Dalam berbagai nasihatnya kepada pemuda-pemudi yang akad pernikahannya dilakukan oleh Beliau, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, menekankan bahwa poros utama dari sebuah rumah tangga bukanlah harta, kecantikan, atau kemewahan, melainkan cinta. Cinta (mawaddah) yang Allah Swt tanamkan dalam hati pasangan suami-istri adalah perekat yang menjaga keutuhan keluarga di tengah badai kehidupan. Lalu, bagaimana Islam memandang kesendirian, kesederhanaan, dan peran masing-masing pihak? Berikut adalah petikan-petikan mendalam dari berbagai khotbah akad nikah beliau.
Allah Swt Tidak Menyukai Kesendirian
Allah Swt tidak menyukai pria dan wanita yang hidup menyendiri, terlebih mereka yang masih muda dan baru pertama kali hendak menikah. Bahkan, ketidaksukaan ini tidak terbatas pada kaum muda saja. Allah Ta’ala justru menyukai kehidupan bersama dan berpasangan. Dalam pandangan Islam, seseorang yang hidup sendiri sepanjang hayatnya bukanlah kondisi yang diinginkan. Ia bagaikan makhluk asing dalam keseluruhan tubuh masyarakat. Islam menghendaki agar keluarga menjadi sel sejati dari masyarakat, bukan individu yang menyendiri.
Harta dan Kecantikan vs. Kualitas Diri
Jika seseorang menikah karena terdorong oleh harta dan kecantikan, maka berdasarkan riwayat, boleh jadi Allah Swt memberikan itu semua, tetapi boleh juga tidak. Namun, jika langkah pernikahan didasari oleh ketakwaan dan menjaga kehormatan diri (iffah), maka AllahSwt akan menganugerahkan harta sekaligus kecantikan kepadanya. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin kecantikan bisa diberikan? Sebab kecantikan itu berada pada mata, hati, dan pandangan seseorang. Jika seorang suami mencintai istrinya, ia akan melihatnya cantik meskipun secara fisik tidak terlalu cantik. Sebaliknya, jika tidak ada cinta, istri secantik apa pun tidak akan tampak indah di matanya.
Pria sebagai Penopang, Wanita sebagai Tanaman Harum
Islam memandang pria sebagai qawwam (penopang/pemimpin) dan wanita sebagai raihan (tanaman harum yang menyegarkan). Ini bukan bentuk penghinaan terhadap salah satu pihak, juga bukan pengabaian hak masing-masing. Ini adalah cara pandang yang tepat terhadap fitrah mereka. Dalam keseimbangan, keduanya setara. Ketika sifat lembut, indah, penyejuk, dan penghias spiritual kehidupan (wanita) diletakkan di satu sisi timbangan, dan sifat manajerial, ketahanan, tempat bersandar (pria) diletakkan di sisi lain, maka keduanya menjadi seimbang. Tidak ada yang lebih unggul satu sama lain.
Makna Kebahagiaan Sejati
Kebahagiaan hakiki terdiri dari ketenangan (ketenteraman), perasaan bahagia, dan rasa aman. Pesta, pemborosan, dan berlebih-lebihan tidak akan membahagiakan seseorang. Demikian pula mahar (maskawin) dan seserahan (perlengkapan pengantin) bukanlah sumber kebahagiaan. Yang benar-benar membahagiakan adalah komitmen terhadap metode syariat dan aturan agama.
Di Rumah Tangga Cinta Adalah Segalanya
Jika dalam kehidupan rumah tangga terdapat cinta, maka segala kesulitan di luar rumah akan terasa ringan, dan bagi istri, kesulitan di dalam rumah pun akan terasa mudah. Inti permasalahan dalam pernikahan adalah cinta. Para pemuda dan pemudi hendaknya menyadari hal ini. Jagalah cinta (mawaddah) yang telah Allah tempatkan di hati kalian. Cinta adalah perekat yang mempertahankan pasangan suami-istri, mencegah perceraian, dan melahirkan kesetiaan.
