Bukan Dunia yang Tenang, Tetapi Hati yang Ditenangkan

KHAMENEI.ID— Ada satu hal yang diam-diam menjadi industri terbesar dunia modern hari ini: ketakutan. Ia diproduksi setiap hari lewat berita, propaganda, media sosial, perang opini, krisis ekonomi, ancaman politik, hingga ramalan kehancuran yang terus diputar tanpa jeda. Manusia dibuat gelisah bahkan sebelum sesuatu benar-benar terjadi. Kita hidup di zaman ketika kecemasan menjadi atmosfer bersama.

Dalam situasi seperti itu, Al-Qur’an menghadirkan sebuah konsep yang terasa begitu menenangkan sekaligus revolusioner: sakīnah ketenangan batin yang diturunkan Tuhan ke dalam hati manusia.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman agar bertambah iman mereka di atas iman yang telah ada” (QS. Al-Fath: 4)

Ayat ini seolah berbicara langsung kepada manusia modern. Sebab yang paling langka hari ini bukan kecerdasan, bukan teknologi, bahkan bukan kekuasaan. Yang paling langka adalah hati yang tenang.

Padahal justru di situlah kekuatan manusia sebenarnya bermula.

Dalam sejarah, hampir semua gerakan besar yang membawa perubahan selalu lebih dulu diserang melalui rasa takut. Musuh tidak selalu datang dengan senjata. Kadang ia hadir dalam bentuk opini, rumor, pesimisme, atau suasana panik yang sengaja diciptakan agar manusia kehilangan keberanian berpikir.

Al-Qur’an menyebut para penyebar ketakutan itu sebagai murjifūn orang-orang yang menebar kegaduhan psikologis di tengah masyarakat. Mereka menciptakan kepanikan agar manusia lumpuh sebelum bertindak.

Fenomena itu ternyata bukan hal baru. Pada masa Nabi Muhammad saw, isu-isu serupa juga beredar di Madinah. Orang-orang menakut-nakuti kaum Muslim dengan mengatakan bahwa musuh telah berkumpul dan kekuatan Islam akan dihancurkan.

Al-Qur’an merekam situasi itu:

Baca Juga  Serangan Budaya dan Ilusi Kebebasan: Ketika Kita Mengira Sedang Memilih

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Orang-orang berkata kepada mereka: ‘Musuh telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka.’ Tetapi ucapan itu justru menambah iman mereka, dan mereka berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung’” (QS. Ali Imran: 173)

Di titik inilah “sakīnah” menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar rasa damai spiritual yang pasif. Ia adalah ketenangan yang membuat manusia tetap mampu berpikir jernih di tengah badai.

Sebab rasa takut yang berlebihan sering kali menghancurkan kemampuan manusia untuk melihat jalan keluar. Orang yang sudah terintimidasi biasanya kehilangan akal sehat sebelum benar-benar kalah. Ia ragu mengambil keputusan, mudah mundur, dan akhirnya menyerahkan dirinya kepada keadaan.

Karena itu Nabi Muhammad saw pernah memberi nasihat yang sangat psikologis kepada Ali bin Abi Thalib a.s: jangan bermusyawarah dengan orang pengecut. Sebab orang yang dikuasai ketakutan akan selalu mempersempit kemungkinan dan menutup pintu harapan.

Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini. Betapa banyak keputusan publik lahir bukan dari kebijaksanaan, melainkan dari kepanikan. Betapa banyak orang menyerah bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena terlalu lama dicekoki rasa takut.

Padahal ketakutan adalah senjata paling efektif untuk menjinakkan manusia tanpa perlu peperangan.

Menariknya, konsep sakīnah dalam Surah Al-Fath turun dalam salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah Islam: Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu Nabi Muhammad mengajak kaum Muslim menuju Makkah hanya untuk melaksanakan umrah. Tetapi situasinya sangat berbahaya. Dua tahun sebelumnya, kaum Quraisy mengepung Madinah dan nyaris memusnahkan kaum Muslim.

Baca Juga  Merasa Sudah Dekat dengan Tuhan Adalah Cara Paling Halus Menjauh dari-Nya 

Banyak orang mengira perjalanan itu akan berakhir sebagai bencana. Sebagian bahkan yakin Nabi tidak akan kembali hidup-hidup ke Madinah.

Namun justru di tengah ketegangan itulah Allah menurunkan “sakīnah”. Hati kaum beriman dibuat tenang. Mereka melangkah tanpa panik, tanpa histeria, tanpa kehilangan arah. Dan sejarah kemudian membuktikan: langkah yang tampak “lunak” itu justru menjadi pintu kemenangan besar Islam.

Sering kali kemenangan memang tidak lahir dari kegaduhan, tetapi dari ketenangan yang kokoh.

Di dunia hari ini, manusia terbiasa mengukur kekuatan dari volume suara, jumlah massa, atau agresivitas. Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari orang-orang yang memiliki ketenangan batin luar biasa di tengah tekanan.

Sakīnah bukan berarti hidup tanpa ujian. Al-Qur’an sendiri menegaskan:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan hasil panen. Tetapi sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini seperti ingin mengatakan bahwa rasa takut memang bagian dari perjalanan hidup. Yang membedakan manusia bukan apakah ia pernah takut atau tidak, melainkan apakah ketakutan itu menguasainya.

Dalam banyak perjuangan sosial dan politik, kemenangan sering kali dimulai dari keberanian untuk tetap tenang ketika semua orang panik. Mereka yang bertahan biasanya bukan orang yang paling kuat secara fisik, melainkan yang paling kokoh secara mental.

Itulah mengapa sejarah perubahan selalu diawali oleh sekelompok kecil orang yang tetap berjalan meski ditertawakan, diteror, atau dianggap mustahil menang.

Dalam salah satu pidatonya, Ali bin Abi Thalib a.s menggambarkan bagaimana generasi awal Muslim mampu bertahan melewati masa-masa brutal karena satu hal: kejujuran niat. Ketika Tuhan melihat kesungguhan mereka bahwa perjuangan itu bukan demi kekuasaan atau kepentingan pribadi, pertolongan datang dengan cara yang tak terduga.

Baca Juga  Jihad Tabyin: Dari Mimbar Sayyidah Fatimah sa hingga Revolusi Imam Khomeini qs

Barangkali di situlah inti terbesar dari “sakīnah”: ia lahir dari kepercayaan penuh kepada Tuhan sekaligus kesungguhan untuk tetap bergerak.

Bukan pasrah yang malas. Bukan optimisme kosong. Tetapi keyakinan yang membuat manusia tetap melangkah meski jalan tampak gelap.

Dan mungkin, di zaman yang penuh kebisingan ini, ketenangan seperti itulah bentuk keberanian paling langka.

Bagikan:
Terkait
Komentar