KHAMENEI.ID– Ada ironi yang kerap luput disadari dalam kehidupan. Seseorang bersusah payah melakukan kebaikan, mengorbankan tenaga, waktu, bahkan hartanya. Namun, semua itu bisa kehilangan maknanya hanya karena satu kalimat: “Kalau bukan karena saya, semua ini tidak akan terjadi.” Kebaikan yang semula menjadi cahaya berubah menjadi bayang-bayang ego. Di situlah sebuah amal mulai kehilangan ruhnya.
Pesan ini pernah diingatkan dengan sangat tajam oleh Imam Ali bin Abi Thalib a.s dalam suratnya yang masyhur kepada Malik al-Asytar, seorang gubernur yang diamanahinya memimpin Mesir. Surat itu bukan sekadar pedoman administrasi negara, melainkan juga pelajaran tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan dengan kerendahan hati.
Imam Ali a.s mengingatkan agar seorang pemimpin tidak pernah merasa berjasa di hadapan rakyat. Apa pun yang telah dilakukan, jangan dijadikan alasan untuk menuntut rasa terima kasih. Sebab, melayani masyarakat bukanlah hadiah dari penguasa kepada rakyat, melainkan kewajiban yang melekat pada jabatan itu sendiri.
Dalam pandangan ini, kekuasaan bukanlah panggung untuk memanen pujian. Ia adalah amanah yang justru menuntut seseorang bekerja tanpa mengharapkan sanjungan. Ketika seorang pemimpin terus-menerus mengingatkan rakyat tentang jasa-jasanya, sesungguhnya ia sedang menghapus nilai dari kebaikan yang telah dilakukannya.
Imam Ali a.s menyampaikan peringatan yang sangat singkat, tetapi menghunjam:
فَإِنَّ الْمَنَّ يُبْطِلُ الْإِحْسَانَ
“Sesungguhnya sikap mengungkit-ungkit jasa akan membatalkan nilai kebaikan”
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pelajaran psikologis yang dalam. Kebaikan sejatinya membebaskan orang lain, bukan membuat mereka merasa berutang. Ketika bantuan selalu disertai pengingat akan jasa pemberinya, hubungan yang lahir bukan lagi hubungan kemanusiaan, melainkan hubungan yang timpang. Yang satu merasa berhak dipuji, sementara yang lain dipaksa terus mengingat utang budi.
Namun, Imam Ali a.s tidak berhenti pada persoalan mengungkit jasa. Ia juga mengingatkan bahaya lain yang sering menyusup ke dalam diri para pemimpin: membesar-besarkan keberhasilan.
Di era media sosial dan politik pencitraan, godaan ini terasa semakin nyata. Sebuah pekerjaan biasa dipoles menjadi prestasi luar biasa. Program yang baru dimulai dipromosikan seolah telah mengubah sejarah. Statistik dipilih secara selektif, sementara kegagalan disembunyikan rapat-rapat.
Padahal, menurut Imam Ali a.s, sikap seperti itu hanya akan mengaburkan kebenaran. Ketika seseorang sibuk mempercantik citra dirinya, cahaya fakta perlahan meredup. Publik mungkin bisa diyakinkan untuk sementara, tetapi kebenaran selalu memiliki cara untuk menyingkap dirinya.
Masalah berikutnya adalah janji.
Hampir tidak ada yang lebih mudah diucapkan daripada sebuah janji. Tetapi tidak ada pula yang lebih mahal daripada menepatinya.
Dalam surat itu, Imam Ali a.s meminta agar seorang pemimpin menganggap setiap janji sebagai utang moral. Janji bukan sekadar rangkaian kata dalam pidato, melainkan komitmen yang harus terus diperjuangkan hingga batas kemampuan.
Memang, ada keadaan ketika seseorang benar-benar tidak mampu memenuhi janjinya karena situasi yang berada di luar kendali. Namun selama masih ada ruang untuk berikhtiar, segala daya harus dikerahkan agar kepercayaan masyarakat tidak runtuh.