Peran Orang Tua dan Batasan Campur Tangan
Kaum muda perlu dibimbing, tetapi dalam detail kehidupan mereka, orang tua tidak boleh ikut campur secara berlebihan karena justru akan mempersulit. Jangan sampai campur tangan yang tidak perlu, ketidaksabaran, atau sifat kekanak-kanakan menggoyahkan fondasi pernikahan yang kokoh hanya karena hal sepele. Jika intervensi orang tua menyebabkan hati pasangan suami-istri menjadi sakit (tidak nyaman), maka mereka tidak lagi diizinkan untuk ikut campur.
Kesederhanaan Hidup dan Qanaah (Merasa Cukup)
Jalani hidup dengan sederhana. Namun perlu dicatat, kesederhanaan yang dimaksud bukanlah gaya hidup zuhud dan ibadah berlebihan layaknya para abid. Kesederhanaan itu bersifat relatif terhadap kebiasaan masyarakat modern. Jika para wali Allah melihat kesederhanaan kita, mungkin mereka masih akan menyoroti seribu kekurangan. Jangan pernah malu terhadap qanaah. Qanaah bukan hanya untuk orang miskin. Orang kaya pun perlu memiliki sifat qanaah, yaitu berhenti pada batas kebutuhan dan kecukupan. Tuntutan materi yang berlebihan justru menyebabkan kesempitan hidup dan ketidaknyamanan. Sebaliknya, jika seseorang menurunkan tuntutannya, itu akan menjadi sumber kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.
Mulailah Kesederhanaan dari Acara Pernikahan
Terapkan kesederhanaan dalam segala urusan hidup, dan mulailah dari acara pernikahan. Jika pernikahan diselenggarakan secara sederhana, langkah-langkah selanjutnya pun akan mudah. Namun jika kalian mengadakan pesta mewah bak ningrat dan bangsawan zaman taghut, maka setelah itu kalian tidak akan sanggup hidup di rumah kecil dengan peralatan seadanya. Fondasi kehidupan sejak awal harus diletakkan di atas kesederhanaan agar kehidupan menjadi mudah bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Tradisi Pernikahan dalam Islam Itu Sederhana
Dalam Islam, ritual pernikahan itu sederhana. Pesta, kegembiraan, dan perayaan tidak dilarang, setiap orang bebas melakukannya sesuai keinginan. Namun semua itu bukanlah bagian dari ritual resmi agama. Tidak seperti tradisi lain yang mewajibkan upacara di kuil atau sujud kepada seseorang, dalam Islam hanya ada ijab kabul syar’i yang dibacakan, disaksikan, dan dicatat secara resmi. Tidak ada ritual rumit. Pasangan bisa menikah dengan sangat mudah tanpa prosedur yang berbelit-belit.
Meneladani Keluarga Rasulullah Saw
Pemudi terbaik di dunia adalah Fatimah az-Zahra, dan pria terbaik sekaligus menantu terbaik adalah Ali bin Abi Thalib. Ribuan pemuda tampan, kuat, dan populer tidak sebanding dengan sehelai rambut Ali. Demikian pula ribuan gadis cantik tidak sebanding dengan sehelai rambut Fatimah. Mereka berdua adalah pemimpin besar di zamannya: Fatimah Az Zahra putri pemimpin masyarakat Islam, dan Ali bin Abi Thalib as panglima perang nomor satu. Namun lihatlah bagaimana mereka menikah: mahar yang sedikit, seserahan yang sederhana, segala sesuatu dengan nama Allah dan mengingat-Nya. Merekalah teladan kita. Pada masa itu, ada orang-orang bodoh yang menentukan mahar anak perempuannya mencapai seribu unta. Apakah mereka lebih mulia dari putri Rasulullah? Jangan tiru mereka, tetapi tirulah Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib as.







