Manusia Takut Kehilangan Uang, Tapi Tidak Takut Kehilangan Akhirat 

KHAMENEI.ID— Ada satu gejala aneh dalam kehidupan modern hari ini: manusia bisa sangat serius mempersiapkan karier, investasi, dan masa depan duniawinya, tetapi begitu santai ketika berbicara tentang kematian dan akhir hidupnya sendiri. Orang rela begadang demi target pekerjaan, panik ketika kehilangan uang, dan cemas memikirkan status sosial, tetapi nyaris tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang akan terjadi setelah napas terakhir berhenti.

Padahal, jika ada sesuatu yang paling pasti dalam hidup manusia, itu justru kematian.

Di tengah budaya modern yang sibuk mengejar hiburan dan distraksi tanpa henti, persoalan spiritual sering diperlakukan seperti selingan emosional belaka. Agama cukup hadir di momen tertentu: saat sedih, saat gagal, atau saat kehilangan. Selebihnya, hidup berjalan seakan manusia akan tinggal selamanya di dunia.

Dalam doa Kumail terdapat satu kalimat pendek namun menghentak:

وَهَبْ لِيَ الْجِدَّ فِي خَشْيَتِكَ

“Anugerahkan kepadaku kesungguhan dalam takut kepada-Mu.”

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi menyimpan kritik besar terhadap cara manusia menjalani hidupnya. Ada satu kata penting di sana: al-jidd “keseriusan”. Artinya, rasa takut kepada Tuhan bukan perkara simbolik atau permainan emosional sesaat. Ia membutuhkan kesungguhan batin.

Karena itulah teks ini menegaskan: dalam khasyiah; kesadaran mendalam terhadap kebesaran Tuhan bahwa manusia tidak boleh main-main.

Menariknya, dalam tradisi Islam, takut kepada Tuhan bukan berarti ketakutan neurotis seperti takut kepada monster atau hukuman semata. Khasyiah lebih dekat kepada kesadaran eksistensial: kesadaran bahwa hidup memiliki konsekuensi moral. Bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas dirinya sendiri.

Dan justru kesadaran semacam itu yang perlahan hilang dalam kehidupan modern.

Hari ini manusia hidup dalam budaya yang mendorong pelupaan. Segala sesuatu bergerak cepat: informasi, hiburan, tren, bahkan emosi. Tidak ada ruang cukup hening untuk merenungkan makna hidup. Kematian pun sering hanya menjadi berita singkat di layar ponsel sebelum segera tertutup konten hiburan berikutnya.

Baca Juga  Shalat Tiang Agama: Mengapa Kehidupan Spiritual Bisa Runtuh Tanpa Shalat?

Orang yang benar-benar berakal tidak pernah menganggap persoalan hidup yang nyata sebagai lelucon.

Jika manusia bisa begitu serius menghadapi ujian kuliah, ancaman bangkrut, atau penyakit fisik, mengapa ia begitu santai terhadap sesuatu yang jauh lebih pasti: kematian, alam kubur, kehidupan setelah mati, dan pengadilan Tuhan?

Pertanyaan itu terasa tidak nyaman, tetapi justru di situlah kekuatan reflektif teks ini.

Sebab salah satu ciri zaman modern adalah ilusi keabadian. Teknologi membuat manusia merasa seolah bisa mengendalikan segalanya. Media sosial menciptakan kesan bahwa hidup hanya tentang tampil bahagia. Bahkan budaya populer sering memuja gaya hidup “hidup untuk hari ini” tanpa ruang untuk memikirkan makna jangka panjang kehidupan.

Akibatnya, manusia menjadi sangat sibuk mempercantik permukaan hidupnya, tetapi lalai merawat jiwanya sendiri.

