Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 26): Mengapa Manusia Harus Tunduk kepada Allah swt?

KHAMENEI.ID –

Tafsir Imam Khamenei, surah Al-Baqarah ayat 22 melanjutkan argumentasi ayat 21 tentang mengapa manusia harus mengabdi hanya kepada Allah, yakni karena Allah adalah sumber ilmu dan kekuasaan yang tak terbatas.

Manusia sering tunduk kepada sesuatu yang lebih tinggi darinya. Di hadapan seseorang yang ilmunya jauh melampaui pengetahuan kita, misalnya, kita dengan mudah menerima penjelasannya. Di hadapan seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa, kita pun secara alami mengakui keunggulannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang mendorongnya untuk menghormati ilmu dan kekuatan yang lebih tinggi.

Surah Al-Baqarah ayat 22 membawa kesadaran itu kepada satu pertanyaan yang lebih mendasar: jika manusia secara alami tunduk kepada sumber ilmu dan kekuatan yang lebih tinggi, kepada siapa sebenarnya penghambaan itu harus diarahkan?

Allah swt berfirman:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai bangunan, menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 22)

Ayat ini datang sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya. Pada ayat 21 manusia diperintahkan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu.”

Kemudian ayat 22 kembali menunjukkan alasan di balik seruan tersebut. Allah swt bukan hanya Pencipta manusia. Dia pula yang menciptakan ruang kehidupan manusia: bumi yang menjadi tempat berpijak, langit yang menaungi, air yang turun dari langit, serta tumbuh-tumbuhan yang menjadi sumber kehidupan.

Dengan kata lain, manusia tidak hanya diciptakan oleh Allah swt. Seluruh lingkungan yang memungkinkan kehidupan manusia berlangsung juga berada dalam rangkaian penciptaan-Nya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 31): Mukjizat Tidak Melanggar Hukum Sebab-Akibat

Di balik semua itu terdapat sesuatu yang lebih besar: ilmu dan kekuasaan Allah swt.

Manusia memiliki kecenderungan alami untuk tunduk kepada ilmu. Ketika berhadapan dengan seseorang yang memiliki pengetahuan jauh lebih tinggi dalam bidang tertentu, seseorang yang sadar akan keterbatasan dirinya biasanya akan menerima penjelasan dari orang tersebut. Seorang guru yang benar-benar menguasai bidangnya dapat menjawab berbagai pertanyaan dengan penjelasan yang masuk akal dan meyakinkan. Murid pun secara alami menghormatinya.

Jika seseorang memiliki pengetahuan bukan hanya dalam satu bidang, tetapi dalam banyak bidang sekaligus, rasa hormat itu tentu semakin besar.

Namun manusia sebenarnya baru mengenal sebagian kecil dari apa yang ada dalam dirinya sendiri. Ilmu pengetahuan telah mempelajari tubuh, kehidupan biologis, jaringan otak, kejiwaan, dan berbagai sisi manusia. Tetapi seluruh pengetahuan yang telah dikumpulkan manusia masih merupakan bagian yang sangat kecil dibandingkan keseluruhan rahasia keberadaan manusia.

Jika pengetahuan manusia saja mampu membuat kita tunduk kepada orang yang menguasainya, bagaimana dengan Allah swt yang menjadi sumber ilmu yang memungkinkan seluruh keberadaan itu ada?

Al-Qur’an menggambarkan keterbatasan manusia di hadapan ilmu Allah:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 255)

Manusia dapat memperoleh ilmu, tetapi ilmu itu tetap berada dalam batas yang diberikan kepadanya. Bahkan ketika manusia semakin mengenal dunia, semakin banyak pula hal yang menunjukkan betapa luasnya sesuatu yang belum diketahuinya.

Karena itu, pengetahuan tentang Allah swt seharusnya tidak membuat manusia semakin sombong. Sebaliknya, semakin seseorang memahami kebesaran ilmu-Nya, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.

Baca Juga  Menaklukkan Hawa Nafsu, Langkah Pertama Menuju Keadilan

Al-Qur’an bahkan menghubungkan pengetahuan dengan rasa takut dan tunduk kepada Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Dalam kerangka ini, pengetahuan bukan sekadar bertambahnya informasi. Pengetahuan yang benar semestinya membawa manusia kepada kesadaran akan kebesaran sumber pengetahuan itu sendiri.

