KHAMENEI.ID – Ada ironi besar dalam sejarah dunia modern. Negara-negara yang hari ini paling lantang berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan justru dibangun di atas jejak panjang kolonialisme, perampasan kekayaan bangsa lain, dan dominasi politik global. Di sisi lain, banyak negeri Muslim yang dahulu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban justru terjebak dalam ketergantungan ekonomi, politik, bahkan cara berpikir.
Dalam salah satu pidatonya, Imam Ali Khamenei qs mengajak umat Islam membaca kembali sejarah dengan pandangan yang lebih jernih. Menurut beliau, kemunduran dunia Islam bukanlah takdir yang tidak dapat diubah, melainkan akibat dari berabad-abad penjajahan, intervensi asing, dan kelemahan internal yang membuka jalan bagi dominasi kekuatan-kekuatan besar.
Namun, pidato itu tidak berhenti pada kritik terhadap Barat. Justru titik tekan utamanya adalah seruan agar umat Islam berhenti menggantungkan masa depan kepada pihak lain dan mulai membangun kekuatan mereka sendiri.
Islam Tidak Pernah Mengajarkan Penjajahan
Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa Islam tidak pernah menyebarkan agama melalui pemaksaan ataupun penjajahan. Berbeda dengan sejarah kolonialisme Eropa yang menaklukkan berbagai bangsa demi kekayaan dan kekuasaan, Islam datang dengan prinsip dakwah dan penghormatan terhadap pilihan manusia.
Beliau mengingatkan bagaimana bangsa-bangsa Eropa berlayar dari sebuah semenanjung kecil di tepi Samudra Atlantik menuju Asia, lalu menguasai negeri-negeri besar seperti India dan wilayah sekitarnya. Kekayaan negeri-negeri itu diangkut ke Eropa, sementara bangsa yang dijajah dibiarkan hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.
Menurut beliau, pola itu sesungguhnya belum berakhir. Hanya bentuknya yang berubah. Jika dahulu penjajahan dilakukan dengan kapal perang dan pasukan militer, kini dominasi berlangsung melalui sistem ekonomi global, kekuatan finansial, media, teknologi, serta pengaruh politik.
Negara-negara besar, kata beliau, membangun kemakmuran mereka dengan memanfaatkan sumber daya bangsa lain. Kemewahan yang tampak di permukaan menyembunyikan krisis moral dan kemanusiaan yang perlahan menggerogoti fondasi mereka dari dalam.
Al-Qur’an Sudah Mengingatkan Sikap Musuh
Dalam pidatonya, Imam Ali Khamenei mengutip firman Allah swt dalam Surah Ali Imran ayat 120 yang menggambarkan karakter pihak-pihak yang memusuhi umat Islam.
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا
“Jika kamu memperoleh kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya. Tetapi jika kamu ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali ‘Imran: 120)
Ayat ini, menurut beliau, bukan sekadar menceritakan kondisi sejarah masa lalu. Ia merupakan pengingat bahwa umat Islam tidak boleh menjadikan persetujuan atau penilaian kekuatan-kekuatan besar sebagai ukuran keberhasilan.
Jika kemajuan umat membuat mereka tidak nyaman, atau kesulitan umat justru disambut dengan kegembiraan oleh mereka, maka jalan yang benar bukanlah mengejar pujian pihak luar, melainkan memperkuat kemampuan sendiri.
Karena itu Imam Ali Khamenei menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh mengukur langkah mereka berdasarkan senyum ataupun kemarahan negara-negara adidaya. Yang harus dijadikan kompas adalah nilai-nilai Islam dan kepentingan umat sendiri.
Penjajahan Modern Lebih Halus, Tetapi Lebih Berbahaya
Menurut Imam Ali Khamenei, dunia saat ini telah memasuki fase yang berbeda. Kolonialisme klasik mungkin telah berakhir, tetapi lahir bentuk baru yang lebih canggih dan sulit dikenali.
Dominasi kini hadir melalui ketergantungan ekonomi, utang, monopoli teknologi, kontrol media internasional, hingga intervensi politik yang dilakukan atas nama stabilitas, demokrasi, atau keamanan.
Beliau mengingatkan bahwa pengalaman pahit kolonialisme seharusnya menjadi pelajaran agar umat Islam tidak kembali menyerahkan masa depan mereka kepada pihak yang memiliki kepentingan atas kelemahan mereka.
Dalam pandangan beliau, kebangkitan ilmiah, kemajuan teknologi, persatuan politik, dan kemandirian ekonomi negara-negara Muslim merupakan ancaman terbesar bagi proyek dominasi global. Karena itulah, menurut beliau, setiap upaya menuju persatuan Islam sering kali dihadapkan pada berbagai bentuk tekanan dan konflik yang sengaja dipelihara.
Musuh Memanfaatkan Kelemahan Internal
Meski mengkritik dominasi Barat, Imam Ali Khamenei juga tidak menutup mata terhadap kelemahan internal umat Islam.
Beliau menyebut bahwa penjajahan tidak mungkin bertahan begitu lama tanpa adanya kelengahan, perpecahan, lemahnya rasa tanggung jawab para elite, serta hilangnya kepercayaan diri di kalangan bangsa-bangsa Muslim.
Dalam banyak periode sejarah, para penguasa yang lemah, elite yang tidak bertanggung jawab, serta pertikaian internal justru mempermudah kekuatan asing menguasai sumber daya dan menentukan arah politik negeri-negeri Islam.
Akibatnya bukan hanya kekayaan yang hilang. Identitas, martabat, bahkan kemandirian bangsa ikut terkikis.
Bangsa-bangsa Muslim, kata beliau, menjadi semakin lemah, sementara para penguasa kolonial dan penerusnya semakin kuat.
Jalan Keluar: Membangun Masa Depan dengan Kekuatan Sendiri
Optimisme Imam Ali Khamenei bertumpu pada keyakinan bahwa dunia Islam sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Populasi yang luas, wilayah strategis, kekayaan alam melimpah, generasi muda yang besar, serta ajaran Islam yang mendorong ilmu pengetahuan merupakan aset yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Karena itu beliau menyerukan agar umat Islam membangun masa depan dengan mengandalkan kemampuan sendiri, memperkuat ilmu pengetahuan, memperkokoh persatuan, meningkatkan inovasi, dan membebaskan diri dari ketergantungan terhadap kekuatan asing.
Bagi beliau, kebangkitan tidak akan lahir dari menunggu belas kasihan negara-negara besar, melainkan dari keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Belajar dari Sejarah, Menentukan Masa Depan
Pesan utama pidato Imam Ali Khamenei sesungguhnya bukanlah sekadar kritik terhadap Barat, melainkan ajakan untuk bercermin kepada sejarah. Sebuah bangsa akan terus menjadi objek jika kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika suatu umat kembali membangun ilmu, persatuan, dan harga dirinya, maka ia mulai menentukan nasibnya sendiri.
Sejarah kolonialisme telah menunjukkan betapa mahal harga dari ketergantungan. Kini, menurut Imam Ali Khamenei, tantangan terbesar dunia Islam bukan hanya menghadapi tekanan dari luar, tetapi memastikan agar kesalahan masa lalu tidak kembali terulang.
Sebab masa depan sebuah peradaban tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar kekuatan musuhnya, melainkan oleh seberapa besar keberanian umat itu sendiri untuk bangkit, bersatu, dan membangun peradabannya dengan nilai-nilai yang diyakininya.






