Fatimah Az-Zahra: Ketika Seorang Nabi Berdiri Menyambut Putrinya

KHAMENEI.ID– Ada penghormatan yang lahir dari hubungan darah. Ada pula penghormatan yang lahir dari pengakuan atas kemuliaan jiwa. Sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s memiliki keduanya.

Di tengah masyarakat Arab yang masih menyisakan pandangan patriarkal terhadap perempuan, ada sebuah pemandangan yang berulang kali terjadi di rumah Nabi Muhammad saw. Setiap kali Fatimah a.s datang, Nabi saw tidak sekadar menyambutnya. Beliau berdiri. Bahkan lebih dari itu, beliau berjalan menghampirinya. Sebuah tindakan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

كانت اذا دخلت عليه قام إليها فأخذ بيدها وقبلها وأجلسها في مجلسه

Apabila Fatimah datang menemui Nabi, beliau berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, menciumnya, lalu mendudukkannya di tempat beliau. Dan ketika Nabi datang kepada Fatimah, ia pun berdiri menyambut ayahnya, menggandeng tangannya, menciumnya, dan mempersilakannya duduk di tempatnya

Riwayat itu sering dibaca sebagai kisah kasih sayang antara ayah dan anak. Namun jika direnungkan lebih jauh, maknanya melampaui hubungan keluarga biasa. Sebab yang berdiri itu bukan sembarang ayah. Ia adalah seorang nabi, pemimpin umat, manusia yang menjadi pusat perhatian para sahabat dan masyarakat. Ketika beliau bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut Fatimah a.s, beliau sedang mengajarkan sesuatu kepada sejarah.

Perbedaan antara berdiri dan menghampiri sesungguhnya sangat besar. Seseorang bisa berdiri sebagai bentuk penghormatan formal. Tetapi berjalan mendekat menunjukkan kerinduan, penghargaan, dan pengakuan yang lebih mendalam. Nabi tidak hanya memberikan penghormatan simbolik. Beliau menunjukkan kegembiraan dan kemuliaan yang beliau lihat dalam diri putrinya.

Di titik ini, Fatimah a.s tidak lagi tampil sekadar sebagai anak Rasulullah saw. Ia hadir sebagai pribadi yang memiliki kedudukan spiritual yang luar biasa.

Baca Juga  Ketika Jibril Datang kepada Fatimah: Keagungan Sayidah Zahra dalam Cahaya Wahyu

Bahkan berbagai riwayat menggambarkan betapa erat hubungan batin antara Nabi saw dan Fatimah a.s. Keridaan Fatimah a.s disebut sebagai keridaan Nabi saw, dan keridaan Nabi saw merupakan jalan menuju keridaan Allah. Sebaliknya, kemarahan Fatimah a.s dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kemarahan Rasulullah saw. Ungkapan-ungkapan seperti ini tentu bukan bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hubungan keluarga biasa. Ia menunjukkan kualitas ruhani yang telah mencapai derajat sangat tinggi.

Namun kemuliaan Fatimah a.s tidak dibangun oleh simbol atau gelar semata. Ia lahir dari kehidupan nyata yang dijalaninya.

Fatimah a.s tumbuh dalam masa-masa paling sulit dalam sejarah Islam. Ia menyaksikan bagaimana ayahnya dihina, diboikot, dan diperangi. Ia mengalami kehidupan yang jauh dari kemewahan. Rumahnya nyaris tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan oleh ukuran dunia. Tetapi justru dari rumah sederhana itu lahir pelajaran besar tentang keteguhan, kesabaran, dan pengabdian.

Dalam kehidupannya bersama Ali bin Abi Thalib a.s, Fatimah a.s menunjukkan bahwa kemuliaan tidak identik dengan kenyamanan. Ia menggiling gandum dengan tangannya sendiri hingga tangannya melepuh. Ia mengurus rumah tangga dalam keterbatasan. Ia mendidik anak-anaknya dengan cinta dan keteladanan.

Dan dari rahim pendidikan itulah lahir Hasan a.s dan Husain a.s, dua sosok yang kemudian menjadi cahaya dalam sejarah Islam.

Dalam konteks yang lebih luas, kisah Fatimah a.s sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sering terlupakan di zaman modern: kebesaran manusia tidak ditentukan oleh sorotan publik, melainkan oleh kualitas batin yang ia bangun setiap hari.

Hari ini kita hidup dalam budaya yang mengukur keberhasilan melalui angka, jabatan, popularitas, dan pengakuan sosial. Semakin banyak pengikut, semakin dianggap berhasil. Semakin sering tampil, semakin dianggap penting. Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak manusia besar justru tumbuh dalam ruang-ruang sunyi yang nyaris tak terlihat.

Baca Juga  Fatimah Az-Zahra as: Wajah Kesempurnaan dalam Keluarga Kenabian

Fatimah a.s adalah contoh paling jelas tentang hal itu. Ia tidak memimpin pasukan. Ia tidak menguasai wilayah. Ia tidak memiliki kekayaan besar. Namun namanya tetap hidup berabad-abad setelah kerajaan-kerajaan besar runtuh dan para penguasa dilupakan.

Mengapa?

Karena pengaruh sejati lahir dari karakter, bukan dari kekuasaan.

Gagasan ini kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana seseorang memperoleh penghormatan yang tulus. Penghormatan tidak bisa dipaksa. Ia tidak bisa dibeli. Ia juga tidak lahir dari pencitraan. Penghormatan sejati muncul ketika seseorang menghadirkan nilai yang membuat orang lain rela berdiri untuknya.

Mungkin itulah yang kita lihat dalam hubungan Nabi saw dan Fatimah a.s. Nabi saw tidak sedang mengajarkan etika formal semata. Beliau sedang menunjukkan bahwa kemuliaan manusia harus dikenali dan dihormati, bahkan jika ia hadir dalam sosok seorang perempuan muda yang hidup sederhana.

Pada akhirnya, setiap kali membaca kisah Nabi saw yang berdiri menyambut Fatimah a.s, kita tidak hanya sedang membaca sejarah keluarga Rasulullah saw. Kita sedang menyaksikan sebuah pelajaran tentang martabat manusia.

Bahwa ada pribadi-pribadi yang membuat dunia menghormatinya bukan karena kekuatan yang mereka miliki, melainkan karena cahaya yang mereka pancarkan.

Dan cahaya itu, sebagaimana yang terlihat pada sayyidah Fatimah Az-Zahra a.s, tidak pernah lahir dari kemewahan. Ia tumbuh dari iman, ketulusan, pengorbanan, dan akhlak yang menjadikan seorang nabi berdiri untuk menyambutnya.

Bagikan:
Terkait
Komentar