KHAMENEI.ID– Di tengah arus informasi yang kian deras, pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri sebagai penjamin kebenaran. Ia justru bisa menjadi pintu masuk bagi kekeliruan, jika tidak disertai satu hal yang kerap diabaikan: kesadaran terhadap zaman. Sebuah gagasan lama yang kini terasa semakin relevan, bahwa menjadi berilmu tanpa memahami konteks zaman adalah seperti berjalan di tengah kabut yang dipenuhi ilusi.
Dalam sebuah tradisi kebijaksanaan Islam, ada ungkapan yang ringkas namun tajam: al-‘ālimu bi zamānihi lā tahjumu ‘alaihi al-lawābis “orang yang mengetahui zamannya tidak akan mudah diserang oleh kerancuan”. Kalimat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan sebuah peringatan epistemologis: bahwa kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang jernih, dan kebatilan tidak selalu tampil sebagai kebohongan telanjang.
Di titik ini, persoalannya menjadi lebih kompleks. Dunia tidak lagi menyajikan kebenaran dan kebohongan secara terpisah. Keduanya justru kerap dilebur, disusun ulang, lalu disajikan dalam kemasan yang meyakinkan. Sedikit fakta dicampur dengan banyak tafsir, sebagian data disandingkan dengan opini, lalu lahirlah sebuah “analisis” yang tampak ilmiah, padahal menyimpan bias yang dalam.
Fenomena ini bukan hal baru. Dalam sebuah riwayat yang sering dikutip dari Imam Ali a.s, disebutkan:
“Seandainya kebatilan berdiri sendiri tanpa campuran kebenaran, ia akan mudah dikenali. Dan seandainya kebenaran tampil murni tanpa selubung kebatilan, para penentangnya akan kehilangan ruang untuk berdebat. Tetapi yang terjadi adalah keduanya dicampur, lalu diputarbalikkan”
Di sinilah letak tantangan zaman modern: batas antara informasi dan manipulasi menjadi semakin tipis. Apa yang tampak sebagai analisis sering kali merupakan konstruksi kepentingan. Dan apa yang terdengar seperti kebenaran bisa saja hanyalah fragmen yang dipilih secara sengaja untuk membentuk persepsi tertentu.
Namun jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak hanya soal media atau teknologi. Ia menyentuh wilayah yang lebih dalam: kemampuan manusia untuk memahami, menimbang, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Dalam sebuah teks lain, ditegaskan bahwa:
“Barang siapa tidak mengetahui, ia tidak akan memahami. Dan barang siapa tidak memahami, ia tidak akan selamat dari kekeliruan.”
Rantai ini menunjukkan satu hal penting: pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, tetapi proses pembentukan kesadaran. Tanpa itu, manusia mudah terseret oleh arus penilaian yang dibentuk oleh suara paling keras, bukan argumen paling benar.
Dalam konteks yang lebih luas, tantangan ini semakin nyata di era ketika media tidak lagi hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memproduksi realitas. Berita, opini, dan narasi global berseliweran tanpa jeda, menciptakan apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai “banjir analisis”. Di tengah banjir itu, kebenaran tidak tenggelam karena tidak ada, tetapi karena sulit dibedakan dari arus yang menyerupainya.
Di sinilah pentingnya apa yang disebut sebagai kesadaran zaman. Ia bukan sekadar kemampuan membaca situasi politik atau sosial, tetapi juga kecakapan untuk memahami bagaimana sebuah informasi dibentuk, disebarkan, dan diterima. Tanpa kesadaran ini, seseorang bisa menjadi cerdas dalam data, tetapi keliru dalam makna.
Sebuah peringatan lain muncul bahwa orang yang bertindak tanpa pengetahuan ibarat “menancapkan hidungnya sendiri ke dalam kesulitan”. Sebuah metafora yang keras, tetapi menggambarkan betapa keputusan yang lahir dari ketidaktahuan sering kali berujung pada penyesalan.
Di tengah semua itu, ilmu pengetahuan tetap memiliki tempat yang mulia. Ia adalah pelindung, sebagaimana disebutkan: al-‘ilmu junnah ilmu adalah perisai. Namun perisai itu hanya efektif jika digunakan oleh mereka yang sadar ke mana ia harus diarahkan. Tanpa kesadaran zaman, perisai itu bisa saja menjadi beban, bahkan menyesatkan arah pertahanan.
Maka, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang berilmu, tetapi siapa yang mampu membaca konteks. Sebab dunia tidak lagi hanya menuntut kecerdasan intelektual, tetapi juga kejernihan dalam memilah kabut informasi yang semakin rapat.
Pada akhirnya, kebenaran tidak selalu hilang. Ia hanya sering tertutup oleh lapisan-lapisan narasi yang sengaja atau tidak sengaja membingungkannya. Dan tugas manusia berilmu bukan hanya mencari kebenaran itu, tetapi juga menjaga dirinya agar tidak tertipu oleh kemiripannya.
Sebab di zaman ketika segala sesuatu bisa dikemas sebagai kebenaran, kemampuan paling penting bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga mengenali apa yang tampak benar namun sebenarnya tidak.