Imam Ali a.s kembali memberi peringatan:
وَالْخُلْفُ يُوجِبُ الْمَقْتَ عِنْدَ اللَّهِ وَالنَّاسِ
“Mengingkari janji akan mendatangkan kebencian di sisi Allah dan di mata manusia”
Kepercayaan adalah modal yang paling sulit dibangun, tetapi paling mudah dihancurkan. Sekali masyarakat merasa dikhianati, tidak cukup hanya dengan kata maaf untuk mengembalikannya.
Namun, etika kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang kejujuran. Ia juga berbicara tentang waktu.
Dalam nasihatnya, Imam Ali a.s melarang dua sikap yang tampak bertolak belakang, tetapi sama-sama berbahaya: tergesa-gesa dan menunda-nunda.
Tergesa-gesa membuat seseorang memetik buah sebelum matang. Ia ingin segera menikmati hasil tanpa memberi kesempatan proses bekerja sebagaimana mestinya. Imam Ali a.s pernah mengibaratkan orang yang memanen sebelum waktunya seperti seseorang yang menanam di tanah milik orang lain. Semua jerih payahnya akhirnya tidak menghasilkan manfaat bagi dirinya.
Perumpamaan itu sangat relevan hingga hari ini. Banyak keputusan gagal bukan karena idenya buruk, melainkan karena dipaksakan sebelum waktunya. Program yang belum siap diluncurkan demi mengejar popularitas. Kebijakan diterapkan sebelum fondasinya kokoh. Hasilnya justru menjadi bumerang.
Sebaliknya, menunda pekerjaan yang sebenarnya sudah siap dilakukan juga merupakan bentuk kelalaian. Ada orang yang terus menunggu keadaan sempurna, hingga akhirnya kesempatan berlalu begitu saja. Kehati-hatian berubah menjadi alasan untuk tidak bertindak.
Di antara dua ekstrem itu, Imam Ali a.s menawarkan jalan yang lebih bijaksana: bertindak pada saat yang tepat.
Ada satu lagi penyakit yang tidak kalah berbahaya, yaitu keras kepala.
Setiap orang bisa saja keliru. Bahkan pemimpin terbaik sekalipun tidak kebal dari kesalahan. Yang membedakan seorang negarawan dengan orang biasa bukanlah karena ia selalu benar, melainkan karena ia berani mengakui ketika ternyata salah.
Imam Ali a.s mengingatkan bahwa jika telah jelas sebuah keputusan ternyata keliru, jangan terus mempertahankannya hanya demi menjaga gengsi. Menarik kembali pendapat bukanlah aib. Yang menjadi aib adalah mempertahankan kesalahan hanya karena enggan kehilangan muka.
Sebaliknya, ketika telah nyata bahwa suatu pekerjaan memang harus dilakukan, jangan melemah atau ragu. Keragu-raguan yang berlebihan sering kali sama merusaknya dengan keberanian yang tanpa pertimbangan.
Di sinilah kepemimpinan menemukan keseimbangannya. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lamban. Tidak keras kepala, tetapi juga tidak mudah goyah. Tidak haus pujian, tetapi juga tidak menghindari tanggung jawab.
Pada akhirnya, surat Imam Ali a.s ini tidak hanya berbicara kepada para penguasa. Ia berbicara kepada siapa pun yang memegang amanah, sekecil apa pun ruang kepemimpinannya: seorang guru, orang tua, pemimpin organisasi, atau bahkan setiap orang yang dipercaya oleh sesamanya.
Sebab, ukuran sejati sebuah kepemimpinan bukanlah seberapa sering kita dipuji, melainkan seberapa tulus kita bekerja tanpa merasa berjasa. Kebaikan yang paling kuat bukanlah yang paling banyak diceritakan, melainkan yang tetap hidup meski tidak pernah disebut-sebut. Dan kepercayaan yang paling kokoh lahir dari tiga hal yang sederhana: tidak mengungkit jasa, menepati janji, serta mengetahui kapan harus bergerak dan kapan harus menunggu.







