Kemajuan Tanpa Keselamatan Adalah Kegagalan: Mengapa Rakyat Sejahtera Belum Tentu Bahagia? 

KHAMENEI.ID– Di zaman ketika kemajuan sering diukur dengan angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kesejahteraan material, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: untuk apa semua itu dilakukan? Apakah kemajuan adalah tujuan akhir, atau hanya alat menuju sesuatu yang lebih besar?

Pertanyaan ini menjadi penting karena sejarah manusia penuh dengan paradoks. Banyak bangsa mencapai kemakmuran, tetapi warganya tetap gelisah. Teknologi berkembang pesat, namun kesepian dan kecemasan justru meningkat. Negara menjadi kuat, tetapi manusia di dalamnya kehilangan arah. Kemajuan ternyata tidak selalu identik dengan kebahagiaan.

Dalam pandangan Islam, pusat dari seluruh proses pembangunan bukanlah negara, bukan pula ekonomi, melainkan manusia. Namun manusia yang dimaksud bukan sekadar makhluk biologis yang membutuhkan makan, tempat tinggal, dan rasa aman. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab moral, kebebasan memilih, dan tujuan hidup yang melampaui dunia yang fana.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan Islam dan banyak filsafat materialistik modern. Dalam sejumlah pemikiran modern, manusia sering dipahami sebagai makhluk ekonomi yang mengejar kenyamanan dan kepuasan. Sementara dalam Islam, manusia adalah makhluk yang sedang menempuh perjalanan menuju keselamatan dan kesempurnaan dirinya.

Karena itu, berbagai tujuan sosial yang sering dianggap sebagai puncak keberhasilan, keadilan, keamanan, kemakmuran, bahkan kekuasaan politik sebenarnya bukan tujuan akhir. Semua itu penting, tetapi berfungsi sebagai sarana. Nilai-nilai tersebut membantu manusia mencapai sesuatu yang lebih tinggi: kebahagiaan sejati dan keselamatan hidupnya.

Pandangan ini mungkin terdengar tidak biasa di tengah budaya modern yang mengagungkan hasil-hasil yang terlihat. Namun Islam mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan manusia tidak berhenti pada apa yang berhasil ia bangun di luar dirinya, melainkan pada apa yang berhasil ia bangun di dalam dirinya.

Baca Juga  Fatimah Az-Zahra Membuktikan: Kemuliaan Tidak Lahir dari Darah Bangsawan 

Al-Qur’an menyinggung pentingnya menjaga kehidupan manusia melalui firman-Nya:

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Ayat ini biasanya dipahami sebagai anjuran menyelamatkan seseorang dari kematian. Namun dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir a.s, makna yang lebih dalam dijelaskan. Ketika seseorang bertanya tentang ayat tersebut, sang Imam menjelaskan bahwa menyelamatkan seseorang dari kebakaran atau tenggelam memang termasuk maknanya. Tetapi makna yang lebih agung adalah membawa seseorang keluar dari kesesatan menuju petunjuk.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terdiri dari tubuh, tetapi juga arah hidup. Menolong orang agar menemukan kebenaran, makna, dan tujuan hidup dipandang sebagai bentuk penyelamatan yang lebih besar.

Namun ada hal yang menarik. Islam sangat menekankan kepedulian sosial, tetapi pada saat yang sama menegaskan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas keselamatan dirinya sendiri. Menolong orang lain penting, memperjuangkan masyarakat penting, membangun peradaban juga penting. Akan tetapi pada akhirnya, setiap orang akan ditanya tentang dirinya sendiri.

Karena itulah perjuangan menegakkan keadilan memiliki posisi yang sangat tinggi dalam Islam. Al-Qur’an menyebut misi para nabi dengan kalimat yang sangat terkenal:

لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Agar manusia menegakkan keadilan” (QS. Al-Hadid: 25)

Keadilan adalah tujuan besar. Tanpa keadilan, masyarakat akan rusak. Namun ayat ini juga memberi isyarat bahwa keadilan bukanlah titik akhir perjalanan manusia. Ia adalah jembatan. Dengan adanya keadilan, manusia memperoleh kesempatan untuk berkembang, memilih jalan yang benar, dan mendekat kepada tujuan hidup yang lebih luhur.

Dalam bahasa sederhana, masyarakat yang adil bukanlah tujuan terakhir, melainkan lingkungan yang memungkinkan manusia mencapai kesempurnaan dirinya.

Baca Juga  Ketika Umur Ditanya: Untuk Apa Kita Sebenarnya Bekerja?

Pandangan ini juga melahirkan konsep tanggung jawab yang unik. Manusia dalam Islam bukan makhluk pasif yang hanya mengikuti arus sejarah. Ia adalah makhluk yang diberi pilihan.

Al-Qur’an mengingatkan:

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ  وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ  وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, satu lidah dan dua bibir, serta menunjukkan kepadanya dua jalan?” (QS. Al-Balad: 8–10)

Manusia diberi kemampuan melihat, berbicara, berpikir, dan memilih. Ia dapat memilih jalan petunjuk atau jalan penyimpangan. Kebebasan itu membuat manusia sekaligus memiliki tanggung jawab.

Dari sini lahir konsekuensi yang sering terlupakan dalam kehidupan modern: urusan masyarakat bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban. Ketika negara mengalami kerusakan, korupsi merajalela, atau ketidakadilan dibiarkan tumbuh, tidak ada seorang pun yang sepenuhnya dapat berkata, “Itu bukan urusan saya.”

Nasib sebuah bangsa terkait dengan pilihan-pilihan yang dibuat oleh warganya. Dalam pandangan Islam, setiap individu memiliki bagian tanggung jawab terhadap arah masyarakatnya. Partisipasi sosial, kepedulian terhadap kebenaran, dan keterlibatan dalam memperbaiki keadaan bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari amanah kemanusiaan.

Pada akhirnya, seluruh pembahasan tentang kemajuan kembali kepada satu pertanyaan mendasar: manusia seperti apa yang ingin kita hasilkan?

Jika kemajuan hanya melahirkan manusia yang kaya tetapi kehilangan arah, maka ada sesuatu yang hilang. Jika pembangunan hanya menghasilkan kota-kota megah tetapi manusia di dalamnya semakin jauh dari makna hidup, maka pembangunan itu belum selesai.

Islam mengajarkan bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang membantu manusia menemukan keselamatan dirinya. Keadilan, kemakmuran, pendidikan, dan kekuatan sosial tetap penting, bahkan wajib diperjuangkan. Namun semuanya hanyalah jalan. Tujuan akhirnya adalah manusia yang mampu menggunakan seluruh nikmat itu untuk mencapai kebahagiaan yang lebih dalam dan lebih abadi.

Baca Juga  Cara Islam Mengajarkan Kita Mencintai dan Membangun Dunia

Sebab pada akhirnya, sebuah peradaban tidak diukur hanya dari apa yang berhasil dibangun di atas tanah, tetapi juga dari manusia yang berhasil dibangunnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar