KHAMENEI.ID– Tidak ada peradaban yang runtuh hanya karena kemiskinan. Sebuah masyarakat biasanya mulai hancur ketika hati manusianya lebih dahulu kehilangan arah. Pengetahuan masih ada, kekuasaan tetap berdiri, perdagangan terus berjalan, tetapi moralitas perlahan menghilang. Itulah wajah dunia ketika Nabi Muhammad saw diutus. Sebuah zaman yang tampak maju di permukaan, namun sesungguhnya sedang tenggelam dalam krisis kemanusiaan yang mendalam.
Sering kali kita membayangkan masa sebelum Islam hanya sebagai era penyembahan berhala. Gambaran itu memang benar, tetapi terlalu sederhana. Persoalan terbesar saat itu bukan semata-mata patung-patung yang disembah, melainkan manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Fanatisme suku menggantikan keadilan, kekuasaan berdiri di atas penindasan, sementara takhayul dan kepentingan pribadi menutup pintu akal sehat.
Ironisnya, kondisi itu terjadi bukan karena manusia tidak mengenal ilmu. Sebagian bangsa telah membangun kerajaan besar, mengembangkan perdagangan, bahkan memiliki tradisi intelektual yang panjang. Namun ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai-nilai moral justru menjadi alat untuk mempertahankan dominasi. Kekuatan dipakai untuk menindas, bukan melindungi. Kekuasaan berubah menjadi mesin yang menggiling manusia.
Dalam konteks yang lebih luas, inilah yang disebut sebagai puncak kemerosotan moral. Manusia menjadi tawanan hawa nafsunya sendiri. Mereka diperbudak oleh kesombongan, dikendalikan oleh prasangka, dan hidup di bawah pemerintahan yang mengorbankan rakyat demi kelanggengan kekuasaan. Kezaliman bukan lagi penyimpangan, melainkan telah menjadi sistem yang diterima sebagai kenyataan.
Imam Ali a.s melukiskan suasana itu dalam salah satu khutbahnya di Nahj al-Balaghah dengan bahasa yang sangat kuat.
فِي فِتَنٍ دَاسَتْهُمْ بِأَخْفَافِهَا وَوَطِئَتْهُمْ بِأَظْلَافِهَا وَقَامَتْ عَلَى سَنَابِكِهَا
“Mereka berada di tengah fitnah yang menginjak-injak mereka dengan telapak dan kukunya, lalu berdiri kokoh di atas mereka”
Ungkapan itu menghadirkan sebuah gambaran yang menggetarkan. Fitnah, kekacauan, dan kezaliman digambarkan seperti seekor binatang buas yang menggilas manusia tanpa belas kasihan. Manusia bukan lagi pengendali sejarah, melainkan korban dari kekuatan-kekuatan yang mereka ciptakan sendiri.
Di bagian lain khutbah itu, Imam Ali a.s menggambarkan penderitaan batin masyarakat pada masa tersebut dengan kalimat yang singkat namun menghunjam:
نَوْمُهُمْ سُهُودٌ وَكُحْلُهُمْ دُمُوعٌ
“Tidur mereka adalah kegelisahan, dan celak mata mereka adalah air mata”
Kalimat itu tidak sekadar berbicara tentang sulit tidur. Ia menggambarkan sebuah masyarakat yang kehilangan rasa aman. Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat justru dipenuhi kecemasan. Air mata menjadi teman yang lebih akrab daripada harapan. Ketakutan merasuk hingga ke ruang paling pribadi dalam kehidupan manusia.
Lebih jauh lagi, Imam Ali a.s menggambarkan bahwa tali agama telah terputus, tiang-tiang keyakinan terguncang, petunjuk menjadi redup, sementara kebutaan moral merata di mana-mana. Ketaatan kepada Allah digantikan oleh kepatuhan kepada setan, sedangkan iman kehilangan pijakannya. Gambaran ini bukan sekadar kritik terhadap masyarakat tertentu, melainkan diagnosis tentang apa yang terjadi ketika nilai-nilai kebenaran ditinggalkan.
Di titik inilah kehadiran Nabi Muhammad saw memperoleh maknanya yang sesungguhnya.
Beliau tidak datang hanya untuk mengubah tata cara ibadah atau mengganti simbol-simbol keagamaan. Misi yang dibawanya jauh lebih mendasar: membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan. Perbudakan terhadap hawa nafsu, terhadap fanatisme, terhadap takhayul, terhadap ketidakadilan, dan terhadap rezim-rezim yang menginjak martabat manusia.
Karena itu, perjuangan Nabi saw sejak awal bukanlah sekadar pertarungan politik, melainkan revolusi moral. Beliau mengajarkan bahwa manusia memiliki nilai yang tidak boleh dibeli oleh kekuasaan maupun dihancurkan oleh status sosial. Seorang budak dapat lebih mulia daripada seorang bangsawan apabila ia bertakwa. Seorang perempuan memiliki kehormatan yang sama sebagai manusia. Anak yatim memiliki hak yang wajib dijaga. Orang miskin bukan beban masyarakat, melainkan amanah yang harus dipenuhi.
Gagasan ini kemudian menyentuh inti peradaban. Islam tidak sekadar memperbaiki perilaku individu, tetapi juga mengoreksi struktur sosial yang memungkinkan kezaliman terus berlangsung. Sebab kejahatan sering kali bukan hanya lahir dari orang-orang jahat, melainkan juga dari sistem yang membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang biasa.
Jika ditarik lebih jauh, gambaran tentang dunia sebelum kenabian ternyata memiliki gema yang kuat pada masa kini. Peradaban modern memang berbeda dalam teknologi, tetapi belum tentu berbeda dalam watak. Pengetahuan berkembang pesat, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, dan kekayaan dunia meningkat. Namun pada saat yang sama, perang masih berlangsung, penindasan masih terjadi, berita bohong menyebar tanpa kendali, sementara manusia semakin mudah terjebak dalam fanatisme dan kebencian.
Kemajuan ternyata tidak otomatis melahirkan kemanusiaan. Sejarah menunjukkan bahwa ilmu tanpa moral dapat berubah menjadi alat penindasan, sebagaimana kekuasaan tanpa nilai akan selalu mencari korban baru.
Karena itu, kisah tentang masyarakat pada masa sebelum Nabi Muhammad saw bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan keadaan setiap zaman. Ketika manusia mulai mengagungkan kekuatan di atas keadilan, kepentingan di atas kebenaran, dan fanatisme di atas akal sehat, sesungguhnya mereka sedang menghidupkan kembali wajah jahiliah dalam bentuk yang baru.
Di sinilah pesan kenabian tetap relevan. Nabi Muhammad saw hadir untuk mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari tingginya bangunan, luasnya wilayah kekuasaan, atau banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Peradaban hanya layak disebut maju apabila mampu menjaga martabat manusia.
Mungkin itulah sebabnya sejarah tidak mengenang Nabi Muhammad saw hanya sebagai pendiri sebuah masyarakat baru, tetapi sebagai pembebas manusia dari penjara yang paling berbahaya: penjara kezaliman yang membelenggu hati, akal, dan nurani. Selama penjara itu masih ada, misi beliau tetap menjadi panggilan yang hidup bagi setiap generasi.







