Ketika Ulama Menepi, Agama Pun Terancam Kehilangan Suara

KHANENEI.ID – Ada sebuah anggapan yang kerap terdengar: lembaga keagamaan akan lebih dihormati jika tidak ikut campur dalam urusan politik, tidak terlibat dalam persoalan dunia, dan memilih berdiri di pinggir setiap perdebatan. Semakin jauh dari konflik, semakin tinggi martabatnya. Semakin tidak terdengar suaranya, semakin terjaga kehormatannya.

Pandangan semacam itu, menurut pandangan Ayatollah Syahid Ali Khamenei qs, adalah sebuah kekeliruan.

Sebab tidak ada lembaga yang hidup dan berpengaruh yang benar-benar mendapatkan penghormatan karena memilih mengasingkan diri. Sebuah institusi yang sepenuhnya menarik diri dari persoalan masyarakat mungkin saja dipuji secara formal. Namun penghormatan semacam itu sering kali tidak lebih dari penghormatan kepada sesuatu yang dianggap tidak lagi memiliki daya hidup.

Seperti orang menghormati sebuah patung: ia berdiri tegak, tetapi tidak bergerak. Ia tidak mengganggu siapa pun, tetapi juga tidak mengubah apa pun.

Bagi Imam Khamenei, lembaga yang hidup justru adalah lembaga yang hadir, bergerak, memengaruhi, dan mengambil sikap. Karena itu, ia bukan hanya dihormati oleh orang-orang yang menyukainya, tetapi bahkan diperhitungkan oleh mereka yang memusuhinya.

Di sinilah ia melihat persoalan yang lebih besar tentang posisi lembaga keulamaan dan pusat-pusat pendidikan Islam.

Menjauh dari persoalan masyarakat bukan berarti menyelamatkan diri dari masalah. Dalam jangka panjang, pengasingan diri justru dapat membawa sebuah lembaga ke pinggiran sejarah.

Ketika lembaga agama meninggalkan masyarakat

Imam Khamenei mengingatkan bahwa jika lembaga keagamaan, termasuk Hauzah Ilmiah Qom, memilih untuk tidak terlibat dalam persoalan sosial, politik, dan berbagai tantangan zaman, lambat laun ia akan tersisih. Ia akan kehilangan relevansi, kemudian dilupakan.

Sejarah keulamaan Syiah, menurutnya, menunjukkan hal yang berbeda. Dengan berbagai pengecualian individual dan situasional, para ulama Syiah secara umum selalu hadir di tengah peristiwa-peristiwa penting masyarakat. Mereka tidak hanya berada di ruang ibadah atau ruang kelas, tetapi ikut bersentuhan dengan persoalan nyata yang dihadapi umat.

Baca Juga  Jahiliyah Modern: Ketika Ilmu Kehilangan Nurani dan Kekuasaan Mengalahkan Kemanusiaan

Dari sinilah, menurut Imam Khamenei, lahir kedalaman pengaruh keulamaan Syiah dalam masyarakat.

Pengaruh itu tidak semata-mata dibangun melalui jabatan atau kekuasaan formal. Ia tumbuh dari keterlibatan panjang dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan dengan rakyat, dari respons terhadap persoalan zaman, dan dari keberanian untuk mengambil posisi ketika agama dan kehidupan umat menghadapi tantangan.

Namun ada alasan lain yang lebih mendasar.

Jika para ulama sepenuhnya menarik diri dari persoalan-persoalan penting, agama sendiri dapat menjadi korban.

Keulamaan, dalam pandangan ini, bukan tujuan akhir. Ia adalah pelayan agama. Identitasnya memperoleh makna dari pengabdiannya kepada agama. Karena itu, ketika terjadi sebuah peristiwa besar yang menyangkut masa depan masyarakat dan nilai-nilai keislaman, sikap tidak peduli bukanlah bentuk netralitas yang mulia. Dalam kondisi tertentu, diam justru dapat berarti membiarkan agama kehilangan ruang untuk berbicara.

Revolusi Islam Iran menjadi salah satu contoh yang digunakan Imam Khamenei untuk menjelaskan gagasan tersebut. Menurutnya, jika para ulama memilih berada di pinggir dan tidak mengambil sikap terhadap perubahan besar yang terjadi di tengah masyarakat, agama akan mengalami kerugian. Sebab salah satu tujuan utama keulamaan adalah menjaga dan mempertahankan nilai-nilai agama dalam kehidupan manusia.

Dengan kata lain, keterlibatan bukan sekadar pilihan politik. Ia dapat menjadi bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Musuh sebagai pemicu lahirnya pemikiran

Namun keterlibatan di ruang publik memiliki konsekuensi. Ketika sebuah lembaga keagamaan menjadi aktif dan berpengaruh, ia hampir pasti akan menghadapi kritik, penolakan, bahkan permusuhan.

