KHAMENEI.ID – Sebuah bangsa bisa tumbuh cepat, tetapi belum tentu sudah maju. Kecepatan pertumbuhan sering kali membuat orang terpukau: angka meningkat, lembaga bertambah, penelitian bermunculan. Namun ada pertanyaan yang lebih penting dan lebih sulit dijawab: dari titik mana sebuah bangsa memulai perlombaannya?
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu inti pemikiran Imam Ali Khamenei qs ketika berbicara tentang perkembangan ilmu pengetahuan di Iran. Menurutnya, kemajuan ilmiah Iran dalam dua dekade lebih bukan sekadar angka pertumbuhan. Ia merupakan sebuah gerakan untuk mengejar ketertinggalan panjang yang terbentuk selama periode sejarah ketika ilmu pengetahuan tidak memperoleh tempat yang semestinya.
Gerakan ilmiah tersebut, menurut Imam Khamenei, mulai memperoleh momentum sekitar dua puluh tahun sebelumnya. Titik awalnya berada di lingkungan kampus. Beberapa slogan yang ketika itu muncul—seperti gagasan untuk “menembus batas-batas ilmu pengetahuan” dan membangun sebuah “gerakan perangkat lunak”—menjadi pemantik perubahan suasana akademik.
Slogan, dalam banyak keadaan, mudah menjadi hiasan spanduk lalu menghilang. Tetapi kali ini, menurut Imam Khamenei, sesuatu yang berbeda terjadi. Gagasan itu memunculkan gerak, gairah, dan dorongan baru di lingkungan perguruan tinggi. Yang lebih penting, gerakan tersebut tidak cepat padam.
Ia berlanjut.
Dari sanalah, dalam pandangan Imam Khamenei, dimulai sebuah gerakan akseleratif dalam bidang ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi tidak lagi sekadar menjadi tempat pendidikan rutin, tetapi mulai didorong untuk menjadi ruang produksi pengetahuan.
Perubahan itu kemudian tercermin dalam sejumlah penilaian internasional mengenai pertumbuhan ilmu pengetahuan Iran. Imam Khamenei mengutip penilaian lembaga-lembaga pemeringkatan dan pengamatan ilmiah global yang pada masa itu menyebut bahwa laju pertumbuhan ilmiah Iran berada sekitar dua belas hingga tiga belas kali rata-rata pertumbuhan global.
Angka itu tentu mengesankan.
Namun justru di sinilah Imam Khamenei meminta agar masyarakat tidak terjebak dalam euforia statistik.
Menurut beliau, tingginya kecepatan pertumbuhan ilmu pengetahuan tidak otomatis berarti Iran telah berada di garis depan dunia. Sebuah negara yang selama puluhan tahun tertinggal membutuhkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat hanya untuk mendekati negara-negara yang sudah lebih dahulu berada di depan.
Bayangkan dua pelari. Yang satu sudah berada beberapa kilometer di depan, sementara yang lain baru memulai perlombaan. Pelari kedua mungkin berlari dua kali lebih cepat. Tetapi selama jaraknya belum tertutup, ia belum bisa disebut sebagai pemenang.
Begitulah kira-kira cara Imam Khamenei membaca perkembangan ilmiah Iran.
Pertumbuhan yang tinggi adalah kabar baik, tetapi bukan alasan untuk berhenti berlari.
Di balik pandangan tersebut terdapat kesadaran sejarah yang kuat. Imam Khamenei menilai bahwa ketertinggalan ilmiah Iran tidak muncul secara tiba-tiba. Ada periode panjang ketika negara tersebut kehilangan momentum pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia menunjuk pada masa pemerintahan dinasti Qajar dan Pahlavi sebagai periode ketika, dalam pandangannya, Iran mengalami kemunduran dan berada jauh di belakang perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Ironisnya, negara yang memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan dan ilmu pengetahuan justru pernah berada di posisi paling bawah dalam peta perkembangan ilmiah modern.
Kontradiksi itu penting.
Sebuah bangsa dapat memiliki masa lalu yang gemilang, tetapi kejayaan masa lalu tidak otomatis menjadi modal untuk masa depan. Warisan sejarah hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi berikutnya mampu mengubahnya menjadi pengetahuan, penelitian, teknologi, dan institusi yang hidup.
Karena itu, bagi Imam Ali Khamenei qs, kebangkitan ilmiah bukan sekadar proyek universitas. Ia adalah proyek nasional.
Ketika mahasiswa didorong untuk menembus batas ilmu pengetahuan, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya laboratorium atau jurnal ilmiah. Yang sedang dibangun adalah kepercayaan diri sebuah bangsa terhadap kemampuan intelektualnya sendiri.
Di titik ini, gagasan tentang kemandirian menjadi penting. Ketergantungan ilmiah dapat membuat sebuah negara terus berada dalam posisi sebagai pengguna pengetahuan yang diproduksi orang lain. Sebaliknya, negara yang mampu menciptakan pengetahuan memiliki peluang lebih besar untuk menentukan arah perkembangan ekonominya, teknologinya, bahkan kebijakan strategisnya sendiri.
Itulah sebabnya Imam Khamenei berkali-kali menekankan pentingnya kemajuan di batas-batas ilmu pengetahuan. Menurut logika ini, tujuan pendidikan tinggi bukan sekadar menghasilkan lulusan yang mampu mengikuti perkembangan dunia, tetapi menciptakan ilmuwan yang ikut menentukan perkembangan dunia.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Mengikuti perkembangan berarti mengejar. Menjadi rujukan berarti ikut menentukan arah.
Karena itu, ketika Imam Khamenei berbicara mengenai pertumbuhan ilmiah yang tinggi, ia tidak ingin generasi muda berhenti pada rasa bangga. Ia justru ingin angka-angka tersebut dibaca sebagai tanda bahwa masih ada jarak yang harus ditempuh.
Pesan itu relevan bagi negara mana pun yang sedang membangun kapasitas ilmu pengetahuan. Statistik pertumbuhan dapat memberikan optimisme, tetapi tidak boleh menghilangkan kesadaran mengenai posisi sebenarnya. Kemajuan membutuhkan dua hal sekaligus: keyakinan bahwa perubahan mungkin terjadi dan kejujuran untuk mengakui bahwa masih banyak yang harus dikejar.
Dari kampus, perubahan itu kemudian menjadi bagian dari proyek yang lebih besar: membangun bangsa yang tidak hanya mengonsumsi pengetahuan, tetapi memproduksinya.
Pada akhirnya, kebangkitan ilmiah yang dibayangkan Imam Ali Khamenei qs bukanlah perlombaan mengejar angka. Ia adalah upaya mengembalikan sebuah bangsa ke posisi yang dianggap sesuai dengan potensi sejarah dan kemampuan generasinya.
Sebab ilmu pengetahuan tidak mengenal belas kasihan terhadap mereka yang terlambat. Dunia terus bergerak. Teknologi terus berubah. Penemuan baru terus menggeser batas yang sebelumnya dianggap mustahil.
Karena itu, sebuah bangsa yang pernah tertinggal tidak punya kemewahan untuk berjalan perlahan.
Ia harus berlari.
Dan ketika akhirnya mencapai garis depan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mengejar dunia, melainkan memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan mampu memberi manfaat bagi manusia dan menentukan masa depan bangsanya sendiri.






