menjadi jembatan antara teori dan kenyataan. Dari mereka pula, kita belajar bahwa ilmu tidak hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan, kesabaran, dan keberanian untuk mengakui keterbatasan diri.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih besar: kualitas masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang menjadi rujukan ilmunya. Ketika tokoh yang dihormati adalah mereka yang memiliki kedalaman ilmu dan akhlak, masyarakat akan tumbuh dengan orientasi yang sehat. Sebaliknya, jika ketenaran lebih dihargai daripada keilmuan, maka opini akan lebih mudah mengalahkan kebenaran.

Karena itu, memperkuat keyakinan bukan hanya urusan pribadi. Ia berkaitan dengan kemampuan berpikir secara mendalam, memahami persoalan bangsa dengan jernih, serta mencari solusi berdasarkan ilmu dan pengalaman, bukan sekadar emosi atau tren sesaat. Orang yang terbiasa belajar dari para ahli akan lebih berhati-hati dalam mengambil sikap, lebih matang dalam menilai persoalan, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dangkal.

Pada akhirnya, duduk di majelis ilmu bukan sekadar menghadiri sebuah pengajian atau diskusi. Ia adalah bentuk kerendahan hati untuk mengakui bahwa selalu ada yang perlu dipelajari. Di sana, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memelihara hatinya agar tetap hidup.

Mungkin itulah sebabnya Imam Sajjad a.s mengaitkan jauhnya seorang hamba dari kehangatan doa dengan absennya ia dari majelis para ulama. Sebab, hati yang terus bergaul dengan ilmu akan lebih mudah mengenali kebenaran, sementara hati yang terlalu lama berjalan sendirian sering kali kehilangan arah tanpa disadarinya.

Di zaman ketika informasi tersedia di mana-mana, barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah tambahan pengetahuan, melainkan kehadiran orang-orang bijak yang mengajarkan bagaimana pengetahuan itu mengubah cara kita hidup.

Baca Juga  Ketika Kebohongan Memakai Wajah Kebenaran
Bagikan:
Terkait
Komentar