Saat Merasa Aman di Hadapan Allah Menjadi Awal Kesombongan

KHAMENEI.ID– Ada bentuk kesombongan yang mudah dikenali: membanggakan jabatan, harta, atau keberhasilan. Namun ada jenis kesombongan lain yang jauh lebih halus. Ia bersembunyi di balik ibadah, kedekatan dengan agama, bahkan keyakinan bahwa Allah pasti akan memaafkan apa pun yang kita lakukan. Kesombongan semacam ini nyaris tak terdengar suaranya, tetapi justru paling berbahaya karena menyamar sebagai rasa aman.

Setiap orang memiliki titik lemah yang berbeda. Ada yang berubah ketika memperoleh kekuasaan. Ada yang mulai merasa lebih tinggi setelah meraih prestasi. Ada pula yang tanpa sadar menganggap dirinya lebih istimewa karena merasa berada di jalan yang benar. Di sinilah kesombongan bekerja dengan cara yang paling licik. Ia tidak selalu datang melalui kemewahan dunia, melainkan juga melalui rasa puas terhadap diri sendiri.

Dalam banyak ajaran agama, kesombongan digambarkan sebagai senjata utama setan. Bukan semata-mata karena manusia merasa hebat, tetapi karena ia berhenti mengoreksi dirinya. Begitu seseorang merasa sudah sampai pada titik aman, saat itulah kewaspadaan perlahan menghilang.

Jabatan, misalnya, sering kali menjadi pintu pertama. Seseorang yang sebelumnya hidup sederhana, lalu dipercaya memimpin sebuah lembaga atau menduduki posisi penting, perlahan dapat mulai melihat dirinya berbeda dari orang lain. Kekuasaan memang tidak otomatis melahirkan kesombongan, tetapi ia menyediakan ruang yang sangat luas bagi ego untuk tumbuh. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula godaan untuk merasa dirinya lebih layak dihormati daripada mengabdi.

Namun jabatan bukan satu-satunya penyebab. Keberhasilan juga sering menghadirkan ilusi yang sama. Ketika sebuah program berjalan sukses, ketika usaha berkembang, ketika pekerjaan menuai pujian, perlahan muncul bisikan yang mengatakan, “Semua ini karena kemampuan saya.”

Baca Juga  Renungan Imam Ali tentang Hidup, Kematian, dan Kesempatan yang Terbatas

Padahal, keberhasilan selalu merupakan pertemuan antara ikhtiar manusia dan anugerah yang berada di luar kendalinya. Ada kesehatan yang memungkinkan seseorang bekerja. Ada kesempatan yang tidak dimiliki semua orang. Ada pertemuan dengan orang-orang yang membantu jalan hidupnya. Ada pula ribuan keadaan yang tidak pernah bisa sepenuhnya dirancang manusia.

Kesadaran itu mudah memudar ketika keberhasilan datang berturut-turut. Manusia mulai mengira bahwa dirinya adalah penyebab utama dari semua pencapaian tersebut. Di titik itulah kesombongan mulai mengambil alih.

Namun jika ditarik lebih jauh, ada sumber kesombongan yang lebih dalam dan lebih sulit dikenali. Bukan jabatan, bukan pula prestasi, melainkan rasa aman terhadap kasih sayang Allah.

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat halus namun tegas:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar. Maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula setan memperdayakan kamu tentang Allah” (QS. Fathir: 5)

Ungkapan “jangan sampai tertipu mengenai Allah” terdengar paradoks. Bagaimana mungkin seseorang tertipu oleh Tuhan Yang Maha Pengasih?

Yang dimaksud bukanlah tertipu oleh Allah, melainkan tertipu oleh anggapan tentang Allah. Setan membisikkan bahwa rahmat Allah begitu luas sehingga dosa tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Bahwa karena seseorang rajin beribadah, mencintai orang-orang saleh, atau merasa berada di barisan yang benar, maka ia otomatis berada dalam zona aman.

Cara berpikir seperti inilah yang perlahan mematikan rasa takut untuk berbuat salah. Taubat menjadi tertunda. Introspeksi menjadi berkurang. Dosa dianggap kecil karena selalu ada harapan bahwa Allah pasti memaafkan.

Padahal rahmat Allah memang tidak terbatas, tetapi tidak pernah menjadi alasan untuk meremehkan tanggung jawab moral manusia. Harapan (raja’) dalam Islam selalu berjalan berdampingan dengan rasa takut (khauf). Ketika salah satunya hilang, keseimbangan spiritual pun ikut runtuh.

Baca Juga  Ketika Kekuasaan Berebut Dunia: Perang, Kepentingan, dan Bangkai Kekuasaan

Gagasan ini kemudian menyentuh sebuah doa yang sangat menyentuh dalam Sahifah Sajjadiyah:

وَالشَّقَاءُ الْأَشْقَىٰ لِمَنِ اغْتَرَّ بِكَ

“Ya Allah, kesengsaraan yang paling buruk adalah bagi orang yang menjadi sombong karena kemurahan-Mu”

Kalimat ini terasa mengguncang. Biasanya orang menganggap kemurahan Tuhan sebagai sumber ketenangan. Namun doa ini justru mengingatkan bahwa ketika rahmat Allah berubah menjadi alasan untuk merasa aman tanpa batas, rahmat itu telah disalahpahami.

Ada perbedaan besar antara berharap kepada Allah dan merasa kebal di hadapan Allah.

Orang yang berharap akan terus memperbaiki diri karena yakin pintu ampunan selalu terbuka. Sebaliknya, orang yang merasa kebal justru berhenti memperbaiki diri karena menganggap dirinya sudah berada di pihak yang benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, gejala ini tidak sulit ditemukan. Ada yang mudah menghakimi orang lain karena merasa amalnya lebih banyak. Ada yang menganggap kesalahan pribadinya tidak penting karena merasa telah berjasa bagi agama. Ada pula yang begitu percaya diri terhadap identitas keagamaannya sehingga lupa bahwa penilaian akhir bukan berada di tangan manusia.

Ironisnya, semakin religius seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kerendahan hati. Sebab kesombongan spiritual jauh lebih sulit disadari daripada kesombongan materi. Harta yang berlebihan masih bisa terlihat. Jabatan yang tinggi masih bisa diukur. Tetapi merasa diri lebih dekat kepada Allah sering kali hanya diketahui oleh hati sendiri.

Karena itu, para ulama selalu mengingatkan agar seseorang tidak pernah berhenti mencurigai egonya. Semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar kebutuhan untuk bersyukur. Semakin tinggi kedudukan, semakin besar tanggung jawab untuk merendahkan hati. Dan semakin dekat seseorang merasa kepada Allah, semakin banyak alasan untuk memperbanyak istigfar, bukan merasa aman.

Baca Juga  Imam Mahdi dan Keadilan yang Dinanti Dunia

Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan yang dipenuhi rasa puas terhadap diri sendiri, melainkan perjalanan yang terus diiringi kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan rahmat-Nya. Rahmat itu bukan tempat untuk bersembunyi dari evaluasi diri, melainkan cahaya yang mendorong seseorang terus memperbaiki langkahnya.

Barangkali ukuran kedewasaan spiritual bukanlah seberapa yakin kita akan keselamatan diri, melainkan seberapa besar rasa takut kehilangan kedekatan dengan Allah. Sebab hati yang tetap rendah di hadapan-Nya adalah hati yang paling sulit dimasuki kesombongan.

Bagikan:
Terkait
Komentar