Tabarruj dan Diskriminasi Dunia Modern Terhadap Perempuan

KHAMENEI.ID – Bayangkan sebuah dunia dimana perempuan dituntut tampil memukau setiap saat—bukan karena kebahagiaan pribadi, melainkan agar dinikmati oleh pandangan laki-laki. . Apakah itu bentuk kebebasan atau justru perbudakan modern? Ayatullah Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam beberapa pertemuan khusus dengan peseerta perempuan menyatakan bahwa fenomena ini tak lain merupakan “ketidakadilan” terbesar terhadap kaum perempuan di era yang mengaku beradab.

Kebobrokan Moral yang Terorganisir

Imam Ali Khamenei menjelaskan bahwa salah satu titik temu antara “kebodohan modern” (jahiliah modern) dan kebodohan kuno (zaman pra-Islam) adalah kebobrokan moral, terutama eksploitasi terhadap perempuan. Beliau menyatakan: “Banyak dari keburukan moral yang dulu pada masa awal diutusnya Nabi lazim di Mekah dan Jazirah Arab, dan Nabi Saw melawannya—keburukan itu saat ini di dunia Barat yang disebut beradab ada secara terorganisir, jauh lebih parah dan lebih luas. Persis keburukan moral yang sama kini ada dalam skala besar dengan intensitas yang semakin tinggi.” (Disampaikan pada 10-10 1401 HS). Salah satu keburukan moral tersebut adalah tabarruj—yakni pamer diri perempuan dengan berhias secara berlebihan di hadapan laki-laki yang bukan muhrim.

Tabarruj: Bukan Sekadar Berhias

Penting untuk dipahami bahwa Islam tidak melarang keindahan. Kecenderungan terhadap keindahan, mempercantik diri, dan mencintai keindahan adalah fitrah manusia. Hal ini wajar dan tidak salah. Bahkan dalam Islam, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” Namun, yang dilarang adalah ketika keindahan itu menjadi fitnah dan kerusakan. Jika merawat penampilan hanya untuk pamer diri (tabarruj) dan menyebabkan hubungan bebas antara laki-laki dan perempuan, maka itulah yang merusak masyarakat. Jika berdandan menjadi kesibukan utama hidup, itu adalah kemerosotan. Sebaliknya, merawat penampilan tanpa ada unsur pamer dan tabarruj tidaklah bermasalah.

Baca Juga  Perempuan adalah Kunci Kemenangan: Pesan Imam Khamenei Kepada Muslimah Dunia

Hadis tentang Kerapian Nabi

Lebih lanjut, Imam Ali Khamenei mengingatkan bahwa Islam sangat memperhatikan dan menggap penting  keindahan. Dalam kitab-kitab hadis, terutama bab Nikah, dibahas bahwa laki-laki dan perempuan hendaknya merawat diri. Misalnya, bagi pemudi dianjurkan memanjangkan rambut, karena “rambut yang indah termasuk kemuliaan Allah, maka muliakanlah.” Bahkan Nabi Muhammad saw. sebelum menemui sahabat-sahabatnya, beliau melihat ke bejana berisi air untuk merapikan penampilan, karena saat itu cermin belum ada. Ini menunjukkan bahwa penampilan rapi dan pakaian bagus adalah hal yang diinginkan dalam syariat. Yang buruk adalah ketika hal itu menjadi sarana fitnah, kerusakan, dan tabarruj—yang bahayanya sampai ke keluarga dan generasi berikutnya.

Penghinaan Terbesar terhadap Perempuan

Puncak kritik Beliau tertuju pada sistem Barat yang secara bertahap menciptakan “diskriminasi”: satu pihak sebagai pengambil manfaat (laki-laki) dan pihak lain sebagai yang dimanfaatkan (perempuan). Dalam budaya Barat, jika seorang perempuan ingin tampil di masyarakat dan mendapat kedudukan, ia harus menonjolkan daya tarik seksualnya. Bahkan di acara-acara resmi, pakaian perempuan harus sedemikian rupa sehingga enak dipandang laki-laki. Inilah yang disebut sebagai pukulan terbesar, penghinaan terbesar, dan kezaliman terbesar dalam masalah perempuan. Budaya ini kemudian ditiru oleh banyak pihak dan telah mapan di dunia. Akibatnya, ketika pakaian sopan, tidak ber-tabarruj, dan tidak berdandan di masyarakat diangkat sebagai isu, mesin propaganda global bereaksi keras. Itu bukti adanya strategi panjang untuk menetapkan posisi yang salah dan menghina bagi perempuan—dan sayangnya, mereka berhasil.

