Panggilan Haji Nabi Ibrahim: Seruan yang Tak Pernah Berhenti untuk Seluruh Umat Manusia

KHAMENEI.ID– Ada panggilan yang tidak pernah usang dimakan waktu. Ia tidak lahir dari pengeras suara, tidak bergema melalui gelombang radio, apalagi media sosial. Namun gaungnya terus melintasi abad demi abad, menyentuh hati manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan generasi. Itulah panggilan Nabi Ibrahim a.s untuk menunaikan haji, sebuah seruan yang menurut tradisi Islam, masih terus dijawab hingga hari kiamat.

Haji sering dipahami sebagai ibadah yang hanya diwajibkan bagi umat Islam yang mampu. Namun jika menelusuri akar sejarahnya, kita menemukan sesuatu yang lebih besar. Haji bermula dari sebuah undangan yang ditujukan bukan kepada kelompok tertentu, melainkan kepada seluruh umat manusia. Sejak awal, ia hadir sebagai panggilan universal yang melampaui batas suku, bangsa, bahkan zaman.

Dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir a.s disebutkan bahwa ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s untuk mengajak manusia berhaji, Ibrahim a.s berdiri di atas Gunung Abu Qubais di dekat Ka’bah. Lalu ia berseru:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَحُجُّوا هَذَا الْبَيْتَ فَحُجُّوهُ

“Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Ibrahim, kekasih Allah. Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan haji ke rumah ini. Maka berhajilah”

Riwayat itu kemudian menjelaskan bahwa siapa pun yang berhaji hingga Hari Kiamat sejatinya sedang menjawab seruan Nabi Ibrahim a.s tersebut. Dengan kata lain, setiap langkah menuju Masjidil Haram bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga jawaban atas sebuah panggilan yang telah dikumandangkan ribuan tahun silam.

Yang menarik, Ibrahim a.s tidak berkata, “Wahai orang-orang yang beriman kepadaku,” atau “Wahai pengikutku.” Seruannya dimulai dengan kalimat sederhana sekaligus luas maknanya: “Wahai manusia.” Di titik inilah tampak bahwa Islam memandang haji bukan sebagai simbol eksklusivitas, melainkan sebagai warisan kemanusiaan. Sebelum menjadi ritual keagamaan, haji adalah panggilan fitrah yang mengingatkan manusia akan asal-usul dan tujuan hidupnya.

Baca Juga   Menjaga Cahaya Kebenaran: Jihad Tabyin dari Karbala hingga Hari Ini

Dalam konteks yang lebih luas, panggilan itu memperlihatkan cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Allah tidak hanya mengundang individu-individu tertentu, tetapi membuka pintu bagi seluruh umat manusia untuk mendekat kepada-Nya. Memang, kewajiban syariat berlaku bagi kaum Muslim yang memenuhi syarat. Namun akar historis dan spiritualnya menunjukkan bahwa Ka’bah dibangun sebagai rumah yang mengundang hati manusia menuju Tuhan Yang Esa.

Karena itu, setiap musim haji menghadirkan pemandangan yang selalu menggetarkan. Jutaan manusia datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka mengenakan pakaian yang sama, meninggalkan atribut kebangsaan, status sosial, jabatan, dan kekayaan. Di hadapan Ka’bah, seorang raja berdiri sejajar dengan rakyat biasa. Seorang profesor berjalan bersama petani. Semua melebur dalam satu identitas: hamba Allah.

Kesetaraan ini bukan sekadar simbol. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana manusia semestinya memandang sesamanya. Dunia modern sering kali membangun tembok pemisah berdasarkan ras, ekonomi, politik, dan ideologi. Haji justru meruntuhkan sekat-sekat itu. Yang tersisa hanyalah manusia yang sedang menjawab panggilan Ilahi.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa ibadah haji berlangsung pada hari-hari tertentu yang telah ditetapkan. Dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Ingatlah Allah pada hari-hari yang telah ditentukan” (QS. Al-Baqarah: 203)

Sementara dalam Surah Al-Hajj disebutkan:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi diri mereka dan mengingat nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan” (QS. Al-Hajj: 28)

Dua ayat ini mengandung pesan yang saling melengkapi. Haji memiliki dimensi spiritual melalui zikir dan penghambaan kepada Allah. Namun pada saat yang sama, ia juga menghadirkan manāfi‘; berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat itu tidak terbatas pada aspek ibadah, tetapi juga mencakup persaudaraan, pertukaran pengalaman, solidaritas sosial, hingga tumbuhnya kesadaran bahwa umat manusia sesungguhnya memiliki nasib yang saling terhubung.

Baca Juga  Enam Penyakit Hati yang “Ditakuti” Rasulullah: Mengapa Manusia Modern Makin Sulit Menjaga Jiwanya?

Gagasan ini kemudian menyentuh realitas kehidupan modern. Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital tetapi sering terpecah secara emosional, haji menghadirkan ruang perjumpaan yang nyata. Orang-orang yang sebelumnya asing dipersatukan oleh tujuan yang sama. Mereka berbagi air, makanan, doa, dan harapan. Perbedaan bahasa tidak lagi menjadi penghalang karena yang berbicara adalah kesadaran bahwa semua berasal dari Tuhan yang sama dan akan kembali kepada-Nya.

Mungkin inilah sebabnya mengapa seruan Nabi Ibrahim a.s tidak pernah kehilangan daya hidupnya. Ia bukan sekadar ajakan melakukan perjalanan ke sebuah kota suci, melainkan undangan untuk kembali menemukan hakikat diri. Haji mengajarkan bahwa perjalanan terjauh bukanlah dari satu negara ke negara lain, melainkan dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari keterikatan kepada dunia menuju kedekatan dengan Allah.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang dipenuhi persaingan, panggilan itu tetap terdengar lirih tetapi tegas. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan bukan untuk saling meninggikan diri, melainkan untuk bersama-sama menghadap Sang Pencipta. Setiap talbiyah yang dikumandangkan jutaan jamaah sesungguhnya adalah jawaban yang terus diperbarui atas seruan Nabi Ibrahim a.s yang bergema sejak ribuan tahun lalu.

Maka, haji bukan hanya milik mereka yang sedang berada di Tanah Suci. Ia juga menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa hidup ini pada hakikatnya adalah perjalanan memenuhi panggilan Tuhan. Sebagian menjawabnya dengan langkah menuju Ka’bah. Sebagian lain menjawabnya dengan menyiapkan hati hingga tiba saatnya diundang. Dan selama dunia masih berputar, seruan itu akan tetap bergema: memanggil manusia, tanpa membedakan asal-usulnya, untuk kembali kepada Allah.

Bagikan:
Terkait
Komentar