Karbala dan Dunia Modern: Mengapa Tirani Selalu Takut pada Ingatan Manusia?  

KHAMENEI.ID– Sejarah selalu punya cara aneh untuk mengulang dirinya. Kekuasaan yang tampak paling perkasa sering justru sedang menyembunyikan ketakutannya yang paling besar.

Hari ini Amerika tampak menjulang sebagai simbol dominasi dunia modern. Pangkalan militernya tersebar di berbagai penjuru bumi. Pengaruh ekonominya masuk ke ruang-ruang paling pribadi kehidupan manusia. Film-filmnya membentuk imajinasi global. Medianya menentukan siapa yang dianggap pahlawan dan siapa yang dicap ancaman.

Bahkan di kawasan Timur Tengah, kehadiran Amerika pernah seperti mengepung dari dua arah sekaligus: Irak di sebelah barat, Afghanistan di sebelah timur. Sebagian orang melihat itu sebagai puncak kekuatan yang mustahil ditandingi.

Tetapi sejarah sering mengajarkan sesuatu yang berbeda: kekuasaan yang terlalu banyak bergerak kadang justru sedang kehilangan ketenangan.

Dalam sebuah ungkapan hikmah klasik disebutkan:

لِلْحَقِّ دَوْلَةٌ وَلِلْبَاطِلِ جَوْلَةٌ

“Kebenaran memiliki masa kejayaan, sedangkan kebatilan hanya memiliki giliran berputar.”

Kalimat itu pendek, tetapi terasa seperti hukum sejarah. Kebatilan memang sering tampak gaduh dan mendominasi. Ia bergerak cepat, menaklukkan banyak tempat, menguasai layar-layar dunia, dan menciptakan ilusi bahwa dirinya abadi. Namun kegaduhan itu sering hanya “julah” putaran sementara yang tidak benar-benar tenang.

Sebab kekuasaan yang terus-menerus harus menunjukkan dirinya kuat biasanya sedang takut kehilangan kendali.

Barangkali karena itu, banyak imperium besar dalam sejarah runtuh bukan saat mereka lemah, melainkan justru ketika tampak terlalu kuat. Kekaisaran Romawi, Uni Soviet, bahkan banyak dinasti besar Islam mengalami fase ketika wilayah mereka meluas, tetapi jiwa mereka mulai rapuh dari dalam.

Dan di titik inilah kisah Karbala menjadi relevan, bahkan untuk dunia modern.

Imam Husain a.s tidak melawan dengan pasukan besar. Ia tidak memiliki media global, kekuatan ekonomi, atau tentara raksasa. Secara politik, ia kalah telak. Tubuhnya terbunuh di padang gersang Karbala bersama keluarga dan sahabat-sahabat kecilnya.

Baca Juga  Poros Perlawanan: Dari Qasem Soleimani hingga Nurani Dunia yang Terbangun

Namun anehnya, justru pihak yang menang secara militer itulah yang akhirnya kalah dalam ingatan sejarah.

Bani Umayyah memiliki istana, tentara, dan propaganda. Tetapi mereka gagal menguasai satu hal penting: hati manusia.

Karena itu setelah tragedi Karbala, tugas terbesar tidak lagi berada di medan perang, melainkan di medan ingatan.

Imam Sajjad a.s dan Sayyidah Zainab a.s memahami hal ini dengan sangat dalam. Setelah semua tragedi selesai, mereka tidak membiarkan darah Husain tenggelam dalam sunyi sejarah. Mereka membawa kisah itu dari kota ke kota, dari mimbar ke mimbar, dari air mata ke air mata.

Zainab a.s berdiri di hadapan penguasa dengan tubuh letih sebagai tawanan, tetapi kata-katanya jauh lebih tajam daripada pedang. Imam Sajjad a.s, yang hidup puluhan tahun setelah Karbala, terus menghidupkan nama Husain a.s dalam doa, tangisan, dan pengajaran.

Mengapa?

Karena mereka tahu: jika sebuah masyarakat lupa kepada pengorbanan orang-orang yang mempertahankan kebenaran, masyarakat itu perlahan akan kehilangan keberanian moralnya.

Karbala bukan sekadar tragedi sejarah. Ia adalah “memori perlawanan” yang harus dijaga tetap hidup.

Sebagian orang modern kadang memandang ritual mengenang syuhada sebagai sesuatu yang berlebihan atau emosional. Mereka lupa bahwa hampir semua bangsa besar di dunia dibangun di atas penghormatan kepada pengorbanan. Negara-negara modern memiliki monumen perang, hari pahlawan, museum perjuangan, dan upacara kenegaraan untuk menjaga ingatan kolektif mereka.

Karena masyarakat yang kehilangan ingatan pengorbanannya biasanya berubah menjadi masyarakat yang mudah menyerah.

Itulah sebabnya Ahlulbait terus menekankan pentingnya mengingat Husain a.s.

Bahkan berabad-abad setelah Bani Umayyah runtuh, para imam masih berbicara tentang Karbala seolah tragedi itu baru saja terjadi. Imam Ridha a.s, misalnya, pernah berkata kepada Rayyan bin Syabib pada awal Muharram:

Baca Juga  Ali bin Abi Thalib: Murid Terbaik Nabi yang Gugur Karena Keadilan

يَا ابْنَ شَبِيبٍ إِنْ كُنْتَ بَاكِيًا لِشَيْءٍ فَابْكِ لِلْحُسَيْنِ

“Wahai Ibn Syabib, jika engkau ingin menangis untuk sesuatu, menangislah untuk Husain”

Ini bukan ajakan untuk larut dalam kesedihan kosong. Tangisan dalam tradisi Karbala adalah bentuk kesadaran moral. Ia menjaga agar manusia tidak berdamai dengan kezaliman.

Sebab bahaya terbesar dalam sejarah bukan hanya munculnya tiran, melainkan ketika masyarakat mulai terbiasa melihat ketidakadilan tanpa lagi merasa terganggu.

Dan mungkin di situlah hubungan tersembunyi antara Karbala dan dunia modern hari ini.

Kita hidup di era ketika kekuasaan global sering tampil begitu dominan. Negara-negara besar dapat menentukan nasib bangsa lain, mengendalikan opini publik internasional, bahkan memengaruhi cara manusia memahami kebenaran. Mereka tampak tidak terkalahkan.

Tetapi sejarah Karbala mengajarkan bahwa kemenangan moral tidak selalu berada di pihak yang paling kuat secara materi.

Kadang satu darah yang tertumpah demi kebenaran memiliki umur lebih panjang daripada ribuan tank dan senjata.

Lihatlah hari ini: Yazid menang secara politik pada hari Asyura, tetapi jutaan manusia di seluruh dunia masih menangisi Husain berabad-abad kemudian. Nama Husain hidup sebagai simbol keberanian melawan tirani, sementara banyak penguasa besar hanya tinggal catatan kaki sejarah.

Karena itu Karbala sesungguhnya bukan nostalgia masa lalu. Ia adalah alarm yang terus dibunyikan agar manusia tidak tertidur di hadapan kekuasaan yang zalim.

Dan mungkin inilah alasan mengapa darah para syuhada tidak pernah benar-benar kering. Sebab selama masih ada ketidakadilan di muka bumi, manusia akan selalu membutuhkan seseorang yang mengingatkan bahwa kebenaran memang bisa terluka, tetapi tidak pernah benar-benar kalah.

Bagikan:
Terkait
Komentar