KHAMENEI.ID – Bayangkan, di salah satu negara paling maju di dunia, hampir separuh anak-anak tumbuh tanpa figur seorang ayah. Inilah realitas pahit yang kini membayangi Barat—sebuah kawasan yang selama ini mengklaim diri sebagai pelopor peradaban dan kebebasan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, dalam pertemuan dengan ribuan perempuan dewasa dan remaja perempuan pada tanggal 12 Azar 1404 HS, melukiskan potret gelap kondisi keluarga di Barat. Beliau menyoroti bagaimana budaya kapitalisme Barat dengan bangga menyebut berbagai kemaksiatan sebagai “kebebasan”, padahal faktanya hal itu telah menghancurkan fondasi terpenting masyarakat manusia: keluarga. Dari anak-anak yang tidak mengenal ayah, memudarnya hubungan kekerabatan, hingga maraknya geng pemburu gadis muda, semua dikemas dalam label kebebasan yang menyesatkan.
Salah satu indikator paling jelas dari keruntuhan ini adalah penurunan drastis angka pernikahan. Badan Statistik Eropa (Eurostat) melaporkan bahwa tingkat pernikahan di Uni Eropa dari tahun 1964 hingga 2023 telah menyusut hingga setengahnya. Kondisi serupa terjadi di Inggris, di mana angka pernikahan menyentuh titik terendah sejak tahun 1862. Prediksi bahkan menyebutkan bahwa hanya separuh dari remaja masa kini yang akan menikah seumur hidup mereka. Lebih memprihatinkan lagi, di negara-negara Skandinavia yang terkenal dengan kemajuan sosialnya, kurang dari 30 persen perempuan memilih untuk menikah hingga akhir hayat. Sebagai perbandingan, pada tahun 1960, lebih dari 70 persen orang dewasa Inggris terikat dalam pernikahan, namun kini angka itu merosot di bawah 50 persen. Di Amerika Serikat, tingkat pernikahan sejak tahun 1970 telah anjlok hingga 60 persen. Ini bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan sinyal kuat kerapuhan struktur sosial dan emosional yang selama ini menjadi landasan keluarga.
Seiring dengan krisis pernikahan, lonjakan angka perceraian semakin menunjukkan betapa rapuhnya institusi keluarga, bahkan setelah ia terbentuk. Data Eurostat 2023 mengungkapkan bahwa tingkat perceraian di Uni Eropa dalam periode 1964 hingga 2023 meningkat lebih dari dua kali lipat. Beberapa negara mencatatkan angka yang mengkhawatirkan: Belgia dengan 70 persen pernikahan berujung perceraian, Swedia 64 persen, Amerika Serikat 53 persen, dan Inggris 42 persen. Di Inggris sendiri, setiap jam tercatat 13 perceraian, dan lebih dari sepertiga pernikahan bubar sebelum memasuki dekade pertama. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan cerminan langsung dari ketidakstabilan hubungan, erosi kepercayaan terhadap institusi perkawinan, dan hilangnya komitmen jangka panjang. Pada tahun 2024, probabilitas orang dewasa Amerika untuk menikah menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1940. Mereka yang tetap menikah pun melakukannya di usia yang lebih tua, menandakan bahwa pernikahan telah kehilangan posisi sentralnya dalam kehidupan.
Dampak paling tragis dari keruntuhan ini adalah meledaknya jumlah kelahiran di luar nikah dan anak-anak yang tumbuh tanpa ayah. Laporan Eurostat tahun 2023 mencatat bahwa di enam negara anggota Uni Eropa (Bulgaria, Portugal, Prancis, Swedia, Slovenia, dan Estonian), kelahiran di luar nikah telah melampaui kelahiran di dalam nikah. Secara keseluruhan, rasio kelahiran di luar nikah di Uni Eropa mencapai 42 persen pada tahun 2018, melonjak 17 persen dibanding tahun 2000. Di Amerika, data dari Brookings Institution menunjukkan peningkatan drastis sejak 1970. Lebih dari sepertiga anak kulit hitam dan hampir seperlima anak kulit putih kini tumbuh dalam keluarga orangtua tunggal, sebuah kondisi yang membuat mereka sangat rentan terhadap kemiskinan, kekurangan kasih sayang, serta berbagai masalah sosial. Peneliti bahkan menyebutkan bahwa sekitar 75 persen peningkatan kelahiran tidak sah pada kulit putih dan 60 persen pada kulit hitam antara tahun 1965-1990 berkaitan langsung dengan menurunnya praktik pernikahan paksa. Saat ini, lebih dari 40 persen ibu di Amerika adalah ibu tunggal yang melahirkan dari hubungan jangka pendek, angka yang hanya 5 persen pada tahun 1960. Keluarga tidak lagi berfungsi sebagai lembaga stabil untuk membesarkan generasi penerus.
Konsekuensi paling pahit dari semua ini adalah jumlah anak yang kehilangan figur ayah. Di Amerika, sepertiga anak—sekitar 15 juta jiwa—hidup tanpa ayah. Di daerah perkotaan, bahkan hanya sepersepuluh anak yang tinggal bersama ayah mereka. Di Inggris, hampir separuh anak tumbuh tanpa ayah, dan sepertiga dari mereka tidak memiliki hubungan bermakna dengan ayah biologisnya. Data Eurostat juga menunjukkan bahwa 16 persen keluarga dengan anak di Uni Eropa adalah keluarga orangtua tunggal, sementara di Inggris angka mencapai seperempat. Lebih mengerikan lagi, anak-anak yang lahir dari hubungan kohabitasi tanpa pernikahan formal memiliki kemungkinan 94 persen lebih tinggi untuk menyaksikan perceraian orangtua mereka sebelum usia 12 tahun. Fakta-fakta ini dengan gamblang menunjukkan bahwa ketidakstabilan keluarga memberikan efek langsung terhadap masa depan sosial, ekonomi, dan psikologis generasi mendatang. Ini bukan lagi sekadar perubahan, melainkan sebuah disintegrasi sistematis yang mengancam keberlanjutan masyarakat Barat itu sendiri.
Gerakan perempuan yang mengusung isu kebebasan dan penghapusan diskriminasi telah menorehkan luka mendalam pada institusi keluarga. Gerakan ini dibungkus mulus seolah-olah menawarkan kondisi ideal yang diidam-idamkan kaum wanita. Bersamaan dengan itu, krisis pernikahan dan meningkatnya angka perceraian terjadi hampir di seluruh belahan dunia tanpa disadari penyebabnya. Padahal, model “kebebasan” ala Barat hari ini telah menjadi standar atas berbagai proyek pembangunan yang dinamakan “berkelanjutan” banyak negara-negara di dunia. Karena itu, agenda penyelamatan krisis keluarga menjadi penting untuk menjadi prioritas baik oleh masyarakat maupun negara. Jangan sampai kerusakan masyarakat yang disebabkan oleh ketidakstabilan keluarga sedemikian rupa hingga tidak lagi dapat diobati.
Keluarga perlu menjadi poros masyarakat dan secara menempati posisi prioritas dalam kebijakan negara serta mendapat dukungan strutural dalam pelaksanannya. Kalangan akademisi bidang ilmu terkait membantu dengan melakukan penelitian dan kajian dalam rangka membangun sistem yang dapat menyelamatkan lembaga keluarga hingga keluar dari kondisi krisisnya.
Sumber: https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php?title=Trafficking_in_human_beings_statistics ; https://www.brookings.edu/articles/an-analysis-of-out-of-wedlock-births-in-the-united-states/ ; https://ec.europa.eu/eurostat/web/products-eurostat-news/-/ddn-20200717-1







