Melawan Imperialisme: Ketika Sebuah Bangsa Berani Berdiri Tegak

KHAMENEI.ID– Ada saat-saat dalam sejarah ketika sebuah bangsa tidak lagi sekadar memperjuangkan wilayah, kekuasaan, atau pergantian rezim. Yang dipertaruhkan jauh lebih besar: martabat. Pada titik itulah perjuangan berubah menjadi perlawanan terhadap sebuah sistem yang selama puluhan tahun mengatur arah dunia. Bukan lagi melawan satu pemerintahan, melainkan menghadapi jejaring kekuasaan yang menjangkau batas-batas negara.

Sejarah Revolusi Iran menjadi salah satu contoh paling mencolok tentang bagaimana sebuah bangsa memutuskan untuk berdiri melawan dominasi global. Yang mereka hadapi bukan hanya pemerintahan monarki yang selama bertahun-tahun menjadi sekutu Barat, tetapi juga struktur politik dan ekonomi internasional yang menopang kekuatan itu. Dalam pandangan para pemimpin revolusi, benteng yang runtuh pada 1979 hanyalah pintu masuk menuju pertarungan yang lebih besar: menghadapi imperialisme.

Namun, keberanian semacam itu tidak lahir dari keberanian yang membabi buta. Ada cara pandang yang lebih dalam tentang bagaimana menghadapi kekuatan besar. Dalam sebuah petuah yang terkenal, Imam Ali a.s memberikan nasihat kepada putranya, Muhammad bin Hanafiyah, ketika Perang Jamal berkecamuk.

تَزُولُ الْجِبَالُ وَلَا تَزُلْ، عَضَّ عَلَى نَاجِذِكَ، أَعِرِ اللَّهَ جُمْجُمَتَكَ، تِدْ فِي الْأَرْضِ قَدَمَكَ، ارْمِ بِبَصَرِكَ أَقْصَى الْقَوْمِ، وَغُضَّ بَصَرَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ

“Sekalipun gunung-gunung bergeser dari tempatnya, janganlah engkau bergeser. Katupkan gigimu rapat-rapat. Serahkan kepalamu kepada Allah. Tancapkan kakimu kuat di bumi. Arahkan pandanganmu ke bagian paling belakang pasukan musuh. Tundukkan pandanganmu saat menyerang, dan ketahuilah bahwa kemenangan datang dari Allah Yang Mahasuci”

Petuah ini bukan sekadar strategi militer. Ia mengajarkan cara membaca akar persoalan. Imam Ali a.s tidak menyuruh memusatkan perhatian pada barisan terdepan yang tampak paling dekat. Sebaliknya, pandangan diarahkan ke bagian paling belakang, tempat sumber kekuatan lawan berada. Musuh yang terlihat di depan sering kali hanyalah wajah dari kekuatan yang lebih besar di belakangnya.

Baca Juga  Di Antara Sujud dan Rencana: Spiritualitas dan Krisis Makna Perencanaan dalam Kehidupan Keagamaan 

Gagasan itu kemudian menemukan relevansinya dalam perjuangan modern. Sebuah bangsa boleh saja berhasil menggulingkan seorang penguasa, tetapi apabila struktur yang menopangnya tetap berdiri, penindasan hanya berganti wajah. Karena itulah kemenangan sejati tidak berhenti pada pergantian pemimpin. Ia menuntut keberanian untuk memahami sistem yang bekerja di balik layar.

Dalam konteks Revolusi Iran, yang dipandang sebagai lawan bukan hanya pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlavi. Rezim itu dilihat sebagai salah satu benteng dari jaringan kekuasaan global yang lebih luas. Setelah benteng tersebut roboh, arah perjuangan pun bergeser. Sasaran berikutnya bukan lagi sebuah negara tertentu, melainkan dominasi imperialisme yang dianggap mencengkeram banyak bangsa melalui kekuatan politik, ekonomi, militer, hingga kendali atas sumber daya.

Di titik ini, perjuangan memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan lagi soal nasionalisme yang sempit. Perlawanan itu dipahami sebagai suara bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran sejarah: masyarakat tertindas, bangsa-bangsa yang kehilangan kedaulatan, serta negara-negara berkembang yang berkali-kali dipaksa mengikuti kepentingan kekuatan besar.

Keyakinan seperti itulah yang melahirkan pandangan bahwa ketika satu bangsa berani berdiri melawan dominasi global, gema perjuangannya tidak berhenti di dalam negeri. Ia dapat menjadi sumber harapan bagi banyak bangsa lain yang mengalami tekanan serupa. Sebuah keberanian lokal dapat berubah menjadi inspirasi universal.

Namun, jika ditarik lebih jauh, imperialisme hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk pendudukan militer atau kolonialisme klasik. Wajahnya jauh lebih halus. Ia dapat muncul melalui ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi, penguasaan informasi, hingga kemampuan membentuk opini publik secara global. Sebuah negara mungkin tampak merdeka secara politik, tetapi kebijakan ekonominya ditentukan oleh tekanan luar. Masyarakat merasa bebas, tetapi cara berpikirnya diarahkan oleh arus informasi yang dikendalikan pihak lain.

Baca Juga  Khawarij dan Bahaya Merasa Paling Benar dalam Agama

Karena itu, pesan Imam Ali a.s tetap terasa hidup. Jangan hanya memandang apa yang berada di depan mata. Lihatlah sumber persoalan. Cari akar kekuasaan yang menggerakkan berbagai peristiwa. Tanpa kemampuan membaca struktur di balik sebuah konflik, seseorang mudah terjebak melawan gejala, bukan penyebabnya.

Akan tetapi, keberanian menghadapi kekuatan besar juga memiliki syarat. Ia harus disertai keteguhan moral. Nasihat Imam Ali a.s dimulai dengan kalimat yang sangat kuat: “Sekalipun gunung bergeser, jangan engkau bergeser.” Keteguhan bukan berarti keras kepala, melainkan kemampuan mempertahankan prinsip ketika tekanan datang dari segala arah. Dalam dunia modern yang dipenuhi kompromi politik dan kepentingan ekonomi, menjaga integritas sering kali jauh lebih sulit daripada memenangkan sebuah pertempuran.

Pada akhirnya, sejarah selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada setiap generasi: apakah kita hanya berani menghadapi lawan yang tampak di depan mata, ataukah kita memiliki keberanian untuk memahami dan menantang sistem yang melahirkan ketidakadilan?

Jawaban atas pertanyaan itu menentukan apakah sebuah perjuangan akan berhenti sebagai peristiwa sesaat atau berubah menjadi gerakan yang menginspirasi lintas zaman. Sebab sejarah tidak hanya mengenang mereka yang menang dalam pertempuran, tetapi juga mereka yang berani berdiri tegak ketika berhadapan dengan kekuatan yang tampak mustahil dikalahkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar