Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 30): Mukjizat Al-Qur’an Tak Pernah Berakhir

KHAMENEI.ID –

Dalam menjelaskan ayat 23–24 Surah Al-Baqarah, Imam Ali Khamenei qs menerangkan salah satu karakter penting mukjizat Al-Qur’an: kemukjizatannya bersifat abadi.

Menurut beliau, hal ini berbeda dari mukjizat para nabi terdahulu yang hadir dalam bentuk sebuah peristiwa tertentu. Tongkat Nabi Musa as berubah menjadi ular. Laut terbelah dan jalan kering terbuka bagi Bani Israil. Nabi Ibrahim as dilemparkan ke dalam api, tetapi tidak terbakar. Peristiwa-peristiwa itu terjadi pada suatu masa, disaksikan oleh suatu kaum, lalu berakhir bersama zamannya.

Al-Qur’an memiliki kedudukan yang berbeda.

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang memuat kisah tentang mukjizat yang pernah diberikan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an itu sendiri adalah mukjizat. Karena itu, kemukjizatannya tidak berakhir ketika generasi pertama umat Islam meninggal. Ia tetap hadir di hadapan manusia, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Inilah salah satu keistimewaan utama mukjizat Al-Qur’an: kemukjizatannya tidak dibatasi oleh waktu.

Mukjizat yang Tidak Berakhir Bersama Peristiwanya

Imam Khamenei memberikan gambaran tentang mukjizat Nabi Musa as ketika tongkatnya digunakan untuk membelah laut. Laut terbelah, jalan kering terbuka, dan Bani Israil dapat melewatinya.

Peristiwa itu merupakan mukjizat yang sangat besar. Namun, ia tetap merupakan sebuah peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu. Setelah Bani Israil melewati laut, peristiwa tersebut selesai.

Demikian pula berbagai mukjizat yang diberikan kepada para nabi terdahulu. Mukjizat-mukjizat itu hadir sebagai tanda bagi kaum tertentu pada masa tertentu. Ia disaksikan oleh orang-orang yang hidup pada zaman tersebut, kemudian menjadi bagian dari sejarah.

Menurut penjelasan Imam Khamenei, Al-Qur’an tidak demikian. Allah swt berfirman:

فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

“Datangkanlah satu surah yang semisal dengannya.”

Tantangan ini tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang hidup pada masa turunnya Al-Qur’an. Tantangan tersebut tidak berhenti pada masyarakat Arab abad ketujuh, tetapi tetap terbuka bagi manusia setelahnya.

Sebab yang menjadi mukjizat bukanlah sebuah peristiwa yang telah selesai, melainkan Al-Qur’an itu sendiri.

Baca Juga  Lembut kepada Kaum Lemah, Tegas kepada Kebatilan: Dua Wajah Kepemimpinan Imam Ali

Karena Islam Abadi, Mukjizatnya Pun Harus Abadi

Imam Khamenei menghubungkan keabadian mukjizat Al-Qur’an dengan keabadian agama Islam.

Islam adalah agama terakhir dan agama yang abadi. Ia tidak diturunkan hanya untuk satu kaum atau satu masa. Karena itu, tanda kenabiannya juga tidak mungkin hanya berlaku bagi satu generasi.

Mukjizat yang hanya dapat disaksikan oleh manusia pada masa tertentu tidak akan cukup untuk menjadi tanda bagi umat manusia sepanjang zaman. Jika Islam berlaku abadi, maka mukjizatnya pun harus dapat terus hadir dan diakses oleh manusia pada setiap zaman.

Karena itu, menurut beliau, Allah swt meletakkan kemukjizatan Nabi Muhammad saw. di dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an dapat dibaca oleh manusia yang hidup empat belas abad setelah masa Rasulullah. Tantangannya masih terbuka. Ayat-ayatnya masih dapat dibaca. Kandungan dan keistimewaannya masih dapat direnungkan.

Dengan demikian, manusia yang hidup jauh setelah Rasulullah tidak hanya menerima cerita tentang mukjizat yang pernah disaksikan oleh generasi terdahulu. Ia berhadapan langsung dengan sesuatu yang sejak awal merupakan mukjizat.

Inilah makna penting dari kemukjizatan Al-Qur’an yang bersifat abadi.

Empat Belas Abad Kemudian

Imam Ali Khamenei kemudian menunjukkan bahwa perjalanan waktu tidak menghilangkan kemukjizatan Al-Qur’an.

Waktu biasanya mengikis banyak hal. Sebuah karya yang dahulu dianggap luar biasa dapat kehilangan daya tarik ketika masyarakat berubah. Bahasa berkembang, cara berpikir berubah, pengetahuan bertambah, dan ukuran manusia terhadap sebuah karya ikut mengalami perubahan.

Namun Al-Qur’an tetap berada di hadapan manusia.

Orang yang tidak memeluk Islam pun dapat berhadapan dengan keistimewaan bahasa dan kandungannya. Mereka yang menguasai bahasa Arab dan kesusastraannya dapat merasakan keistimewaan susunan ayat-ayat Al-Qur’an. Sementara mereka yang tidak menguasai bahasa Arab dapat mengkaji gagasan dan kandungan maknanya melalui penjelasan, kajian, dan terjemahan.

