KHAMENEI.ID– Sebuah revolusi bisa jatuh bukan hanya karena musuh datang dari luar. Ia juga dapat kehilangan arah ketika orang-orang di dalamnya terlalu sibuk mengurus hari ini, sampai lupa bertanya: ke mana sebenarnya perjalanan ini hendak dibawa?
Pertanyaan semacam itu terasa penting ketika sebuah gerakan politik telah melewati usia mudanya. Pada masa awal, energi perubahan biasanya begitu besar sehingga hampir semua perhatian tersedot pada bagaimana menggulingkan tatanan lama dan membangun yang baru. Tetapi setelah puluhan tahun, persoalannya berubah. Yang diperlukan bukan hanya kemampuan mengelola negara, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dan memandang perjalanan dari kejauhan.
Gagasan itulah yang muncul dalam pernyataan tentang posisi Majelis Khobregan Majelis Ahli Konstitusi dalam perjalanan Revolusi Iran. Lembaga ini dipandang bukan semata sebagai institusi dengan tugas-tugas formal, melainkan memiliki kemungkinan memainkan peran yang lebih luas: menjadi tempat untuk melihat revolusi secara menyeluruh dan strategis.
Sebab negara memiliki banyak lembaga yang bekerja setiap hari. Pemerintah mengurus pemerintahan, parlemen membuat undang-undang, lembaga peradilan menjalankan fungsi hukum. Semua itu penting. Tetapi pekerjaan sehari-hari memiliki kecenderungan alami: mata tertuju pada jalan yang sedang dilalui, bukan pada keseluruhan peta.
Di titik inilah sebuah revolusi membutuhkan sesuatu yang berbeda dari sekadar administrasi.
Ia membutuhkan ingatan.
Ia membutuhkan ukuran.
Dan, yang paling penting, ia membutuhkan kemampuan untuk bertanya apakah cita-cita yang dulu menjadi alasan sebuah perubahan besar masih menjadi arah perjalanan hari ini.
Sebuah negara dapat terus bergerak tanpa benar-benar maju. Jalan bisa panjang, kendaraan bisa melaju, pergantian pejabat bisa terjadi, kebijakan bisa silih berganti. Namun gerak tidak selalu identik dengan kemajuan. Ada perjalanan yang justru membawa seseorang semakin jauh dari tujuan awalnya.
Karena itu, gagasan tentang sebuah lembaga pemikir strategis menjadi menarik. Dalam Majelis Khobregan terdapat banyak orang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan berpikir. Mereka, menurut gagasan tersebut, dapat membentuk semacam ruang pemikiran yang memandang perjalanan revolusi sejak awal hingga masa kini.
Tugasnya bukan sekadar memuji keberhasilan atau menghitung kegagalan. Yang jauh lebih sulit adalah mengukur jarak antara cita-cita dan kenyataan.
Revolusi tentu lahir dengan tujuan. Ada janji yang hendak diwujudkan, ada masyarakat yang ingin dibentuk, ada nilai yang hendak dipertahankan. Setelah puluhan tahun, pertanyaan yang semestinya muncul bukan hanya apakah revolusi masih berjalan, melainkan: seberapa dekat ia dengan tujuan yang dahulu hendak dicapainya?
Mungkin ada tujuan yang telah dicapai. Mungkin ada yang baru setengah jalan. Ada pula yang berhenti di tempat. Bahkan mungkin ada sesuatu yang pernah mengalami kemajuan pada tahun-tahun awal, lalu perlahan mengalami kemunduran.
Pengakuan terhadap kemungkinan terakhir ini justru menunjukkan kedewasaan politik. Sebab sebuah sistem yang hanya mengenali keberhasilan akan kesulitan memperbaiki dirinya sendiri. Ia membutuhkan cermin yang tidak takut memperlihatkan luka.
Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang Revolusi Iran. Ia menyentuh persoalan yang lebih universal: bagaimana sebuah bangsa menjaga arah ketika institusinya semakin besar dan persoalannya semakin rumit.
Semakin tua sebuah revolusi, semakin mudah tujuan awalnya tertutup oleh rutinitas. Generasi yang mengalami kelahirannya perlahan berganti dengan generasi yang hanya mengenal sejarahnya melalui buku. Kata-kata besar yang dahulu menggetarkan massa dapat berubah menjadi slogan administratif. Cita-cita yang pernah menjadi denyut perubahan bisa kehilangan daya kritis karena terlalu sering diulang.
Pada saat itulah evaluasi menjadi penting.
Bukan evaluasi yang dibuat untuk mencari musuh. Bukan pula evaluasi yang bertujuan mempermalukan pemerintah. Melainkan evaluasi yang berangkat dari pertanyaan sederhana namun keras: apa yang sedang kita tuju, dan apakah langkah kita hari ini benar-benar membawa kita ke sana?
Dari sana, tuntutan terhadap lembaga-lembaga negara pun memperoleh dasar yang lebih substantif. Tuntutan tidak lagi sekadar lahir dari persoalan sesaat atau kepentingan politik jangka pendek. Ia dapat disusun berdasarkan pembacaan panjang terhadap perjalanan bangsa.
Ini adalah perbedaan antara kritik yang reaktif dan kritik yang strategis.
Kritik reaktif muncul ketika sesuatu telah bermasalah. Kritik strategis mencoba menemukan mengapa masalah itu muncul dan ke mana dampaknya akan membawa masa depan.
Namun ada paradoks yang menarik. Untuk dapat melihat arah sebuah perjalanan, seseorang terkadang harus berhenti dari kesibukan berjalan. Orang yang terus menunduk melihat langkahnya sendiri mungkin tahu berapa jauh ia telah berjalan, tetapi belum tentu tahu apakah ia masih berada di jalan yang benar.
Begitu pula sebuah bangsa.
Kemajuan ekonomi, pembangunan institusi, pergantian pemerintahan, dan berbagai capaian administratif adalah bagian dari perjalanan. Tetapi semua itu belum menjawab pertanyaan yang lebih dalam tentang makna perjalanan tersebut.
Barangkali karena itu, tantangan terbesar sebuah revolusi setelah melewati puluhan tahun bukan lagi bagaimana mempertahankan semangat masa lalu secara harfiah. Tantangannya adalah menjaga kemampuan untuk menilai diri sendiri tanpa kehilangan keyakinan pada tujuan.
Sebab revolusi yang tidak pernah meninjau dirinya dapat berubah menjadi rutinitas. Dan rutinitas yang kehilangan tujuan perlahan menjadi sekadar sistem yang berjalan karena kebiasaan.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan apakah sebuah revolusi masih bergerak.
Pertanyaannya adalah: apakah ia masih menuju tempat yang dahulu membuat orang-orang berani memulainya?
Barangkali di sanalah makna terdalam dari pandangan strategis terhadap sebuah revolusi. Bukan untuk menghentikan perjalanan, melainkan memastikan bahwa perjalanan panjang itu tidak diam-diam mengubah tujuan menjadi sekadar kenangan.
Karena sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu mengemudikan kendaraan. Ia juga membutuhkan mereka yang sesekali berdiri lebih tinggi, membuka peta, melihat cakrawala, lalu berkata dengan jujur: kita sedang berada di sini dan inilah arah yang harus kita pastikan kembali.






