KHAMENEI.ID– Ada dua cara keliru menghadapi korupsi. Yang pertama adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, lalu mencari seribu alasan untuk membenarkannya. Yang kedua adalah memandangnya sebagai penyakit yang telah melumpuhkan seluruh sendi kehidupan, seolah tak ada lagi ruang bagi kejujuran untuk bertahan. Keduanya sama-sama berbahaya. Yang satu melahirkan pembiaran, yang lain menumbuhkan keputusasaan.
Di antara dua kutub itulah masyarakat sering terjebak. Padahal, melawan korupsi membutuhkan kejernihan berpikir, bukan emosi yang berlebihan. Kita membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa korupsi memang ada, tetapi juga kebijaksanaan agar tidak kehilangan harapan terhadap manusia dan masa depan.
Dalam pandangan Islam, akar persoalan bukan pertama-tama terletak pada sistem, melainkan pada diri manusia. Setiap orang memiliki potensi untuk tergelincir ketika kehilangan kendali atas dirinya. Kekuasaan, harta, jabatan, bahkan pujian, dapat menjadi pintu yang mengantar seseorang kepada penyimpangan jika tidak disertai pengawasan batin.
Karena itulah Al-Qur’an dan ajaran para nabi begitu sering mengulang satu kata yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat mendasar: taqwa. Taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan kesadaran yang terus hidup untuk menjaga diri agar tidak menyimpang. Ia adalah alarm moral yang berbunyi sebelum tangan mengambil yang bukan haknya, sebelum lidah memutarbalikkan kebenaran, dan sebelum hati mulai menganggap dosa sebagai sesuatu yang biasa.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah menggambarkan taqwa sebagai benteng yang melindungi manusia di dunia sekaligus jalan yang mengantarkannya menuju surga. Dalam salah satu khutbahnya beliau berpesan:
عِبَادَ اللَّهِ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهَا حَقُّ اللَّهِ عَلَيْكُمْ… فَإِنَّ التَّقْوَى فِي الْيَوْمِ الْحِرْزُ وَالْجُنَّةُ وَفِي غَدٍ الطَّرِيقُ إِلَى الْجَنَّةِ
“Wahai hamba-hamba Allah, aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah. Taqwa adalah hak Allah atas kalian… Hari ini ia menjadi benteng dan pelindung, sedangkan esok menjadi jalan menuju surga”
Pesan ini terasa sangat relevan ketika berbicara tentang korupsi. Sebab korupsi tidak pernah lahir begitu saja. Ia selalu diawali oleh benteng yang mulai retak. Ketika rasa malu memudar, ketika hati tidak lagi merasa diawasi, ketika keuntungan pribadi dianggap lebih penting daripada amanah, saat itulah penyimpangan menemukan jalannya.
Di titik ini, korupsi bukan lagi sekadar persoalan hukum. Ia adalah krisis karakter.
Namun, mengakui adanya potensi penyimpangan bukan berarti kita boleh bersikap sinis terhadap semua orang. Di sinilah letak kekeliruan lain yang sering muncul. Sebagian orang melihat setiap pejabat pasti korup, setiap lembaga pasti rusak, setiap kebijakan pasti memiliki kepentingan tersembunyi. Cara pandang seperti ini mungkin tampak kritis, tetapi sesungguhnya sedang merusak kepercayaan sosial.
Ketika semua orang dicurigai tanpa dasar, kejujuran kehilangan penghargaan. Orang yang bekerja dengan bersih pun akhirnya dipandang sama dengan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan. Akibatnya, masyarakat tidak lagi memiliki teladan. Ruang publik dipenuhi prasangka, bukan fakta.
Sebaliknya, membenarkan korupsi juga tidak kalah berbahaya. Kalimat-kalimat seperti “semua orang juga begitu”, “yang penting masih bekerja”, atau “ini sudah budaya” perlahan mengikis sensitivitas moral. Kebiasaan buruk berubah menjadi norma. Dosa yang semula terasa berat menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.
Sejarah memperlihatkan bahwa banyak peradaban besar tidak runtuh hanya karena musuh dari luar, tetapi karena pembusukan dari dalam. Ketika integritas digadaikan demi keuntungan sesaat, fondasi sebuah masyarakat mulai rapuh. Kerusakan yang paling berbahaya bukanlah ketika hukum dilanggar, melainkan ketika pelanggaran itu berhenti dianggap sebagai kesalahan.
Dalam konteks yang lebih luas, perang melawan korupsi sebenarnya adalah perang melawan diri sendiri. Lembaga pengawasan, aparat penegak hukum, dan regulasi yang ketat memang penting. Namun semuanya memiliki batas. Tidak ada kamera yang mampu mengawasi isi hati. Tidak ada undang-undang yang dapat memaksa seseorang untuk tetap jujur ketika tidak seorang pun melihatnya.
Di situlah taqwa menemukan maknanya yang paling nyata. Ia menjadi pengawas yang tidak pernah tidur. Ia bekerja ketika ruang sidang kosong, ketika berkas berada di atas meja, ketika kesempatan untuk mengambil keuntungan terbuka lebar tanpa diketahui siapa pun.
Imam Ali a.s juga mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Dunia sering menjanjikan kemuliaan melalui kekayaan dan kekuasaan, padahal kilau itu hanya sementara. Jabatan berpindah tangan, harta dapat lenyap, sementara setiap amanah pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.
Kesadaran semacam inilah yang melahirkan integritas. Orang yang bertaqwa tidak jujur karena takut kepada atasan atau auditor. Ia jujur karena menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi di hadapan Allah. Integritas yang lahir dari kesadaran batin jauh lebih kokoh dibandingkan integritas yang hanya bergantung pada pengawasan eksternal.
Karena itu, membangun masyarakat yang bersih tidak cukup hanya dengan memperbanyak operasi tangkap tangan atau memperkeras hukuman. Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya menjaga diri. Pendidikan moral, keteladanan para pemimpin, serta lingkungan yang menghargai kejujuran merupakan benteng pertama sebelum hukum bekerja.
Pada akhirnya, sikap yang paling adil adalah mengakui kenyataan tanpa kehilangan harapan. Korupsi memang ada dan harus diperangi dengan sungguh-sungguh. Namun kita tidak boleh menjadikannya alasan untuk membenarkan semua penyimpangan, atau sebaliknya, membangun narasi bahwa seluruh kehidupan telah dikuasai oleh kebusukan.
Selalu ada orang-orang yang memilih tetap jujur meski memiliki kesempatan untuk berbuat curang. Selalu ada mereka yang menjaga amanah ketika tak seorang pun mengawasi. Mereka mungkin tidak banyak, tetapi justru merekalah yang menjadi penyangga peradaban.
Perjuangan melawan korupsi, pada akhirnya, bukan sekadar soal menghukum mereka yang bersalah. Ia adalah upaya menjaga hati agar tetap hidup. Sebab setiap masyarakat yang besar selalu dibangun oleh manusia-manusia yang terlebih dahulu berhasil memenangkan peperangan paling sunyi: peperangan melawan godaan dalam dirinya sendiri.