Beliau menyebut Shibli Shumayyil, seorang penulis dan penyair Arab beragama Kristen. Ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam salah satu syairnya ia mengungkapkan ketidakmampuannya untuk mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang kokoh.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah (Bag. 20): Konsekuensi Menutup Pintu Kebenaran, Dari “Azab yang Besar” hingga Derita Manusia

Ia mengatakan:

إِنِّي وَإِنْ لَمْ أَكُنْ لَمْ أَدِنْ بِدِينِهِ
هَلْ أَكْفُرَنَّ بِمُحْكَمِ الْآيَاتِ

meskipun dirinya tidak menganut agama yang dibawa Nabi Muhammad, apakah ia harus mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang kuat dan kokoh?

Imam Ali Khamenei menilai pengakuan semacam ini penting karena datang dari seseorang yang tidak sejak awal menerima Al-Qur’an sebagai wahyu. Ia berada di luar Islam, tetapi ketika berhadapan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, ia tetap melihat sesuatu yang tidak mudah disangkal.

Shibli Shumayyil hidup sekitar empat belas abad setelah turunnya Al-Qur’an. Namun jarak waktu yang panjang itu tidak menghalanginya untuk mengenali keistimewaan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia adalah seorang Arab, memahami bahasanya, dan memiliki pengetahuan yang memungkinkannya untuk menilai kekuatan ungkapan tersebut.

Empat belas abad telah berlalu, tetapi pengakuan terhadap keistimewaan Al-Qur’an tetap muncul.

Ketika Orang di Luar Islam Mengakui Keistimewaannya

Selain Shibli Shumayyil, Imam Ali Khamenei juga menyebut Thomas Carlyle, penulis Inggris yang hidup pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Carlyle membahas Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw., meskipun ia bukan ahli bahasa Arab.

Karena itu, ia tidak berada dalam posisi yang sama dengan seorang Arab yang dapat langsung merasakan keindahan lafaz dan susunan bahasa Al-Qur’an. Namun ia dapat memahami sisi lain dari Al-Qur’an, yaitu gagasan dan kandungan maknanya.

Imam Khamenei juga menyebut John Davenport, penulis Inggris yang menulis tentang Nabi Muhammad saw. Karyanya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah terkenal, sebagaimana disebutkan dalam pembahasan beliau.

Contoh-contoh tersebut digunakan Imam Ali Khamenei untuk menunjukkan bahwa pengakuan terhadap keistimewaan Al-Qur’an tidak selalu datang dari orang yang telah terlebih dahulu menerima Islam.

Ada orang yang tidak beriman kepada Al-Qur’an sebagai wahyu, tetapi ketika berhadapan dengan ayat-ayatnya, mereka tetap menemukan sesuatu yang tidak mudah dianggap sebagai hasil pikiran manusia biasa.

Baca Juga  Ketegasan dan Kasih Sayang Imam Ali: Harmoni Dua Sifat yang Tampak Bertentangan

Mereka melihat bahwa hakikat dan kandungan Al-Qur’an melampaui keterbatasan pikiran manusia. Karena itu, meskipun tidak menerima Islam, mereka tidak mampu mengingkari keagungan dan kekuatan ayat-ayatnya.

Menurut Imam Khamenei, pengakuan semacam ini menunjukkan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya dapat dirasakan oleh generasi pertama yang hidup bersama Rasulullah. Ia tetap dapat dikenali oleh manusia yang hidup jauh setelah masa turunnya wahyu.

Di sinilah kemukjizatan Al-Qur’an yang abadi menjadi semakin jelas.

Mukjizat yang Tetap Berada di Hadapan Manusia

Mukjizat yang hanya berlangsung sekali akan menjadi sejarah. Manusia setelahnya hanya dapat mendengar cerita tentang peristiwa tersebut.

Al-Qur’an tidak demikian.

Ia tetap berada di tangan manusia. Ia terus dibaca, dipelajari, direnungkan, dan dihadapi oleh setiap generasi. Kemukjizatannya tidak bergantung pada apakah seseorang hidup pada masa Nabi Muhammad saw. atau tidak.

Manusia pada abad pertama Hijriah berhadapan dengan Al-Qur’an.

Manusia empat belas abad kemudian juga berhadapan dengan Al-Qur’an.

Yang berubah adalah manusia dan zamannya. Al-Qur’annya tetap.

Karena itu, ketika Al-Qur’an disebut sebagai mukjizat yang abadi, maksudnya bukan sekadar bahwa manusia terus menceritakan mukjizat yang pernah terjadi. Sumber kemukjizatan itu sendiri masih hadir.

Tantangannya tetap terbuka. Ayat-ayatnya tetap ada. Kandungannya tetap dapat dikaji. Manusia dari berbagai zaman tetap dapat berhadapan dengannya.

Kemukjizatan Al-Qur’an tidak menjadi tua bersama perjalanan waktu.

Justru perjalanan waktu memperlihatkan keabadiannya.

Empat belas abad telah berlalu sejak wahyu pertama turun. Generasi berganti, bahasa dan peradaban berubah, pengetahuan manusia berkembang. Namun Al-Qur’an tetap hadir sebagai kitab yang sama, membawa tantangan yang sama, dan menempatkan dirinya di hadapan manusia dengan kemukjizatan yang tidak dibatasi oleh satu zaman.

Sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan Imam Ali Khamenei, mukjizat para nabi terdahulu dapat berakhir bersama peristiwanya. Mukjizat Al-Qur’an tidak berakhir, karena Al-Qur’an itu sendiri adalah mukjizat.

Selama manusia masih berhadapan dengan Al-Qur’an, kemukjizatan itu tetap hadir di hadapan mereka.

Bagikan:
Terkait
Komentar