Mengapa Pekan Persatuan Dicetuskan? Bukan Sekadar Nama, Melainkan Keyakinan tentang Persatuan Umat Islam

KHAMENEI.ID – Setiap tahun, dari 12 hingga 17 Rabiul Awal, Republik Islam Iran memperingati apa yang dikenal sebagai Pekan Persatuan (Hafte-ye Vahdat). Rentang hari itu bukan sekadar penamaan kalender keagamaan atau agenda seremonial tahunan. Di baliknya terdapat sebuah gagasan yang lebih mendasar: keyakinan bahwa umat Islam tidak seharusnya terpecah oleh perbedaan mazhab.

Menurut Imam Ali Khamenei qs, gagasan Pekan Persatuan tidak lahir sebagai strategi politik sesaat. Ia juga bukan sekadar taktik untuk menghadapi situasi tertentu. Persatuan umat Islam, dalam pandangan tersebut, merupakan keyakinan yang berakar pada iman.

Karena itu, ketika tanggal 12 sampai 17 Rabiul Awal ditetapkan sebagai Pekan Persatuan, yang hendak dibangun bukan hanya sebuah peringatan tahunan. Ada pesan yang lebih besar: umat Islam harus mengingat bahwa mereka memiliki titik temu yang jauh lebih mendasar daripada perbedaan yang memisahkan mereka.

Bukan Sekadar Taktik Politik

Salah satu kritik yang kerap muncul terhadap gagasan persatuan Islam adalah anggapan bahwa seruan tersebut hanyalah strategi politik. Seolah-olah persatuan Sunni dan Syiah diperlukan hanya karena kepentingan tertentu, sementara ketika kepentingan itu berubah, persatuan pun tidak lagi diperlukan.

Imam Khamenei menolak anggapan tersebut.

Menurutnya, sikap Republik Islam terhadap persatuan umat Islam merupakan keyakinan yang sungguh-sungguh. Persatuan bukan instrumen sementara, bukan manuver politik, dan bukan slogan yang digunakan ketika diperlukan. Ia merupakan bagian dari cara pandang keagamaan terhadap hubungan antarsesama Muslim.

Dalam kerangka itu, perbedaan mazhab tidak semestinya berubah menjadi permusuhan. Perbedaan dalam tradisi keilmuan Islam memang ada, tetapi keberagaman tersebut tidak harus menghancurkan rasa persaudaraan yang lebih luas.

Justru karena persatuan dianggap sebagai tuntutan agama, maka upaya mendekatkan berbagai mazhab Islam dipandang sebagai sesuatu yang harus terus dilakukan.

Baca Juga  Palestina dan Jalan Keluar Krisis Timur Tengah: Mengapa Normalisasi Israel Bukan Solusi?

Gagasannya Bahkan Lebih Tua dari Republik Islam

Menariknya, Imam Khamenei menegaskan bahwa gagasan tersebut bukan sesuatu yang baru muncul setelah berdirinya Republik Islam Iran.

Beliau menunjuk sosok Ayatollah Sayyid Hossein Borujerdi, ulama besar yang pada masa muda Imam Khamenei menjadi salah satu marja paling berpengaruh di dunia Syiah. Borujerdi dikenal memiliki perhatian kuat terhadap persoalan persatuan umat Islam dan pendekatan antarmahzab.

Ia menjalin hubungan dengan para ulama dari berbagai wilayah dunia Islam, termasuk ulama Sunni. Dialog dan komunikasi dengan mereka bukan dianggap sebagai sesuatu yang mengancam identitas Syiah, tetapi sebagai bagian dari usaha mempererat hubungan umat Islam.

Di sinilah terlihat bahwa gagasan persatuan memiliki akar yang lebih panjang. Ia bukan produk politik satu pemerintahan atau satu generasi, melainkan bagian dari tradisi pemikiran yang melihat perpecahan umat sebagai persoalan serius.

Mengapa 12–17 Rabiul Awal?

Pekan Persatuan mengambil rentang 12 sampai 17 Rabiul Awal, yakni periode yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. Perbedaan riwayat mengenai tanggal kelahiran Nabi di kalangan Sunni dan Syiah kemudian tidak dijadikan alasan untuk memperuncing perbedaan.

Sebaliknya, perbedaan tanggal tersebut dijadikan titik temu.

Alih-alih bertanya tanggal mana yang harus dianggap paling benar, gagasan Pekan Persatuan mengajak umat Islam melihat sesuatu yang lebih besar: keduanya sama-sama memuliakan Nabi Muhammad saw.

Dengan cara pandang semacam itu, perbedaan yang sebelumnya berpotensi menjadi garis pemisah justru dapat diubah menjadi jembatan.

Tanggal-tanggal tersebut kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan umat, menghidupkan dialog, memperkuat persaudaraan, dan mengingat kembali bahwa umat Islam memiliki kiblat yang sama, kitab yang sama, Nabi yang sama, serta fondasi keimanan yang sama.

Baca Juga  Kepercayaan Pemimpin dan Rakyat: Ketika Tangan Tuhan Hadir dalam Kebersamaan

Persatuan Sebagai Tuntutan Keimanan

Yang paling penting dari penjelasan Imam Khamenei adalah penekanannya bahwa persatuan bukan hanya persoalan kepentingan duniawi.

Jika persatuan hanya didasarkan pada kebutuhan politik, maka ia akan mudah runtuh ketika kepentingan berubah. Tetapi jika persatuan diyakini sebagai bagian dari agama, ia memiliki fondasi yang jauh lebih kuat.

Dalam pandangan ini, Allah swt menghendaki umat Islam tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Karena itu, menjaga persaudaraan umat bukan sekadar pilihan politik, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Pekan Persatuan dengan demikian dapat dipahami sebagai pengingat tahunan atas sebuah prinsip yang lebih besar: perbedaan mazhab tidak boleh menghapus identitas bersama sebagai umat Islam.

Pada akhirnya, gagasan tersebut membawa pertanyaan yang lebih luas. Jika umat Islam memiliki begitu banyak kesamaan mendasar, mengapa perbedaan justru sering menjadi alasan untuk saling menjauh?

Mungkin karena persatuan memang tidak cukup hanya dengan deklarasi. Ia membutuhkan kemauan untuk memahami, kesediaan untuk menghormati perbedaan, dan keberanian untuk menempatkan kepentingan umat di atas fanatisme kelompok.

Itulah mengapa Pekan Persatuan, dalam pandangan Imam Khamenei, bukan sekadar nama yang ditempelkan pada beberapa hari dalam kalender Islam. Ia adalah ekspresi dari keyakinan bahwa persatuan umat Islam merupakan tuntutan iman dan kehendak Allah swt yang harus diperjuangkan.

Bagikan:
Terkait
Komentar