Tafsir Surah Al-Baqarah(Bag. 23): Memahami Makna “Fazādahumullāhu Maraḍā” dalam Tafsir Al-Baqarah Ayat 10

KHAMENEI.ID – Ada penyimpangan yang lahir bukan karena penolakan besar terhadap kebenaran, melainkan karena satu langkah kecil yang dibiarkan terus berjalan. Pada awalnya hampir tidak terlihat. Jaraknya dengan jalan yang benar hanya sejengkal. Namun semakin lama, jarak itu melebar. Sedikit demi sedikit, hati menjadi semakin asing terhadap kebenaran yang dulu masih bisa disentuhnya.

Di sinilah Al-Qur’an menggambarkan kondisi kaum munafik dengan ungkapan yang sangat tajam:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka.” (QS Al-Baqarah: 10)

Dalam penafsirannya, Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa ayat ini tidak sedang berbicara tentang sebuah hukuman yang turun secara tiba-tiba dari langit. Ayat ini menjelaskan sebuah hukum kehidupan: ketika penyakit hati tidak diobati, ia akan berkembang dan semakin menguasai manusia.

Hukum Kehidupan

Muncul satu pertanyaan apakah frasa “فزادهم الله مرضا” berkaitan dengan konsep filsafat Islam yang dikenal sebagai harakah jawhariyyah atau gerak substansial yang dipopulerkan Mulla Shadra.

Imam Khamenei menjelaskan bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Gerak substansial adalah teori filsafat yang berbicara tentang perubahan hakikat suatu wujud. Menurut teori ini, perubahan tidak hanya terjadi pada sifat-sifat luar, tetapi juga pada substansi dan hakikat sesuatu. Sebuah makhluk dapat bergerak dari tingkat keberadaan yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi.

Jalaluddin Rumi menggambarkan proses ini dalam syairnya yang terkenal:

از جمادی مردم و نامی شدم
وز نما مردم ز حیوان سر زدم

مُردم از حیوانی و آدم شدم
پس چه ترسم کی ز مردن کم شدم

“Aku mati sebagai benda mati lalu menjadi tumbuhan. Aku mati sebagai tumbuhan lalu menjadi hewan. Aku mati sebagai hewan lalu menjadi manusia. Maka mengapa aku harus takut mati?”

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 14) : Enam Ciri Takwa Mengantarkan pada Hidayah dan Keberuntungan

Dalam pandangan Islam, kesempurnaan manusia bukan sekadar menjadi lebih rumit atau lebih cerdas, tetapi bergerak menuju tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi, menuju cahaya, kesadaran, dan kedekatan kepada Allah swt.

Karena itu, menurut Imam Khamenei, ayat “فزادهم الله مرضا” tidak sedang membahas gerak substansial. Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih praktis: bagaimana penyimpangan kecil yang dibiarkan akan terus membesar.

Bahaya Sudut Kecil yang Diabaikan

Untuk menjelaskan makna ayat tersebut, Imam Khamenei memberikan ilustrasi yang sangat menarik.

Bayangkan sebuah garis lurus. Kemudian dari satu titik pada garis itu dibuat sudut yang sangat kecil. Pada awalnya, jarak antara garis lurus dan garis yang menyimpang hampir tidak terlihat. Mungkin hanya beberapa milimeter.

Namun ketika garis yang menyimpang itu terus diperpanjang, jaraknya semakin besar. Setelah satu meter, perbedaannya menjadi jelas. Setelah beberapa kilometer, garis itu mungkin sudah sangat jauh dari jalur awalnya.

Begitulah cara kerja penyakit hati.

Pada awalnya seseorang hanya menuruti sedikit kesombongan. Sedikit rasa iri. Sedikit keengganan menerima kebenaran. Sedikit keterikatan pada kepentingan pribadi.

Semua itu tampak sepele. Tetapi ketika tidak dikoreksi, penyimpangan kecil itu berubah menjadi karakter. Karakter berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi cara pandang. Pada akhirnya, seseorang tidak lagi mampu melihat kebenaran sebagaimana adanya.

Inilah makna:

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Lalu Allah menambah penyakit mereka.”

Allah swt menambah penyakit itu melalui sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan. Ketika manusia memilih jalan yang salah dan terus mempertahankannya, konsekuensi alamiahnya adalah semakin jauhnya ia dari jalan yang benar.

Penyakit yang Membesar Karena Tidak Diobati

Imam Khamenei mengibaratkan nifak seperti penyakit fisik.

Seseorang mungkin hanya mengalami gejala ringan. Jika ia segera berobat, penyakit itu dapat disembuhkan. Namun jika ia mengabaikannya, penyakit tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh.

Baca Juga  Mengalah Sebelum Bertempur: Bahaya Lalai Membaca Ancaman

Demikian pula penyakit spiritual.

Ketika seseorang mengetahui bahwa kesombongan mulai tumbuh dalam dirinya, lalu ia melawannya, penyakit itu bisa sembuh. Ketika ia menyadari adanya iri hati, lalu berusaha membersihkannya, penyakit itu bisa hilang.

Tetapi ketika ia justru memelihara penyakit itu, membenarkannya, dan menjadikannya bagian dari dirinya, penyakit tersebut akan semakin mengakar.

Pada titik tertentu, yang awalnya hanya sebuah kelemahan berubah menjadi identitas.

Ia tidak lagi sekadar melakukan kesalahan. Ia mulai membela kesalahannya.

Ia tidak lagi sekadar menolak kebenaran. Ia mulai memusuhi kebenaran.

Kesempurnaan Bukan Sekadar Menjadi Lebih Cerdas

Dalam bagian lain penjelasannya, Imam Khamenei mengingatkan bahwa kemajuan manusia tidak dapat diukur hanya dengan kecanggihan intelektual.

Seseorang bisa memiliki kecerdasan luar biasa, tetapi seluruh pikirannya hanya digunakan untuk memenuhi hawa nafsu, mencari kekuasaan, atau menumpuk keuntungan pribadi.

Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras tentang manusia yang kehilangan arah spiritual:

أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

“Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi.” (QS Al-A’raf: 179)

Karena itu, ukuran kesempurnaan dalam Islam bukanlah kerumitan pikiran atau kemajuan teknologi semata. Kesempurnaan adalah ketika manusia bergerak dari sifat-sifat kebinatangan menuju sifat-sifat kemanusiaan; dari egoisme menuju pengabdian; dari hawa nafsu menuju kebenaran.

Pesan paling penting dari tafsir ini adalah bahwa nifak tidak selalu dimulai dari penolakan besar terhadap agama. Ia sering berawal dari penyimpangan kecil yang dianggap tidak berbahaya.

Satu kali menolak nasihat.

Satu kali membenarkan kesombongan.

Satu kali mendahulukan kepentingan diri di atas kebenaran.

Jika terus dibiarkan, garis yang sedikit menyimpang itu akan semakin menjauh dari jalur lurus.

Karena itu, ayat “فزادهم الله مرضا” bukan sekadar kisah tentang kaum munafik pada masa lalu. Ia adalah peringatan bagi setiap manusia. Hati yang tidak dijaga akan mengalami penyakit. Dan penyakit yang tidak diobati akan berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Baca Juga  Bertahan di Tengah Dunia yang Mengajarkan Ketamakan 

Di sinilah letak pentingnya muhasabah. Sebab terkadang yang memisahkan seseorang dari jalan lurus bukanlah jurang besar, melainkan sudut kecil yang terus dibiarkan melebar.

Bagikan:
Terkait
Komentar