Tabarruj: Jahiliah Modern yang Berpakaian Mewah

Apa yang dipromosikan mesin-mesin politik Barat saat ini tidak lain adalah kebodohan (jahiliah) yang sama yang diutus Nabi untuk menghilangkannya. Tanda-tandanya: ketidakadilan, diskriminasi, mengabaikan martabat manusia, dan mengedepankan masalah seksual. Al-Qur’an dengan tegas berfirman kepada istri-istri Nabi: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33). Salah satu tanda jahiliah dahulu adalah tabarruj perempuan. Kini, tabarruj menjadi salah satu manifestasi utama peradaban Barat. Ini adalah jahiliah yang sama, hanya saja ia bersenjatakan propaganda modern sehingga mampu menutupi fakta dari pandangan masyarakat. Umat Islam wajib memahami dan mengetahui hal ini.

Baca Juga  Rahasia Keluarga Bahagia: Jangan Mulai Pernikahan dengan Gaya Hidup Mewah!

Mengapa Tabarruj Disebut Patriarki?

Imam Ali Khamenei juga menegaskan bahwa mendorong perempuan untuk berdandan, bergaya mewah, dan ber-tabarruj adalah bukti nyata dari budaya patriarki ala Barat. Mereka menginginkan perempuan untuk dinikmati laki-laki. Karena itu mereka menyuruh perempuan berdandan agar laki-laki mendapat kenikmatan visual. Ini bukan kebebasan perempuan, melainkan kebebasan laki-laki. Para penguasa Barat justru mendorong perempuan membuka hijab, berdandan, dan ber-tabarruj di hadapan laki-laki—itu semua demi kepuasaan laki-laki, bukan kehormatan perempuan.

Larangan Tabarruj dalam Olahraga Wanita

Bahkan dalam bidang olahraga wanita dilarang  ber-tabarruj dan pamer diri. Jika masyarakat berubah menjadi panggung pamer diri perempuan, maka urusan serius seperti keluarga, kesehatan, kesucian, dan kepolosan pemuda akan menghadapi masalah dan kekosongan. Ini adalah peringatan tegas bahwa tidak ada satu ranah pun—termasuk olahraga—yang menghalalkan perempuan mengekspos kecantikannya secara berlebihan di depan umum.

Fitnah Penghancur Keluarga

Akar masalah dari tabarruj adalah fitnah. Ini bukan hanya menyebabkan pemuda dan pemudi terjerumus dosa—itu masalah terkecil. Konsekuensinya merembet ke seluruh keluarga. Hubungan tanpa aturan antara laki-laki dan perempuan adalah racun mematikan bagi bangunan keluarga. Keluarga hidup dengan cinta. Namun jika cinta terhadap keindahan dan lawan jenis bisa dipenuhi di mana-mana (di jalan, mall, media sosial, dll.), maka tidak ada lagi dukungan kuat yang membuat keluarga kokoh. Keluarga menjadi goyah, seperti yang terjadi di negara-negara Barat, terutama Eropa Utara dan Amerika Serikat.

Penutup

Teks-teks di atas merupakan kutipan langsung dari pernyataan Ayatullah Agung Khamenei pada berbagai kesempatan (1376-1393 HS). Inti pesannya: “Tabarruj bukanlah kemajuan atau pembebasan perempuan, melainkan ketidakseimbangan yang dikemas secara modern. Islam memuliakan perempuan dengan menjaganya dari eksploitasi visual, bukan dengan memamerkannya sebagai komoditas seksual. Sebaliknya, model peradaban Barat justru mengabadikan posisi perempuan sebagai objek kenikmatan laki-laki—sebuah jahiliah yang bersinar dengan lampu neon”. Maka pertanyaan untuk kita semua: akankah kita terus terpukau oleh gemerlapnya, ataukah kita sadar bahwa itu hanyalah belenggu baru dengan pita yang indah?

Baca Juga  Bukan Pembantu, Melainkan Bunga – Hak Mendasar Perempuan dalam Pandangan Islam yang Menggetarkan (Bag2)
Bagikan:
Terkait
Komentar