Islam dan Pesan Persaudaraan: Melampaui Perbedaan Menuju Kemanusiaan

KHAMENEI.ID– Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas, agama, dan kepentingan politik, kata “persaudaraan” sering kali terdengar sebagai slogan yang kehilangan maknanya. Orang lebih cepat menemukan alasan untuk saling mencurigai daripada mencari titik temu. Perbedaan keyakinan berubah menjadi sekat, sementara kemanusiaan yang seharusnya menjadi fondasi bersama perlahan memudar. Padahal, sejak awal, Islam datang membawa pesan yang justru berlawanan dengan arus perpecahan itu: membangun persatuan, menghadirkan rasa aman, dan menumbuhkan kasih sayang antarmanusia.

Pesan Islam bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Lebih dari itu, ia juga membangun cara pandang terhadap sesama manusia. Tidak peduli siapa mereka, dari mana asalnya, atau apa keyakinannya, setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Di sinilah letak salah satu wajah Islam yang paling mendasar, tetapi sering terlupakan ketika agama hanya dipahami sebagai batas antara “kami” dan “mereka”.

Gagasan itu tergambar indah dalam salah satu pesan abadi Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Dalam suratnya kepada Malik al-Asytar, gubernur Mesir, beliau mengingatkan bahwa manusia yang berada di hadapan kita hanya memiliki dua kemungkinan: ia adalah saudara kita dalam agama atau saudara kita dalam kemanusiaan. Kalimat sederhana itu menyimpan pandangan yang melampaui zamannya. Ia menghapus ruang bagi kebencian yang lahir hanya karena perbedaan identitas.

Jika seseorang seiman, maka persaudaraan telah terjalin melalui ikatan akidah. Namun jika ia berbeda keyakinan, hubungan itu tidak lantas terputus. Masih ada ikatan yang lebih tua daripada agama, yakni sama-sama diciptakan sebagai manusia. Dengan cara pandang seperti ini, penghormatan kepada sesama tidak bergantung pada kesamaan keyakinan, melainkan pada kemuliaan penciptaan manusia itu sendiri.

Baca Juga  Al-Qur’an sebagai Obat Luka Zaman, Bukan Sekadar Lantunan 

Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qur’an juga menegaskan prinsip tersebut. Allah berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini memperlihatkan bahwa kebaikan bukanlah hadiah eksklusif untuk kelompok sendiri. Islam justru mendorong umatnya berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun yang hidup berdampingan secara damai. Keadilan tidak boleh berubah mengikuti identitas seseorang, sebab keadilan adalah nilai yang berdiri di atas semua perbedaan.

Di titik ini, kita melihat bahwa Islam tidak membangun masyarakat berdasarkan permusuhan. Yang ditolak bukanlah keberagaman, melainkan kezaliman. Yang dilawan bukan perbedaan keyakinan, tetapi tindakan yang merusak kehidupan bersama. Selama seseorang tidak melakukan penindasan atau permusuhan, ia tetap berhak mendapatkan perlakuan yang baik.

Pandangan seperti ini terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Dunia digital memungkinkan orang saling terhubung tanpa batas, tetapi pada saat yang sama juga mempercepat penyebaran prasangka. Perbedaan pendapat sering berubah menjadi kebencian, sementara media sosial menjadikan penghinaan sebagai tontonan sehari-hari. Kita hidup di era ketika seseorang lebih mudah dihakimi daripada dipahami.

Ironisnya, banyak konflik justru dimulai dari keyakinan bahwa hanya diri sendirilah yang berhak menjadi hakim atas orang lain. Padahal, Islam mengingatkan agar manusia tidak mengambil peran yang bukan miliknya. Imam Ali a.s pernah berkata bahwa urusan penghakiman terakhir berada di tangan Allah, dan kepada-Nya pula seluruh manusia akan kembali.

Baca Juga  Ketika Ibadah Kehilangan Ruh: Pelajaran dari Kaum Khawarij

Kesadaran ini mengandung pelajaran yang sangat penting. Tugas manusia bukan menentukan nasib akhir orang lain, melainkan memperlakukan mereka dengan adil selama hidup di dunia. Penilaian atas hati, iman, dan balasan setiap manusia adalah hak Allah semata. Ketika seseorang merasa berhak menghakimi keyakinan orang lain seolah-olah telah mengetahui keputusan Tuhan, saat itulah ia melampaui batas yang seharusnya dijaga.

Pesan ini sesungguhnya bukan hanya relevan dalam hubungan antaragama, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Betapa sering kita memutus silaturahmi hanya karena perbedaan pilihan politik, mazhab, organisasi, bahkan perkara-perkara kecil yang semestinya tidak menghapus rasa hormat. Padahal, jika manusia memulai perjumpaan dengan kesadaran bahwa orang di hadapannya adalah saudara dalam iman atau saudara dalam kemanusiaan, ruang dialog akan selalu terbuka.

Persatuan yang diajarkan Islam bukan berarti menyeragamkan semua orang. Keberagaman tetap diakui sebagai kenyataan hidup. Yang dipersatukan adalah komitmen untuk saling menjaga keamanan, menghormati martabat manusia, dan menegakkan keadilan. Persaudaraan bukan menuntut kesamaan dalam segala hal, melainkan kemampuan hidup berdampingan di tengah perbedaan.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah masyarakat tidak diukur dari banyaknya orang yang memiliki keyakinan sama, tetapi dari kemampuannya memelihara rasa aman bagi siapa pun. Ketika seseorang merasa dihargai meski berbeda, ketika keadilan tidak berubah karena identitas, dan ketika kasih sayang mampu mengalahkan prasangka, di situlah pesan Islam benar-benar hadir dalam kehidupan.

Barangkali itulah makna terdalam dari risalah Islam. Ia tidak datang untuk mempersempit lingkaran kasih sayang, melainkan memperluasnya. Sebab sebelum manusia dipisahkan oleh berbagai identitas, mereka terlebih dahulu dipersatukan oleh satu kenyataan yang tak terbantahkan: mereka sama-sama ciptaan Tuhan.

Bagikan:
Terkait
Komentar