Transformasi Bukan Kehilangan Jati Diri: Saat Modernitas Berubah Menjadi Penjajahan Pikiran

KHAMENEI.ID– Ada masa ketika sebuah bangsa merasa sedang bergerak maju, padahal sesungguhnya sedang berjalan menjauh dari dirinya sendiri. Jalan raya dibangun, gedung-gedung menjulang, gaya hidup berubah, dan kata “modern” dielu-elukan sebagai tanda kemajuan. Namun, di balik semua itu, diam-diam terjadi sesuatu yang lebih dalam: cara berpikir mulai dipinjam, ukuran benar dan salah mulai ditentukan dari luar, sementara identitas sendiri perlahan kehilangan tempat.

Di sinilah letak perbedaan yang sering luput disadari. Perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Ada perubahan yang membawa kehidupan menjadi lebih baik, tetapi ada pula perubahan yang justru mengikis fondasi yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri tegak. Transformasi adalah langkah ke depan. Sebaliknya, ketika sebuah masyarakat kehilangan keberanian berpikir dan melepaskan jati dirinya demi meniru orang lain, yang terjadi bukan transformasi, melainkan perubahan bentuk, bahkan bisa disebut sebagai kematian peradaban secara perlahan.

Pengalaman sejarah Iran pada masa Dinasti Pahlavi menjadi contoh yang sering dikemukakan dalam pembahasan ini. Modernisasi diperkenalkan sebagai proyek besar untuk membawa negeri itu memasuki dunia baru. Namun modernitas yang datang bukan sekadar menghadirkan teknologi atau sistem administrasi yang lebih maju. Bersamaan dengan itu, berlangsung pula proses pelepasan identitas. Nilai-nilai agama dipinggirkan, akar sejarah dianggap sebagai beban masa lalu, sementara budaya Barat dijadikan ukuran utama tentang apa yang disebut kemajuan.

Yang paling berbahaya bukanlah perubahan cara berpakaian atau bentuk bangunan. Bahaya sesungguhnya muncul ketika masyarakat mulai memandang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang tertinggal, sementara segala sesuatu yang datang dari luar dianggap pasti lebih benar. Pada titik itu, sebuah bangsa tidak lagi kehilangan barang-barang berharga, melainkan kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Baca Juga  Menikmati Masa Muda: Ketika Pemuda Memilih Taat daripada Terlena

Dalam konteks yang lebih luas, gejala seperti ini tidak hanya terjadi di satu negara atau satu masa. Hampir semua bangsa pernah mengalami godaan yang sama. Ketika modernitas diterjemahkan sebagai peniruan total terhadap peradaban lain, kreativitas perlahan digantikan oleh imitasi. Masyarakat berhenti bertanya karena merasa semua jawaban sudah tersedia di tempat lain.

Dampaknya paling terasa di dunia ilmu pengetahuan. Sebuah gagasan tidak lagi dinilai berdasarkan kekuatan argumennya, tetapi berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Pendapat seorang ilmuwan Barat sering kali diperlakukan sebagai kata akhir yang tidak boleh dipersoalkan. Diskusi berhenti bukan karena kebenaran telah ditemukan, melainkan karena otoritas telah dianggap cukup menggantikan nalar.

Padahal ilmu pengetahuan tumbuh justru dari keberanian mempertanyakan sesuatu. Setiap kemajuan lahir karena ada seseorang yang berani mengatakan bahwa pandangan lama mungkin perlu dikaji kembali. Jika keberanian itu hilang, maka universitas berubah menjadi ruang reproduksi pemikiran, bukan ruang kelahiran gagasan baru. Pendidikan hanya menghasilkan peniru yang rapi, bukan pemikir yang merdeka.

Di titik inilah persoalan sesungguhnya bukan lagi tentang Timur atau Barat. Yang dipersoalkan adalah sikap mental terhadap ilmu. Menghargai karya ilmuwan lain tentu merupakan bagian dari tradisi akademik. Namun penghargaan berbeda dengan penghambaan. Ketika seseorang tidak lagi berani mengkritik hanya karena sebuah teori berasal dari tokoh besar, maka akal telah berhenti bekerja.

Tradisi intelektual Islam sejak awal justru dibangun di atas semangat membebaskan akal dari belenggu semacam itu. Para ulama besar tidak sekadar menghafal pendapat pendahulunya. Mereka menguji, mengkritik, menyempurnakan, bahkan terkadang berbeda pandangan. Karena itu lahirlah tradisi ijtihad, sebuah ikhtiar intelektual untuk terus menggali kebenaran melalui akal yang bertanggung jawab.

Baca Juga  Jangan Mengharap Kematian: Mengapa Kesempatan Hidup Selalu Berharga?

Semangat ini selaras dengan misi para nabi sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadis yang sangat terkenal:

يُثِيرُوا لَهُمْ دَفَائِنَ الْعُقُولِ

“Mereka diutus untuk membangkitkan harta karun akal yang terpendam dalam diri manusia”

Ungkapan singkat ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Tugas para nabi bukan mematikan daya pikir manusia, melainkan membangunkannya. Mereka tidak menciptakan akal, tetapi membebaskan akal dari debu ketakutan, kemalasan, dan kebiasaan mengikuti tanpa berpikir. Setiap manusia sesungguhnya telah membawa “harta karun” berupa potensi intelektual, hanya saja potensi itu sering tertutup oleh rasa takut untuk berbeda atau terlalu kagum kepada otoritas.

Karena itu, peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang dipenuhi orang-orang yang pandai mengutip. Ia adalah peradaban yang melahirkan manusia-manusia yang mampu berpikir, mengolah warisan masa lalu, lalu menghasilkan sesuatu yang baru tanpa kehilangan akar identitasnya.

Modernitas sejati tidak menuntut sebuah bangsa menjadi salinan bangsa lain. Ia justru mendorong setiap masyarakat menemukan cara terbaik untuk berkembang dengan bertolak dari kekayaan sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang dimilikinya. Teknologi dapat dipelajari dari mana saja, ilmu bisa datang dari siapa saja, tetapi jati diri tidak boleh dipinjam.

Sebab sebuah bangsa mungkin mampu membeli mesin, mengimpor teknologi, bahkan menyalin sistem pendidikan negara lain. Namun jika keberanian berpikir telah hilang dan identitas telah ditanggalkan, yang tersisa hanyalah kemajuan yang tampak di permukaan. Di balik gemerlap itu, sedang berlangsung kemunduran yang lebih sunyi: penjajahan atas cara berpikir.

Transformasi yang sesungguhnya bukanlah menjadi orang lain. Transformasi adalah menjadi diri sendiri dalam bentuk yang lebih matang, lebih kuat, dan lebih bijaksana. Sebab peradaban tidak diukur dari seberapa mirip ia dengan bangsa lain, melainkan dari kemampuannya melahirkan masa depan tanpa harus kehilangan jiwanya.

Baca Juga  Hukum yang Pahit, Kekacauan yang Lebih Menyakitkan
Bagikan:
Terkait
Komentar