KHAMENEI.ID– Tidak semua orang menunggu kematian dengan tenang. Sebagian besar manusia menghindarinya, menundanya dalam percakapan, bahkan mengusir bayangannya dari pikiran. Namun dalam sejarah Islam, ada seorang manusia yang justru menantikan kematian tertentu dengan kerinduan yang nyaris tak dapat dipahami: syahadah. Bagi Imam Ali bin Abi Thalib a.s, kematian bukan akhir perjalanan, melainkan janji yang telah lama disampaikan Rasulullah saw dan suatu hari pasti dipenuhi.
Di balik peristiwa malam 19 Ramadan, ketika pedang beracun membelah kepala Amirul Mukminin a.s di mihrab Masjid Kufah, tersimpan sebuah kisah yang jauh lebih dalam daripada tragedi pembunuhan. Kisah itu adalah tentang seseorang yang telah diberi tahu sejak lama bagaimana hidupnya akan berakhir, lalu menjalani seluruh hidupnya dengan kesiapan menyambut janji tersebut.
Al-Qur’an pernah mengingatkan bahwa keimanan tidak pernah berhenti pada pengakuan lisan.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sementara mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ayat itu mengguncang hati Imam Ali a.s. Ia memahami bahwa selama Rasulullah saw masih berada di tengah umat, fitnah besar belum akan datang. Ujian yang sesungguhnya akan dimulai setelah wafatnya Nabi saw. Kesadaran itu membuatnya bertanya langsung kepada Rasulullah saw tentang hakikat fitnah yang dijanjikan Allah.
Percakapan itu kemudian berkembang ke arah yang sangat personal. Imam Ali a.s mengingatkan Rasulullah saw pada sebuah peristiwa yang tak pernah hilang dari ingatannya: Perang Uhud.
Di medan perang itu, Hamzah gugur sebagai syahid. Banyak sahabat lain juga memperoleh kemuliaan yang sama. Sementara Ali a.s, meski tubuhnya dipenuhi luka, tetap hidup. Justru itulah yang membuatnya bersedih. Bukan karena luka-lukanya, melainkan karena merasa belum memperoleh kehormatan yang didapat para syuhada.
Kala itu Rasulullah saw menghiburnya dengan sebuah kabar yang akan terus hidup di dalam hatinya.
“Bergembiralah, wahai Ali. Syahadah berada di hadapanmu.”
Bertahun-tahun berlalu sejak janji itu diucapkan. Imam Ali a.s memikul amanah yang tidak ringan: mendampingi Rasulullah saw, menyaksikan pergolakan setelah wafat beliau, menghadapi perpecahan umat, memimpin pemerintahan yang penuh konflik, hingga terjun ke berbagai peperangan demi mempertahankan keadilan. Namun syahadah yang dijanjikan itu belum juga datang.
Ketika Rasulullah saw kembali menegaskan bahwa janji tersebut pasti terjadi, beliau mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik.
“Bagaimana kesabaranmu ketika saat itu tiba?”
Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna yang dalam. Sebab syahadah Imam Ali a.s bukan sekadar gugur di tengah denting pedang. Ia harus melewati bertahun-tahun pengorbanan, menanggung fitnah, kesalahpahaman, pengkhianatan, hingga menyaksikan umat yang dahulu dipersatukan Rasulullah saw mulai terpecah oleh kepentingan dunia.
Syahadahnya bukan jalan singkat menuju kemuliaan. Ia adalah puncak dari perjalanan panjang yang dipenuhi kesabaran.
Jawaban Imam Ali a.s justru mengejutkan.
“Wahai Rasulullah, ini bukan tempat untuk bersabar. Ini adalah saat untuk bergembira dan bersyukur”
Kalimat itu memperlihatkan cara pandang yang sama sekali berbeda terhadap kematian. Bagi kebanyakan orang, kesabaran dibutuhkan ketika menghadapi sesuatu yang pahit dan tidak diinginkan. Namun bagi Imam Ali a.s, syahadah bukan musibah yang harus ditanggung dengan tabah. Ia adalah anugerah yang layak disambut dengan syukur.
Pandangan semacam ini hanya mungkin lahir dari seseorang yang seluruh hidupnya telah dipersembahkan untuk Allah. Ketika hidup tidak lagi berpusat pada keselamatan diri, kematian di jalan kebenaran kehilangan sifat menakutkannya. Yang tersisa hanyalah kerinduan untuk memenuhi janji Ilahi.
Namun jika ditarik lebih jauh, percakapan itu tidak hanya berbicara tentang kematian Imam Ali a.s. Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa umat setelah beliau akan menghadapi fitnah yang jauh lebih rumit daripada sekadar peperangan. Manusia akan diuji oleh harta, merasa berjasa kepada Tuhan karena agamanya, berharap rahmat Allah tetapi merasa aman dari hukuman-Nya. Bahkan yang haram akan dihalalkan melalui berbagai pembenaran dan permainan istilah.
Gambaran itu terasa sangat akrab dengan kehidupan modern. Bukan hanya karena bentuk-bentuk penyimpangannya masih ada, tetapi karena manusia tetap memiliki kecenderungan yang sama: mencari pembenaran ketika hawa nafsu mulai mengambil alih.
Di titik inilah sosok Imam Ali a.s menjadi relevan lintas zaman. Keistimewaannya bukan hanya karena keberaniannya mengangkat pedang, melainkan karena keteguhannya menjaga prinsip ketika godaan datang dalam bentuk kekuasaan, kepentingan politik, maupun tekanan sosial. Ia tidak pernah menjadikan agama sebagai alat memperoleh keuntungan, tetapi menjadikan dirinya sendiri sebagai persembahan bagi agama.
Janji syahadah itu akhirnya tiba pada subuh 19 Ramadan. Saat sedang bersujud dalam shalat di Masjid Kufah, pedang beracun Ibnu Muljam menghantam kepalanya. Darah mengalir membasahi wajah dan janggutnya.
Dalam keadaan seperti itu, Imam Ali a.s tidak mengucapkan keluhan. Ia justru berkata, “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Benarlah Allah dan Rasul-Nya”
Seakan-akan seluruh perjalanan hidupnya mencapai titik penyempurnaan.
Riwayat kemudian menggambarkan suasana yang penuh duka. Orang-orang berlarian di dalam masjid, kebingungan menghadapi musibah besar itu. Dalam tradisi Islam diriwayatkan bahwa Jibril a.s menyerukan kabar yang mengguncang langit dan bumi:
“Demi Allah, telah runtuh tiang-tiang petunjuk. Ali al-Murtadha telah terbunuh”
Ungkapan itu bukan sekadar ratapan atas wafatnya seorang pemimpin. Ia adalah pengingat bahwa kehilangan manusia-manusia yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian kepada kebenaran selalu meninggalkan kehampaan besar dalam sejarah.
Syahadah Imam Ali a.s pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang kematian seorang tokoh besar. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana seseorang memaknai hidup. Sebab hanya mereka yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk kebenaran yang mampu menyambut kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai kabar gembira. Dan mungkin, justru di situlah letak keberanian terbesar Imam Ali a.s: bukan pada pedang yang diayunkannya, tetapi pada hati yang telah lama berdamai dengan janji Tuhannya.







