Ketika Agama Terlalu Menenangkan: Mengapa Rasa Takut kepada Tuhan Mulai Hilang dari Hati Manusia

KHAMENEI.ID– Ada fenomena menarik dalam kehidupan spiritual modern: manusia semakin suka mendengar agama yang menenangkan, tetapi semakin enggan mendengar agama yang mengguncang hati.

Ceramah tentang kasih sayang Tuhan selalu penuh peminat. Kalimat-kalimat motivasi spiritual cepat menyebar di media sosial. Orang menyukai agama yang membuat dirinya merasa damai, diterima, dan aman. Tetapi ketika agama mulai berbicara tentang tanggung jawab, dosa, hisab, atau ancaman kehilangan arah hidup, banyak yang perlahan menjauh.

Padahal dalam tradisi spiritual Islam, harapan saja tidak pernah cukup. Ada satu unsur lain yang harus hidup di dalam hati manusia: rasa takut kepada Tuhan.

Bukan takut yang membuat manusia putus asa, melainkan takut yang membuat manusia tetap terjaga.

Dalam salah satu doa mendalam di Shahifah Sajjadiyah, kumpulan doa Imam Sajjad a.s yang sering disebut sebagai mahakarya spiritual Islam, terdapat kalimat yang sangat mengguncang:

بِمَنْ خَوْفُهُ مِنْكَ أَكْثَرُ مِنْ طَمَعِهِ فِيكَ
“Seseorang yang rasa takutnya kepada-Mu lebih besar daripada harapannya kepada-Mu”

Lalu Imam Sajjad a.s melanjutkan dengan penjelasan penting:

لَا أَنْ يَكُونَ يَأْسُهُ قُنُوطاً
“Bukan karena ia putus asa dari rahmat-Mu”

Di sinilah letak keseimbangan spiritual yang mulai hilang dari banyak kehidupan modern. Islam tidak mengajarkan keputusasaan, tetapi juga tidak membiarkan manusia terlalu merasa aman terhadap dirinya sendiri.

Sebab manusia punya kecenderungan aneh: ketika terlalu yakin dirinya baik-baik saja, ia mulai berhenti mengoreksi diri.

Kita bisa melihat gejala itu di mana-mana. Banyak orang merasa religius hanya karena suasana spiritual sesaat. Ada yang rajin mengikuti kajian, tetapi tetap mudah menyakiti orang lain. Ada yang gemar mengutip ayat rahmat Tuhan, tetapi abai terhadap kewajiban moral paling dasar. Ada pula yang merasa dekat dengan Tuhan hanya karena hatinya “terasa tenang”, meski hidupnya perlahan menjauh dari disiplin spiritual.

Baca Juga  Zikir yang Menyelamatkan: Saat Mengingat Tuhan Menjadi Rem di Persimpangan Dosa

Agama kemudian berubah menjadi semacam penghiburan psikologis semata.

Padahal Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kabar gembira. Ia juga berbicara tentang peringatan. Menariknya, dalam banyak ayat, kabar gembira sering ditujukan khusus kepada orang-orang beriman yang sungguh-sungguh menjaga dirinya. Tetapi peringatan ditujukan kepada semua manusia.

Karena manusia memang mudah tertidur oleh rasa aman palsu.

Imam Sajjad a.s dalam doanya menggambarkan keadaan batin yang sangat jujur: seseorang merasa takut bukan karena meragukan kasih Tuhan, tetapi karena sadar betapa sedikit amal baiknya dibanding kesalahannya.

Ini bukan pesimisme. Ini kesadaran moral.

Sebab salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan spiritual adalah ketika manusia mulai merasa dirinya sudah cukup baik.

Mungkin itu sebabnya para nabi dan orang-orang saleh justru sering menangis dalam ibadahnya. Bukan karena mereka tidak mengenal rahmat Allah, tetapi karena semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia sadar akan kekurangan dirinya sendiri.

Ada sebuah riwayat yang sangat menyentuh tentang Nabi Muhammad saw. Suatu malam, beliau beribadah begitu lama hingga kakinya bengkak. Aisyah bertanya heran:

“Mengapa engkau bersusah payah seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?”

Rasulullah saw menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Jawaban itu luar biasa dalam. Nabi tidak melihat ampunan sebagai alasan untuk bersantai, tetapi sebagai alasan untuk semakin bersungguh-sungguh.

Berbeda dengan manusia modern yang kadang menjadikan rahmat Allah sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan secara spiritual.

Kita hidup di zaman yang sangat alergi terhadap rasa takut. Semua harus terasa nyaman. Bahkan agama pun kadang dipaksa menjadi ruang yang hanya berisi afirmasi positif. Padahal rasa takut yang sehat justru penting agar manusia tidak kehilangan kewaspadaan moral.

Baca Juga  Kejujuran yang Punah dan Manusia yang Dirindukan Nabi 

Seorang pelajar yang takut gagal akan belajar lebih serius. Seorang dokter yang takut melakukan kesalahan akan lebih hati-hati. Seorang pemimpin yang takut mempertanggungjawabkan kekuasaannya akan lebih berhati nurani.

Begitu pula dalam hubungan dengan Allah Ta’ala.

Rasa takut membuat manusia tetap rendah hati. Ia mencegah manusia dari kesombongan spiritual dan perasaan seolah dirinya sudah aman hanya karena memiliki identitas keagamaan.

Dan mungkin itulah penyakit paling berbahaya hari ini: manusia merasa dekat dengan Tuhan tanpa benar-benar berjuang melawan dirinya sendiri.

Padahal jalan spiritual tidak pernah mudah.

Dalam teks doa Imam Sajjad a.s tersebut, ada kesadaran mendalam bahwa perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan berat yang membutuhkan kesiapan batin. Manusia harus terus waspada terhadap dirinya sendiri, terhadap hawa nafsunya, terhadap kecenderungan untuk tertipu oleh citra kesalehan.

Karena sering kali manusia tidak jatuh karena tidak tahu jalan yang benar, tetapi karena terlalu yakin dirinya sudah berada di jalan itu.

Tentu saja rasa takut tanpa harapan akan melahirkan keputusasaan. Tetapi harapan tanpa rasa takut juga bisa melahirkan kelalaian.

Islam menempatkan manusia di antara keduanya: berharap kepada kasih Tuhan, tetapi tetap gemetar terhadap kemungkinan gagal menjaga amanah hidupnya.

Barangkali seperti seorang musafir yang terus berjalan di malam hari. Ia yakin ada tujuan indah di depan sana, tetapi ia juga sadar jalan itu penuh jurang. Harapan membuatnya terus melangkah. Ketakutan membuatnya tetap berhati-hati.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk menjual rasa nyaman spiritual, manusia justru perlu kembali belajar satu hal yang mulai hilang: bagaimana merasa takut dengan cara yang membuat hati tetap hidup.

Bagikan:
Terkait
Komentar