Saat Sponsor Menentukan Arah Pengetahuan

KHAMENEI.ID– Ada bentuk ketergantungan yang tidak selalu tampak sebagai ketergantungan. Ia datang bukan melalui perintah, melainkan melalui bantuan. Bukan dengan ancaman, melainkan dengan pendanaan. Bahkan kadang hadir dengan wajah yang sangat terhormat: kesempatan, penghargaan, akses ke pasar, beasiswa, atau publikasi internasional.

Di situlah persoalan bermula. Sebab yang tampak seperti dukungan bisa perlahan berubah menjadi penentu arah.

Gagasan itu menjadi penting ketika kita berbicara tentang “independensi ilmiah”. Ilmu pengetahuan kerap dibayangkan sebagai wilayah yang steril dari kepentingan. Seolah-olah seorang peneliti bekerja hanya berdasarkan rasa ingin tahu, data, dan pencarian kebenaran. Padahal penelitian membutuhkan biaya, laboratorium, jaringan, publikasi, bahkan institusi. Ketika semua itu datang dari pihak tertentu, pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya siapa yang membiayai, melainkan juga: ke mana penelitian itu hendak diarahkan?

Bayangkan seorang pelukis yang hidup di sebuah negeri dengan tradisi seninya sendiri. Kemudian datang pihak dari luar yang lebih dulu mempelajari selera pasar mereka. Mereka tahu jenis lukisan apa yang laku, tema apa yang disukai, estetika seperti apa yang mudah diterima. Mereka kemudian datang membawa uang dan menawarkan dukungan kepada para pelukis.

Tidak ada paksaan di sana. Sang pelukis tetap memegang kuasnya. Kanvas tetap berada di hadapannya. Ia bahkan merasa mendapatkan kebebasan baru karena memiliki biaya untuk berkarya.

Namun perlahan ia mulai melukis apa yang diinginkan pemberi dana.

Hal serupa dapat terjadi dalam perfilman. Sebuah film memperoleh perhatian karena dianggap cocok untuk festival tertentu. Tema yang memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penghargaan mulai diproduksi. Para pembuat film, sadar atau tidak, belajar membaca selera juri. Lama-kelamaan, bukan hanya film yang berubah, melainkan juga cara seorang seniman memahami apa yang layak diceritakan.

Baca Juga  Menanti Imam Mahdi Tanpa Tergesa: Ketika Takdir Tuhan Tak Mengikuti Jam Manusia

Di titik ini, pengaruh tidak lagi membutuhkan sensor.

Cukup dengan menentukan insentif.

Dan dunia ilmu pengetahuan tidak kebal terhadap mekanisme semacam itu.

Seorang peneliti mungkin memilih topik tertentu bukan karena persoalan itu paling penting bagi masyarakatnya, melainkan karena topik tersebut lebih mudah mendapatkan pendanaan. Sebuah lembaga riset bisa mengejar bidang tertentu karena tersedia hibah besar di sana. Seorang akademisi dapat terdorong mengejar jenis publikasi yang lebih dihargai oleh sistem internasional. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penelitian bisa bergeser: dari pertanyaan “apa yang dibutuhkan masyarakat?” menjadi “apa yang paling mungkin diterima oleh pusat-pusat pengetahuan yang dominan?”

Masalahnya bukan pada kerja sama internasional itu sendiri. Pengetahuan memang tumbuh melalui perjumpaan. Ilmuwan perlu bertukar gagasan, universitas membutuhkan jaringan, dan riset modern hampir mustahil berkembang tanpa kolaborasi lintas negara.

Yang perlu dijaga adalah kemampuan menentukan arah sendiri.

Sebab “independensi ilmiah” bukan berarti menutup pintu dari dunia luar. Ia justru berarti mampu membuka pintu tanpa kehilangan rumah sendiri.

Dalam pengertian ini, kemerdekaan ilmiah lebih dalam daripada sekadar memiliki laboratorium, universitas, atau jurnal nasional. Sebuah negara dapat memiliki institusi penelitian yang lengkap, tetapi belum tentu memiliki kebebasan menentukan agenda pengetahuannya. Jika pertanyaan penelitian selalu ditentukan oleh kebutuhan pihak lain, maka yang tumbuh mungkin bukan tradisi ilmu yang mandiri, melainkan sekadar kemampuan mengerjakan proyek yang dirancang orang lain.

Gagasan tersebut sebenarnya melampaui ilmu pengetahuan. Ia menyentuh seni dan bahkan politik.

Sebab pola yang sama dapat bekerja di banyak bidang. Kepentingan eksternal tidak selalu perlu membeli seseorang secara langsung. Cukup menciptakan sistem penghargaan yang membuat orang bergerak ke arah tertentu. Yang satu menawarkan pendanaan, yang lain menawarkan panggung. Ada yang menyediakan akses pasar, ada pula yang membuka jalan menuju pengakuan internasional.

Baca Juga  Benteng Keamanan Dimulai dari Luar Perbatasan

Manusia kemudian merasa memilih dengan bebas, meskipun pilihan yang tersedia telah dibentuk sebelumnya.

Di sinilah sebuah masyarakat perlu memiliki kesadaran yang lebih matang tentang arti kemandirian. Kemerdekaan bukan hanya kemampuan mengatakan “tidak” kepada tekanan yang kasar. Kemerdekaan juga kemampuan bertanya ketika sebuah tawaran terlihat terlalu menguntungkan: siapa yang menentukan agenda? Apa kepentingan di balik dukungan itu? Dan, yang paling penting, apakah kita masih bebas menentukan apa yang ingin kita cari?

Pertanyaan semacam itu semakin relevan di zaman ketika uang, data, reputasi, dan perhatian bergerak melintasi batas negara dengan sangat cepat. Dunia akademik terhubung oleh jurnal dan indeks internasional. Dunia seni ditentukan oleh pasar global. Dunia budaya dibentuk oleh algoritma. Politik pun tidak selalu berlangsung hanya di ruang parlemen, tetapi juga melalui jaringan informasi, pendanaan, dan pengaruh.

Karena itu, membangun kemandirian ilmu pengetahuan bukan proyek untuk menjauh dari dunia. Justru sebaliknya: ia adalah usaha agar keterhubungan dengan dunia berlangsung dari posisi yang sadar dan setara.

Kita boleh belajar dari siapa saja. Kita boleh bekerja sama dengan siapa saja. Kita boleh menerima bantuan dari mana saja. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diserahkan begitu saja: hak untuk menentukan pertanyaan kita sendiri.

Sebab bangsa yang kehilangan kemampuan menentukan pertanyaan pada akhirnya akan hidup dengan jawaban yang dibuat orang lain.

Dan mungkin itulah bentuk ketergantungan yang paling halus. Bukan ketika seseorang memaksa kita berjalan ke suatu arah, melainkan ketika kita berjalan dengan sukarela tanpa pernah menyadari bahwa arah jalan itu telah dipilihkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar