“Jangan Percaya Musuh”: Imam Ali Khamenei, Politik Ketahanan, dan Kritik terhadap Barat

KHAMENEI.ID – Dalam dunia politik modern yang dipenuhi diplomasi, negosiasi, dan janji kerja sama internasional, Imam Ali Khamenei qs mengajukan satu peringatan yang terdengar keras sekaligus kontras: “Jangan percaya kepada musuh.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik, melainkan inti dari pandangannya tentang hubungan dunia Islam dengan kekuatan-kekuatan global yang ia anggap hegemonik.

Dalam salah satu ceramahnya, Imam Khamenei menegaskan bahwa penyelesaian masalah bangsa tidak boleh digantungkan pada janji negara-negara besar. Ia menyebut janji-janji itu bukan datang dari “orang-orang baik”, melainkan dari pihak-pihak yang memiliki sejarah permusuhan dan kepentingan politik sendiri. Bahkan jika ada janji yang ditepati, katanya, itu hanyalah satu dari seratus.

Imam Khamenei secara terbuka menyebut Amerika Serikat—baik pada era Donald Trump maupun Barack Obama—sebagai pihak yang telah berulang kali menunjukkan permusuhan terhadap Iran. Ia juga menyoroti negara-negara Eropa yang, menurutnya, memperlihatkan sikap munafik dan tidak dapat dipercaya dalam hubungan internasional.

Namun, yang lebih menarik adalah kerangka berpikir yang dibangunnya: bahwa banyak negara di dunia sebenarnya ingin mandiri dan tidak tunduk pada dominasi Amerika, tetapi sering berubah arah karena tekanan politik, transaksi ekonomi, negosiasi, bahkan kepentingan elite tertentu. Hari ini sebuah negara menyatakan independensi, besok ia mengambil sikap yang bertolak belakang. Politik global, dalam gambaran Imam Khamenei, sangat cair dan mudah berubah.

Di titik inilah beliau membedakan antara “kebijakan” dan “iman”. Menurutnya, bagi sebagian negara, sikap independen hanyalah strategi politik yang bisa dinegosiasikan sewaktu-waktu. Tetapi dalam sistem yang ia yakini, kemandirian dan penolakan terhadap dominasi asing bukan sekadar pilihan pragmatis, melainkan bagian dari keyakinan agama.

Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur’an sebagai fondasi pandangan tersebut:

Baca Juga  Netralitas yang Mematikan: Mengapa Ulama Tak Boleh Diam Menurut Imam Ali Khamenei

«وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ»

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)

Juga ayat lain:

«إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusirmu dari negerimu.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Dalam tafsir politik Imam Khamenei, ayat-ayat itu bukan sekadar nasihat moral individual, tetapi prinsip hubungan internasional: umat Islam tidak boleh bersandar kepada kekuatan yang memiliki sejarah penindasan dan permusuhan.

Yang menarik, pidato ini juga memperlihatkan bagaimana beliau memahami revolusi sebagai “amanah sejarah”. Revolusi Islam Iran, menurutnya, telah membuka jalan tertentu bagi masyarakat dan karena itu melahirkan tanggung jawab kolektif. Tanggung jawab tersebut bukan hanya membangun negara, tetapi juga menjaga kesadaran terhadap musuh, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, serta tidak menyerah kepada tekanan eksternal.

Di tengah dunia global yang sangat bergantung pada jaringan ekonomi dan diplomasi internasional, pandangan seperti ini tentu memancing perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai bentuk kewaspadaan geopolitik, sementara yang lain menganggapnya terlalu konfrontatif. Namun apa pun penilaiannya, ceramah Imam Khamenei memperlihatkan satu hal penting: politik internasional, dalam pandangannya, bukan arena netral yang bebas dari moralitas. Ia adalah ruang pertarungan kepentingan, kekuasaan, dan kepercayaan.

Pesan itu terasa relevan di era ketika banyak negara berkembang menghadapi dilema serupa: antara menjaga kemandirian nasional atau bergantung pada kekuatan besar dunia. Di tengah tekanan ekonomi, sanksi, dan persaingan geopolitik, pertanyaan tentang sejauh mana sebuah bangsa dapat mempertahankan independensinya menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, ini bukan hanya seruan untuk mencurigai Barat, tetapi juga ajakan membangun ketahanan internal. Imam Khamenei tampaknya ingin mengatakan bahwa bangsa yang terlalu menggantungkan masa depannya pada janji pihak luar akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, bangsa yang bertumpu pada keyakinan, solidaritas, dan kekuatan sendiri memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Baca Juga  Benarkah Amerika Melemah? Membaca Perubahan Kekuatan Dunia dalam Perspektif Imam Ali Khamenei qs

Dan mungkin di situlah inti pesannya: dalam dunia yang dipenuhi negosiasi dan kepentingan, kewaspadaan bukan sekadar strategi politik—tetapi cara mempertahankan martabat.

Bagikan:
Terkait
Komentar