Begitu pula dengan kekuasaan.

Manusia dapat menciptakan berbagai teknologi yang menakjubkan. Ia dapat membangun mesin, mengembangkan ilmu kedokteran, memahami sebagian mekanisme tubuh, dan memanfaatkan berbagai kekuatan alam. Namun kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu tetap berlangsung di dalam dunia yang sudah ada.

Sementara itu, Allah menciptakan struktur kehidupan itu sendiri.

Sel-sel yang sangat kecil disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tubuh yang kompleks. Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk memahami alam, berpikir, menciptakan, dan menghasilkan pengetahuan. Manusia menggunakan otaknya untuk memahami ciptaan, sementara otak itu sendiri merupakan bagian dari ciptaan.

Di sini manusia berhadapan dengan suatu paradoks: makhluk yang sedang mencoba memahami alam adalah makhluk yang juga diciptakan oleh kekuatan yang sedang ia coba pahami.

Semakin dalam manusia mengenali kehidupan, semakin besar pula pertanyaan tentang sumber kehidupan itu sendiri.

Karena itu, ketika ayat 22 berakhir dengan larangan:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui,”

yang dipersoalkan bukan hanya praktik menyekutukan Allah. Ada sebuah pertanyaan tentang dasar rasional penghambaan manusia.

Jika manusia menyembah Allah karena menyadari bahwa Dia adalah sumber ilmu dan kekuasaan yang tak terbatas, lalu apa alasan seseorang memberikan penghambaan yang sama kepada selain-Nya?

Apa yang dimiliki selain Allah yang dapat menjadi dasar untuk menempatkannya sebagai tandingan?

Baca Juga  Tafsir Surah Alfatihah Oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei qs (Part 3)

Manusia mungkin mengagumi seseorang karena ilmunya. Ia mungkin menghormati seseorang karena kekuasaannya. Ia bahkan mungkin merasa kecil di hadapan kemampuan luar biasa seseorang. Tetapi semua itu tetap berada dalam batas makhluk.

Ilmu manusia terbatas. Kekuasaan manusia terbatas. Kehidupan manusia terbatas. Bahkan keberadaan manusia sendiri bergantung kepada sesuatu di luar dirinya.

Maka, ketika Al-Qur’an memerintahkan agar tidak membuat tandingan bagi Allah, ayat itu sekaligus mengajak manusia menggunakan pengetahuannya sendiri untuk melihat ketidakseimbangan dalam penghambaan kepada selain-Nya.

Allah swt menciptakan manusia dan menyediakan lingkungan kehidupannya. Allah memiliki ilmu yang tidak terbatas dan kekuasaan yang memungkinkan seluruh sistem kehidupan berlangsung. Karena itu, penghambaan kepada-Nya bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Ia memiliki dasar dalam kesadaran manusia terhadap siapa yang sedang dihadapinya.

Di sinilah ayat 22 memperdalam pesan ayat 21. Jika ayat sebelumnya menunjukkan bahwa manusia harus mengabdi kepada Penciptanya agar mencapai ketakwaan, ayat ini menunjukkan mengapa pengabdian itu harus tertuju hanya kepada Allah.

Manusia boleh memiliki banyak pengetahuan, tetapi pengetahuan itu tidak pernah membuatnya menjadi pemilik seluruh ilmu. Manusia boleh memiliki kekuatan besar, tetapi kekuatan itu tidak pernah membuatnya menjadi sumber seluruh kekuasaan.

Justru ketika ilmu dan kesadaran manusia bertambah, seharusnya semakin jelas satu hal: di balik seluruh keterbatasan makhluk terdapat ilmu dan kekuasaan yang tidak terbatas.

Dan ketika kesadaran itu tumbuh, penghambaan kepada Allah swt tidak lagi terasa sebagai beban. Ia menjadi sesuatu yang lahir dari pengenalan—bahwa kepada sumber ilmu dan kekuasaan yang tak terbatas itulah manusia semestinya menundukkan dirinya.

Bagikan:
Terkait
Komentar