Kemajuan yang Kehilangan Arah

KHAMENEI.ID– Ada bangsa-bangsa yang berhasil membuat hidup manusia lebih mudah, tetapi gagal membuat manusia lebih tenteram. Kota-kota mereka menjulang, teknologi berlari tanpa henti, ilmu pengetahuan membuka pintu-pintu yang dulu dianggap mustahil. Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan yang lebih sunyi: untuk apa semua kemajuan itu jika manusia kehilangan ketenangan batin, pegangan moral, dan rasa puas terhadap hidupnya sendiri?

Pertanyaan semacam itu menjadi penting ketika kita membicarakan cita-cita sebuah masyarakat. Kemajuan tidak semestinya hanya diukur dari gedung yang tinggi, angka pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau banyaknya universitas. Ada ukuran lain yang sering luput dari statistik: apakah manusia merasa aman secara batin? Apakah ia masih memiliki hati nurani yang bekerja? Apakah kemajuan membuatnya menjadi manusia yang lebih baik?

Di sinilah gagasan tentang masyarakat ideal menemukan relevansinya.

Cita-cita membangun masyarakat Islam, sebagaimana tergambar dalam teks ini, bukan sekadar membangun negara yang kuat secara material. Ia adalah usaha membangun masyarakat yang mampu menjadi teladan: maju dalam ilmu dan kesejahteraan, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan moralitas dan spiritualitas. Kemajuan material dan kematangan moral tidak dipandang sebagai dua jalan yang harus dipilih salah satunya.

Justru keduanya harus berjalan bersama.

Gagasan itu terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya mungkin merupakan salah satu proyek peradaban yang paling sulit. Sebab manusia modern sudah lama terbiasa mengukur keberhasilan dengan apa yang dapat dilihat. Kekayaan bisa dihitung. Produksi bisa dibandingkan. Kecepatan internet dapat diukur. Penemuan teknologi dapat dipamerkan. Tetapi ketenteraman jiwa tidak mudah masuk ke dalam tabel statistik.

Padahal, boleh jadi justru di sanalah ukuran kemajuan yang paling mendasar.

Baca Juga  Baiat dalam Islam: Ketika Legitimasi Kekuasaan Bertumpu pada Pilihan Rakyat

Pengalaman dunia modern menunjukkan paradoks tersebut. Peradaban Barat berhasil melakukan lompatan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan kehidupan material. Lompatan itu telah mengubah wajah dunia. Banyak hal yang dahulu hanya ada dalam imajinasi kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun lompatan material yang tidak berjalan beriringan dengan perkembangan moral menyimpan persoalan. Ketika kemajuan hanya diarahkan untuk menguasai alam, memperbanyak konsumsi, dan memperbesar kemampuan manusia, pertanyaan tentang bagaimana manusia menggunakan semua kemampuan itu menjadi semakin penting.

Teknologi tidak menentukan apakah manusia akan menjadi lebih bijaksana. Kekayaan tidak otomatis melahirkan ketenangan. Pendidikan tinggi tidak selalu membuat seseorang memiliki hati nurani yang lebih tajam.

Di titik ini, kritik terhadap peradaban material bukanlah penolakan terhadap ilmu pengetahuan atau teknologi. Sebaliknya, ilmu dan teknologi tetap menjadi bagian penting dari kehidupan yang maju. Yang dipersoalkan adalah ketika kemajuan material berdiri sendiri, seakan-akan manusia hanya membutuhkan tubuh yang sejahtera, tetapi tidak membutuhkan jiwa yang sehat.

Kehidupan semacam itu pada akhirnya menghasilkan paradoks: manusia memiliki semakin banyak alat untuk mengatasi kesulitan, tetapi belum tentu semakin mampu mengatasi kegelisahan dirinya sendiri.