Kita bisa melihat fenomena itu di mana-mana. Banyak orang tampak sukses, tetapi batinnya rapuh. Banyak yang terkenal, tetapi diam-diam kehilangan arah hidup. Sebagian terus bekerja tanpa henti bukan karena cinta terhadap pekerjaan, melainkan karena takut menghadapi kesunyian dirinya sendiri.

Karena dalam kesunyian itu, manusia mulai mendengar pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia hindari: untuk apa semua ini? Ke mana hidup akan berakhir? Apa yang benar-benar tersisa setelah semua ambisi selesai?

Doa Kumail seolah mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk itu dan kembali serius terhadap realitas paling mendasar hidupnya.

Terdapat beberapa perkara yang tidak boleh dianggap remeh: kematian, kubur, pertanyaan ilahi, alam barzakh, dan hari kiamat. Dalam bahasa modern, semua itu sebenarnya berbicara tentang satu hal: tanggung jawab eksistensial manusia.

Bahwa hidup bukan sekadar rangkaian konsumsi, hiburan, dan pencapaian materi. Ada dimensi moral yang tidak bisa dihindari. Ada konsekuensi dari setiap tindakan, sekecil apa pun.

Baca Juga  Shalat dan Krisis Manusia Modern: Mengapa Dunia yang Maju Justru Semakin Gelisah? 

Dan mungkin problem terbesar manusia hari ini bukan karena ia tidak percaya pada akhirat, tetapi karena ia hidup seolah akhirat tidak relevan lagi terhadap pilihan-pilihan sehari-harinya.

Agama akhirnya dipinggirkan menjadi identitas simbolik. Seseorang bisa terlihat religius secara penampilan, tetapi tetap zalim dalam pekerjaan, kasar dalam keluarga, dan curang dalam urusan publik. Sebab rasa takut kepada Tuhan tidak lagi menjadi kesadaran hidup, melainkan sekadar tradisi verbal.

Padahal dalam makna terdalamnya, khasyiah justru melahirkan manusia yang lebih jujur, lebih hati-hati, dan lebih rendah hati. Orang yang benar-benar sadar akan kematian biasanya tidak mudah sombong. Ia tahu bahwa seluruh kemewahan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.

Menariknya lagi, doa ini tidak meminta kekayaan, umur panjang, atau kemenangan duniawi. Yang diminta justru “kesungguhan” dalam takut kepada Tuhan. Seolah Imam Ali a.s ingin mengatakan bahwa problem terbesar manusia bukan kurangnya pengetahuan tentang agama, tetapi kurangnya keseriusan spiritual.

Kita tahu banyak hal baik, tetapi tidak sungguh-sungguh menjalaninya.

Kita tahu hidup sementara, tetapi tetap hidup seakan abadi.

Kita tahu kematian pasti datang, tetapi terus menunda perubahan diri.

Di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk larut dalam kelalaian, keseriusan spiritual menjadi sesuatu yang langka. Orang yang mau merenungkan hidupnya sendiri sering dianggap terlalu serius atau tidak menikmati hidup. Padahal justru manusia yang sadar akan keterbatasannya biasanya lebih mampu menghargai hidup secara utuh.

Karena ia tahu waktu tidak tak terbatas.

Pada akhirnya, dengan memahami ini kita bisa menilai bahwa manusia tidak diajak untuk hidup dalam ketakutan yang gelap. Manusia justru diajak  menjalani hidup dengan kesadaran yang lebih jernih. Bahwa hidup memiliki arah. Bahwa setiap pilihan memiliki makna. Dan bahwa ada hari ketika manusia akan berdiri sendirian membawa seluruh amalnya.

Baca Juga  Inovasi dan Tradisi: Ketika Ketakutan pada Hal Baru Membuat Peradaban Mandek 

Mungkin itulah mengapa doa Kumail terdengar begitu relevan di zaman ini: ketika dunia semakin bising membuat manusia lupa, doa itu justru memohon satu hal yang paling sulit kesungguhan untuk kembali sadar.

Bagikan:
Terkait
Komentar