Di titik inilah Imam Khamenei mengajukan gagasan yang menarik: permusuhan tidak selalu berakhir sebagai kerugian.

Dalam keadaan tertentu, tekanan dari luar justru dapat membangunkan energi intelektual dan sosial dari sebuah komunitas. Serangan memaksa seseorang untuk berpikir. Tantangan memaksa sebuah lembaga untuk menjelaskan dirinya. Kritik menuntut jawaban.

Baca Juga  Haji Bara’ah: Ketika Ibadah Menjadi Pernyataan Sikap terhadap Penindasan

Sejarah pemikiran Islam di Iran, menurutnya, memberikan sejumlah contoh.

Ia menyebut munculnya karya-karya besar sebagai respons terhadap tantangan intelektual dan ideologis pada zamannya. Salah satunya adalah buku Kashf al-Asrar karya Imam Khomeini. Imam Khamenei mengaitkan lahirnya karya tersebut dengan polemik yang muncul setelah penerbitan buku Asrar-e Hezar Saleh, yang menurutnya membawa kecenderungan sekularisme dan pengaruh pemikiran Wahabi. Dalam konteks itulah, Imam Khomeini terdorong untuk memberikan respons intelektual yang kemudian menjadi salah satu karya penting dalam perkembangan pemikiran politik Islam Syiah.

Hal serupa, menurut Imam Khamenei, terjadi ketika arus pemikiran kiri dan Marxisme berkembang kuat di Iran pada dekade 1940-an dan awal 1950-an. Tantangan intelektual tersebut turut mendorong lahirnya karya besar seperti Principles of Philosophy and the Method of Realism yang ditulis oleh Allamah Muhammad Husayn Tabataba’i bersama Murtadha Mutahhari.

Dari sini muncul sebuah pelajaran penting: sebuah pemikiran tidak selalu berkembang dalam keadaan tenang. Kadang-kadang justru tekananlah yang memaksanya menemukan bentuk terbaiknya.

Musuh, dalam pengertian ini, dapat menjadi pemicu kesadaran.

Tetapi ada satu syarat: masyarakat dan lembaga yang menghadapi tantangan itu harus tetap hidup, sadar, dan terjaga.

Tantangan hanya menjadi peluang bagi mereka yang terjaga

Permusuhan tidak otomatis menghasilkan kemajuan. Ia hanya menjadi peluang bagi mereka yang mampu meresponsnya dengan kesadaran dan kecerdasan.

Jika sebuah masyarakat tertidur, serangan akan menghancurkannya. Jika sebuah lembaga kehilangan daya hidup, kritik akan membuatnya semakin lemah. Tetapi jika ia memiliki kesadaran, tantangan dapat menjadi bahan bakar bagi pembaruan.

Karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukanlah apakah sebuah lembaga keagamaan akan menghadapi permusuhan atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana ia merespons permusuhan tersebut.

Baca Juga  Kebebasan dalam Islam: Merdeka dari Penjara Materi

Apakah ia memilih mundur?

Ataukah ia menjawabnya dengan ilmu, argumentasi, keteguhan, dan karya?

Dalam kerangka pemikiran Khamenei, sejarah menunjukkan bahwa ketika lembaga keagamaan tetap hidup dan tidak kehilangan kesadaran, setiap tekanan dapat melahirkan respons yang produktif. Sebuah serangan dapat melahirkan buku. Sebuah polemik dapat melahirkan teori. Sebuah ancaman dapat membangunkan generasi baru untuk berpikir.

Di situlah letak paradoks sejarah.

Musuh mungkin bermaksud membungkam. Tetapi jika yang dihadapi adalah masyarakat yang sadar, upaya membungkam itu justru dapat melahirkan suara yang lebih kuat.

Karena itu, bagi Khamenei, lembaga keagamaan tidak seharusnya mencari kehormatan dengan cara menghilang dari kehidupan masyarakat. Kehormatan yang sejati bukanlah menjadi lembaga yang tidak pernah dimusuhi, melainkan menjadi lembaga yang tetap berdiri ketika menghadapi permusuhan.

Sebab sesuatu yang benar-benar hidup akan selalu menimbulkan reaksi.

Ia dicintai oleh sebagian orang, dibenci oleh sebagian yang lain, tetapi tidak pernah dianggap tidak ada.

Dan mungkin di situlah ukuran sebuah lembaga yang masih memiliki arti: bukan seberapa sedikit ia menghadapi tantangan, melainkan seberapa baik ia mengubah tantangan menjadi pengetahuan, kesadaran, dan karya.

Bagikan:
Terkait
Komentar