Musuh dari Luar, Kelemahan dari Dalam

KHAMENEI.ID– Sebuah bangsa tidak selalu kalah karena musuhnya terlalu kuat. Kadang-kadang ia melemah karena terlalu sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri. Di tengah riuh perdebatan, energi habis untuk perkara kecil, sementara ancaman yang lebih besar bergerak perlahan di luar pagar.

Gagasan itulah yang menjadi salah satu pokok penting dalam pidato Ayatollah sayyid Ali Khamenei qs di hadapan pelajar dan mahasiswa Iran. Ia mengingatkan bahwa menyadari keberadaan musuh dari luar tidak boleh menjadi alasan untuk menutup mata terhadap kelemahan dari dalam. Sebaliknya, mengakui kelemahan internal juga tidak berarti melupakan kenyataan bahwa sebuah negara dapat berhadapan dengan kekuatan eksternal yang secara sadar berusaha memanfaatkan setiap celah.

Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Musuh dari luar mudah dituding. Kelemahan dari dalam jauh lebih sulit diakui.

Sebab kelemahan itu tidak selalu hadir dalam bentuk kekalahan besar. Ia bisa muncul sebagai kebijakan yang buruk, pelaksanaan yang lamban, kurangnya kerja keras, kemalasan yang dianggap biasa, atau kegagalan menentukan prioritas. Sebuah negara dapat memiliki sumber daya, manusia terdidik, dan cita-cita besar, tetapi kehilangan tenaga hanya karena tidak tahu mana yang harus dikerjakan lebih dahulu.

Lebih berbahaya lagi ketika masyarakat mulai bertengkar untuk hal-hal yang sesungguhnya tidak mendesak. Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi bagian dari kehidupan publik berubah menjadi permusuhan. Persoalan kecil membesar karena masing-masing pihak merasa harus menang. Pada saat yang sama, sesuatu yang jauh lebih penting justru luput dari perhatian.

Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs tidak menyerukan agar kritik dihentikan. Justru ia mengakui bahwa masyarakat bebas membutuhkan kritik. Pikiran yang bebas membutuhkan ruang untuk berbeda. Kritik, dalam pandangan itu, bukan ancaman bagi kemajuan, melainkan salah satu syaratnya.

Baca Juga  Kepemimpinan yang Teguh dan Jiwa yang Sederhana

Masalahnya bukan pada kritik, melainkan pada kemampuan membedakan antara orang yang berbeda pendapat dan orang yang benar-benar menjadi lawan. Tidak setiap perbedaan adalah permusuhan. Tidak setiap orang yang menentang kebijakan tertentu adalah musuh negara. Dan tidak setiap perdebatan politik harus berakhir dengan kecurigaan.

Di titik ini, gagasan tentang “musuh dari luar” bertemu dengan persoalan yang lebih dalam: “kelemahan internal”.

Sebuah bangsa justru menjadi mudah diserang ketika ia rapuh dari dalam. Musuh tidak perlu selalu menciptakan keretakan. Kadang ia hanya perlu menemukan retakan yang sudah ada, lalu memperlebarnya. Karena itu, memperkuat sebuah negara bukan hanya soal menghadapi pihak luar, tetapi juga soal membenahi rumah sendiri.

Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs menyebut beberapa kelemahan yang perlu diatasi: kebijakan yang tidak tepat, pelaksanaan yang lemah, kurangnya kesungguhan dalam bekerja, serta ketidakmampuan melihat prioritas. Semua itu terdengar administratif. Namun sesungguhnya ia berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: kualitas sebuah bangsa dalam mengelola tenaganya sendiri.

Bangsa yang terus-menerus menghabiskan energinya untuk pertengkaran yang tidak perlu akan kehilangan kemampuan untuk mengerjakan hal-hal besar.

Dalam konteks inilah peringatan terhadap Amerika dan kekuatan asing harus dibaca. Bagi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei qs, persoalan utamanya bukan sekadar keberadaan satu negara sebagai lawan politik. Yang dipertaruhkan adalah arah kedaulatan Iran dan apa yang ia sebut sebagai pencapaian besar rakyat: kehadiran rakyat dalam kehidupan politik, kedaulatan nasional, serta pengaruh nilai-nilai Al-Qur’an dan Islam dalam kehidupan masyarakat.

Ia bahkan menggemakan seruan Imam Khomeini qs agar kemarahan terhadap Amerika tidak dialihkan menjadi kebencian tanpa batas kepada sesama. Kritik kepada sesama tetap diperlukan, tetapi jangan sampai masyarakat kehilangan kemampuan mengenali persoalan yang dianggapnya lebih besar.

Baca Juga  Jihad dan Doa: Ketika Kekuatan Sejati Lahir dari Hati yang Bersujud

Gagasan ini menarik karena mengandung paradoks. Sebuah pemerintahan yang mengaku kuat justru harus memiliki keberanian untuk melihat kelemahannya sendiri. Sebuah masyarakat yang ingin mempertahankan kedaulatan tidak cukup hanya dengan meneriakkan ancaman dari luar. Ia juga harus bertanya: mengapa kita mudah terpecah? Mengapa kebijakan sering tidak berjalan? Mengapa persoalan kecil mampu menyita perhatian kita lebih besar daripada kepentingan bersama?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya relevan bagi Iran.

Di banyak negara, termasuk negara yang menganggap dirinya demokratis dan berdaulat, politik sering berubah menjadi perlombaan mencari musuh. Perbedaan pandangan diperlakukan sebagai pengkhianatan. Kritik dianggap serangan. Sementara itu, masalah yang benar-benar menentukan masa depan pendidikan, ekonomi, ketimpangan, kualitas institusi, korupsi, kesehatan publik, dan produktivitas, perlahan tersisih oleh kegaduhan.

Pada titik tertentu, masyarakat bukan lagi kehilangan musuh. Mereka kehilangan prioritas.

Padahal ancaman terbesar sebuah bangsa tidak selalu datang dalam bentuk pasukan yang bergerak melintasi perbatasan. Ia bisa berupa kemalasan yang dianggap sepele, birokrasi yang dibiarkan buruk, kebijakan yang tak kunjung diperbaiki, atau kebiasaan saling menyalahkan yang berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, membicarakan musuh dari luar tanpa membicarakan kelemahan dari dalam adalah setengah percakapan. Sebaliknya, membongkar semua kesalahan internal sambil menutup mata terhadap tekanan eksternal juga merupakan bentuk kelengahan.

Keduanya harus dilihat bersamaan.

Sebuah bangsa yang matang barangkali bukan bangsa yang tidak memiliki musuh. Ia adalah bangsa yang tidak membiarkan keberadaan musuh membuatnya berhenti mengoreksi diri. Ia tahu kapan harus mempertahankan diri, kapan harus mengkritik pemerintah, kapan harus berbeda pendapat, dan yang paling sulit, kapan harus berhenti bertengkar demi sesuatu yang tidak penting.

Sebab pada akhirnya, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh seberapa keras ia menghadapi lawan. Ia diuji oleh kemampuannya menjaga agar rumahnya sendiri tidak runtuh dari dalam.

Baca Juga  “Jangan Percaya Musuh”: Imam Ali Khamenei, Politik Ketahanan, dan Kritik terhadap Barat
Bagikan:
Terkait
Komentar