Maka yang dibutuhkan manusia bukan hanya keamanan fisik. Ada keamanan batin, keamanan moral, dan ketenteraman hati nurani. Seseorang dapat hidup di lingkungan yang makmur tetapi tetap merasa kosong. Ia dapat memiliki kebebasan memilih, tetapi tidak tahu apa yang layak dipilih. Ia dapat memiliki banyak hiburan, tetapi tetap tidak menemukan alasan untuk merasa bahagia.

Dalam konteks yang lebih luas, krisis semacam ini tidak hanya menjadi persoalan satu kawasan atau satu peradaban. Ia adalah persoalan manusia modern.

Karena itu, masyarakat ideal tidak dapat dibangun hanya dengan memperbanyak kekayaan. Kekayaan memang penting. Ilmu pengetahuan penting. Standar kehidupan yang layak juga penting. Masyarakat yang miskin dan tertinggal tidak dapat diminta begitu saja mengabaikan kebutuhan materialnya demi mengejar kesalehan abstrak.

Baca Juga  Mengejar Ridha Allah di Penghujung Ramadhan

Tetapi kesejahteraan material tanpa moralitas juga tidak cukup.

Masyarakat yang dicita-citakan adalah masyarakat yang mampu berdiri di atas kedua kaki itu sekaligus. Ia kaya, tetapi tidak diperbudak kekayaan. Ia maju secara ilmiah, tetapi tidak kehilangan arah kemanusiaan. Ia menguasai teknologi, tetapi tidak membiarkan teknologi menentukan nilai hidupnya. Ia meningkatkan taraf hidup, tetapi tetap mempertahankan martabat manusia sebagai tujuan utama.

Inilah yang membuat proyek membangun masyarakat ideal menjadi perjalanan panjang. Ia bukan pekerjaan satu pemerintahan, satu generasi, atau satu lembaga. Ia adalah pekerjaan kebudayaan yang berlangsung perlahan melalui pendidikan, keluarga, ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan terutama pembentukan manusia.

Karena itu pula pendidikan memiliki posisi yang sangat menentukan. Sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Di sana sebuah masyarakat sebenarnya sedang menentukan manusia seperti apa yang ingin dilahirkannya. Apakah ia hanya ingin menghasilkan tenaga kerja yang terampil, atau manusia yang memiliki kecerdasan sekaligus tanggung jawab moral?

Pertanyaan itu semakin penting ketika dunia bergerak semakin cepat.

Anak-anak hari ini tumbuh di tengah banjir informasi yang belum pernah dialami generasi sebelumnya. Mereka dapat mengetahui hampir apa saja dalam hitungan detik. Tetapi mengetahui banyak hal tidak sama dengan memahami kehidupan. Mereka membutuhkan kemampuan membedakan pengetahuan dari kebijaksanaan, kebebasan dari kesewenang-wenangan, dan kemajuan dari sekadar percepatan.

Gagasan tentang kemajuan material dan moral pada akhirnya bertemu di sini: manusia tidak cukup hanya menjadi lebih mampu. Ia harus menjadi lebih matang dalam menggunakan kemampuannya.

Jalan menuju masyarakat semacam itu tentu panjang. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam satu masa. Bahkan sebagian cita-cita mungkin baru terlihat hasilnya setelah beberapa generasi. Tetapi panjangnya perjalanan bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa tujuan itu mustahil.

Baca Juga  Transformasi Bukan Sekadar Perubahan: Mengapa Arah Perjalanan Sebuah Bangsa Lebih Penting?

Sejarah justru berkali-kali memperlihatkan bahwa sesuatu yang dahulu dianggap tidak mungkin dapat menjadi kenyataan ketika manusia memiliki keyakinan, kesabaran, dan kerja yang panjang.

Mungkin karena itu ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya seberapa jauh ia berlari, melainkan ke mana ia berjalan. Sebab manusia bisa saja bergerak sangat cepat menuju tempat yang salah.

Dan barangkali di situlah makna terdalam dari kemajuan: bukan sekadar membuat kehidupan lebih mudah, melainkan memastikan bahwa di tengah segala kemudahan itu, manusia tetap tahu bagaimana menjadi manusia.

Bagikan:
Terkait
Komentar