KHAMENEI.ID– Ada anggapan yang terus berulang dari generasi ke generasi: agama adalah wilayah yang serius, sedangkan seni adalah ruang kebebasan yang penuh imajinasi. Keduanya seolah berdiri di dua kutub yang saling berjauhan. Padahal, jika menengok lebih dalam pada tradisi Islam, kita justru menemukan kenyataan yang berbeda. Islam bukan hanya menerima seni, tetapi juga merawatnya sebagai bagian dari cara manusia mengenali keindahan ciptaan Tuhan.
Keindahan, dalam pandangan Islam, bukanlah kemewahan yang sekadar memanjakan rasa. Ia adalah bahasa yang mampu menyentuh hati ketika logika tak lagi cukup menjelaskan. Sebab itu, seni tidak diposisikan sebagai pelengkap kehidupan, melainkan salah satu medium yang menghubungkan manusia dengan makna.
Barangkali contoh paling agung adalah Al-Qur’an sendiri. Kitab suci ini memang bukan puisi. Ia tidak tunduk pada aturan sajak maupun rima sebagaimana syair Arab klasik. Namun siapa pun yang akrab dengan lantunannya akan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan: susunan katanya memiliki irama yang hidup, alur bunyi yang harmonis, dan pilihan diksi yang menghadirkan pengalaman estetis sekaligus spiritual.
Di banyak bagian, struktur kalimat Al-Qur’an tampak disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan keseimbangan bunyi yang memikat telinga. Bukan demi memenuhi aturan sastra, melainkan karena keindahan memang menjadi bagian dari pesan itu sendiri. Bahkan ketika sebuah kalimat tampak “menyimpang” dari pola bahasa sehari-hari, sering kali justru di sanalah keutuhan musikalitas ayat dipertahankan. Keindahan bukan sekadar hiasan; ia menjadi kendaraan bagi makna.
Mungkin karena itulah jutaan orang yang tidak memahami bahasa Arab tetap dapat merasakan getaran ketika mendengar Al-Qur’an dibacakan. Ada musik yang tidak bergantung pada alat musik, melainkan lahir dari harmoni huruf, jeda, panjang-pendek suara, dan ritme yang mengalir alami. Sebuah pengalaman estetis yang melampaui batas bahasa.
Dalam konteks yang lebih luas, hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memusuhi seni. Justru sebaliknya, seni yang mengangkat manusia menuju kebaikan mendapatkan tempat yang terhormat. Al-Qur’an sendiri memberi isyarat menarik tentang para penyair.
Allah berfirman:
وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
Artinya:
“Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan? Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan membela diri setelah dizalimi. Kelak orang-orang yang zalim akan mengetahui ke mana mereka akan kembali” (QS. Asy-Syu’ara: 224–227)
Ayat ini sering dipahami sebagai kritik terhadap dunia puisi. Padahal jika dibaca utuh, yang dikritik bukanlah seni, melainkan penyalahgunaannya. Yang ditegur adalah kata-kata yang kehilangan tanggung jawab, imajinasi yang tercerabut dari kebenaran, serta kepiawaian berbicara yang tidak sejalan dengan perilaku.
Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan pengecualian yang sangat jelas: para penyair yang beriman, beramal saleh, mengingat Allah, dan menjadikan karya mereka sebagai pembela kebenaran memperoleh penghormatan. Seni, dengan demikian, tidak dinilai dari bentuknya, tetapi dari arah yang dituju.
Gagasan ini kemudian menemukan jejaknya dalam kehidupan Rasulullah saw. Beliau tidak menutup pintu bagi para penyair yang menggunakan bakatnya untuk membela nilai-nilai kebenaran. Bahkan dalam sejumlah riwayat, Rasulullah saw mendorong agar Al-Qur’an dibaca dengan suara yang indah. Suatu ketika seseorang membaca Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu. Setelah mendengarnya, Rasulullah menganjurkan agar Al-Qur’an memang dibaca dengan suara yang baik.
Pesan itu sederhana, tetapi sangat dalam. Keindahan suara bukanlah sesuatu yang harus dicurigai. Ia justru menjadi sarana agar pesan wahyu lebih mudah menyentuh hati. Seni vokal, dalam batas yang benar, menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.
Di titik ini, seni tidak lagi dipahami sebagai aktivitas yang berdiri di luar agama. Ia menyatu dengan penghayatan spiritual. Bacaan yang indah membuat hati lebih khusyuk. Tulisan yang elok mengundang orang untuk membaca. Kaligrafi mengabadikan ayat dalam bentuk visual yang memikat. Arsitektur masjid menghadirkan ruang yang membuat manusia merasa kecil di hadapan Sang Pencipta. Semua itu adalah ekspresi seni yang tumbuh dari akar tauhid.
Warisan peradaban Islam pun membuktikan hal tersebut. Para ulama terdahulu bukan hanya ahli fikih atau hadis, tetapi juga memiliki kepekaan sastra yang tinggi. Mukadimah kitab-kitab klasik dipenuhi rangkaian kalimat yang indah, permainan bunyi yang elegan, dan pilihan kata yang memancarkan keluasan ilmu sekaligus kehalusan rasa.
Mereka tidak melihat keindahan bahasa sebagai sesuatu yang sia-sia. Justru dengan bahasa yang indah, ilmu menjadi lebih mudah diterima. Dengan ungkapan yang menyentuh, hikmah lebih lama tinggal di dalam ingatan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, estetika dan intelektualitas berjalan beriringan. Seorang alim tidak hanya dituntut benar dalam isi, tetapi juga indah dalam penyampaian. Sebab kebenaran yang disampaikan dengan cara yang indah sering kali lebih mampu menggerakkan hati daripada seribu argumen yang dingin.
Namun jika ditarik ke zaman sekarang, tantangannya menjadi berbeda. Dunia digital dipenuhi karya-karya kreatif yang begitu cepat diproduksi dan dikonsumsi. Seni sering diukur dari jumlah penonton, jumlah “like”, atau seberapa viral sebuah karya. Akibatnya, keindahan kadang dipisahkan dari tanggung jawab moral.
Di sinilah pandangan Islam menawarkan keseimbangan. Seni boleh berkembang sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan itu tidak berarti kehilangan arah. Kreativitas tidak harus mengorbankan nilai. Justru karya yang bertahan lama biasanya lahir dari perpaduan antara keindahan, kejujuran, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Seni yang menghidupkan harapan, menguatkan akhlak, membela yang lemah, serta mengingatkan manusia kepada Tuhannya akan selalu menemukan tempat dalam sejarah. Sebaliknya, karya yang hanya mengejar sensasi mungkin memukau sesaat, tetapi cepat kehilangan makna.
Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa Tuhan adalah Maha Indah dan mencintai keindahan. Karena itu, setiap upaya menghadirkan keindahan yang mengantarkan manusia kepada kebenaran sejatinya bukan sekadar aktivitas artistik. Ia adalah bentuk pengabdian. Seni, ketika berpihak pada cahaya, berubah menjadi ibadah yang berbicara tanpa harus berkhotbah.







