

KHAMENEI.ID— Ada kecenderungan menarik dalam cara sebagian orang memahami agama: mereka lebih sibuk meniru bentuk luar daripada menangkap ruhnya. Ukuran kesalehan sering dipersempit menjadi model pakaian, gaya bicara, simbol-simbol lahiriah, atau nostalgia visual terhadap masa silam. Padahal, sejarah para tokoh besar Islam justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:

Di tengah hiruk-pikuk peradaban modern yang sering memuja standar maskulinitas sebagai ukuran keberhasilan, satu pertanyaan mendasar layak diajukan: mengapa perempuan harus meniru laki-laki untuk dianggap setara? Dalam lanskap budaya global yang masih menyisakan jejak patriarki, perempuan kerap didorong untuk “menjadi seperti laki-laki” dalam cara berpikir, bekerja, bahkan dalam cara memaknai