KHAMENEI.ID– Setiap Idulfitri, jutaan Muslim mengangkat tangan dalam doa yang sama. Di antara lantunan takbir dan suasana kemenangan setelah sebulan berpuasa, ada satu doa yang sering diucapkan tanpa benar-benar direnungkan maknanya. Padahal, di dalamnya tersimpan pesan yang melampaui perayaan, melampaui kebahagiaan pribadi, bahkan melampaui batas sebuah hari raya. Doa itu berbicara tentang kemuliaan Nabi Muhammad saw sekaligus masa depan umat yang beliau tinggalkan.
Dalam doa qunut Idulfitri terdapat penggalan yang berbunyi:
أَسْأَلُكَ بِحَقِّ هَذَا الْيَوْمِ الَّذِي جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمِينَ عِيداً وَ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ ذُخْراً وَ شَرَفاً وَ كَرَامَةً وَ مَزِيداً
Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu demi hari ini yang Engkau jadikan sebagai hari raya bagi kaum Muslimin, serta sebagai simpanan kemuliaan, kehormatan, dan tambahan derajat bagi Muhammad”
Kalimat itu menyebut Idulfitri sebagai kehormatan, kemuliaan, dan simpanan bagi Rasulullah saw. Ungkapan ini mengundang pertanyaan yang menarik: bagaimana mungkin sebuah hari raya menjadi kehormatan bagi Nabi saw, sementara beliau telah menyampaikan risalahnya berabad-abad yang lalu?
Jawabannya mungkin tidak terletak pada hari rayanya semata, melainkan pada apa yang tampak di dalamnya. Ketika jutaan orang berdiri dalam satu saf, menghadap kiblat yang sama, mengucapkan takbir yang sama, dan merasakan kebahagiaan yang sama, dunia menyaksikan satu kenyataan: risalah Nabi saw masih hidup. Islam bukan sekadar ajaran yang tertulis dalam kitab, melainkan komunitas yang terus bernapas.
Namun, keindahan itu hanya memiliki makna apabila persatuan benar-benar hadir di baliknya.
Di titik inilah Idulfitri menjadi lebih dari sekadar penanda berakhirnya Ramadan. Ia menjadi cermin keadaan umat. Bila hari raya hanya memperlihatkan keramaian tanpa kebersamaan, maka yang tersisa hanyalah ritual. Sebaliknya, ketika hati-hati yang selama ini dipenuhi prasangka mulai saling memaafkan, ketika perbedaan tidak lagi berubah menjadi permusuhan, saat itulah Idulfitri benar-benar menjadi kehormatan bagi Nabi Muhammad saw.
Persatuan umat bukan sekadar strategi sosial atau kebutuhan politik. Dalam pandangan Islam, ia adalah bagian dari penghormatan kepada Rasulullah saw sendiri. Sebab, tidak ada warisan yang lebih besar yang beliau tinggalkan selain sebuah umat yang dipersatukan oleh iman.
Sayangnya, tantangan terbesar umat Islam hari ini justru lahir dari dalam dirinya sendiri. Perbedaan mazhab, organisasi, pilihan politik, bahkan persoalan-persoalan yang bersifat cabang sering kali berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai. Teknologi digital mempercepat penyebaran informasi, tetapi pada saat yang sama juga mempercepat penyebaran kebencian. Kalimat yang seharusnya menjadi nasihat berubah menjadi senjata. Media sosial yang semestinya menjadi ruang silaturahmi sering menjelma menjadi arena pertengkaran tanpa akhir.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perpecahan selalu menjadi pintu masuk bagi kelemahan. Tidak sedikit bangsa yang runtuh bukan karena musuh dari luar terlalu kuat, melainkan karena ikatan di dalamnya telah rapuh lebih dahulu.
Dalam konteks yang lebih luas, persatuan bukan berarti menghapus seluruh perbedaan. Islam sejak awal mengenal keberagaman pandangan. Para ulama berbeda pendapat dalam banyak persoalan fikih, tetapi mereka tetap menjaga adab dan rasa hormat. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan, melainkan ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Persatuan juga tidak menuntut semua orang berpikir sama. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa tujuan bersama jauh lebih besar daripada ego kelompok. Umat yang sehat bukan umat yang seragam, melainkan umat yang mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan prinsip.
Gagasan ini kemudian menyentuh makna yang lebih dalam tentang doa Idulfitri. Ketika seseorang memohon agar dimasukkan ke dalam segala kebaikan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya, sesungguhnya ia sedang meminta lebih dari sekadar keberuntungan pribadi. Ia sedang memohon agar ikut berada di jalan yang sama: jalan kasih sayang, persaudaraan, dan kemuliaan akhlak.
Sebaliknya, ketika ia memohon agar dijauhkan dari segala keburukan yang dijauhkan dari Nabi saw dan keluarganya, itu berarti memohon agar diselamatkan dari penyakit-penyakit yang merusak kehidupan bersama kesombongan, kebencian, kedengkian, dan fanatisme yang membutakan.
Barangkali inilah pesan yang paling relevan bagi dunia Islam hari ini. Kemajuan ilmu pengetahuan, kekuatan ekonomi, atau besarnya jumlah penduduk tidak akan banyak berarti apabila umat kehilangan kemampuan untuk menjaga persaudaraan. Sebaliknya, sebuah komunitas yang saling percaya akan mampu menghadapi tantangan sebesar apa pun.
Idulfitri datang setiap tahun untuk mengingatkan bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan menahan lapar dan dahaga. Kemenangan juga berarti mampu mengalahkan ego yang membuat seseorang merasa paling benar, paling suci, atau paling layak didengar. Sebab, dari ego itulah benih-benih perpecahan tumbuh.
Pada akhirnya, kehormatan Nabi Muhammad saw tidak hanya dikenang melalui pujian dan shalawat yang terus bergema. Kehormatan itu juga dijaga melalui sikap umatnya. Setiap jembatan yang dibangun di atas perbedaan, setiap permusuhan yang diakhiri dengan saling memaafkan, dan setiap upaya merawat persaudaraan adalah cara nyata memuliakan beliau.
Mungkin itulah makna terdalam dari doa Idulfitri. Bahwa hari raya bukan sekadar penutup Ramadan, melainkan pengingat bahwa warisan terbesar Nabi a.s adalah sebuah umat yang bersatu. Selama persatuan itu terus dijaga, selama perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, selama persaudaraan lebih kuat daripada kebencian, maka kemuliaan Rasulullah a.s akan tetap hidup di tengah umat yang mengamalkan ajarannya, bukan sekadar mengucapkannya.







