KHAMENEI.ID – Ada orang yang benar dalam banyak hal, tetapi membuat orang lain enggan berada di dekatnya. Ia mungkin tekun beribadah, rajin berbicara tentang kebaikan, dan merasa hidupnya berada di jalan yang benar. Namun ketika berhadapan dengan orang lain, wajahnya kaku, ucapannya tajam, dan kehadirannya justru terasa sebagai beban.
Di sinilah akhlak menemukan tempatnya yang penting. Sebab kebaikan tidak hanya diukur dari apa yang seseorang lakukan ketika berhadapan dengan Tuhan, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang berada di sekelilingnya.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda:
خِیَارُکُمْ أَحْسَنُکُمْ أَخْلَاقًا، الَّذِینَ یَأْلَفُونَ وَیُؤْلَفُونَ
“Orang-orang terbaik di antara kalian adalah mereka yang paling baik akhlaknya, yaitu orang-orang yang dapat bergaul dan membuat orang lain merasa dekat dengannya”
Hadis yang diriwayatkan dalam Tuhaf al-‘Uqul itu menyimpan ukuran kebaikan yang sederhana, tetapi dalam. Orang terbaik bukan sekadar mereka yang memiliki banyak pengetahuan, banyak berbicara tentang agama, atau tampak paling saleh di hadapan orang lain. Ada sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada semua itu: bagaimana seseorang membuat manusia lain merasa ketika berada di dekatnya.
Ada wajah yang membuat orang ingin tinggal lebih lama. Ada pula wajah yang membuat orang ingin segera pergi.
Perbedaannya sering kali bukan pada kecantikan, kekayaan, atau kedudukan. Ia berada pada akhlak.
Orang yang baik akhlaknya tidak harus menjadi pribadi yang banyak bicara. Ia bisa saja pendiam. Ia tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Ia juga bukan seseorang yang mengorbankan prinsip hanya agar disukai. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya memperlakukan orang lain dengan penghormatan, kelembutan, dan keluasan hati.
Ia mampu bergaul dan membangun keakraban. Pada saat yang sama, ia menjadi pribadi yang membuat orang lain merasa nyaman untuk mendekat.
Di titik ini, hadis tersebut seperti menggeser cara kita memahami kesalehan. Agama tidak dimaksudkan untuk melahirkan manusia yang merasa lebih tinggi daripada manusia lain. Kesalehan yang kehilangan akhlak dapat berubah menjadi sesuatu yang justru menjauhkan. Seseorang bisa sangat tekun menjalankan kewajiban, tetapi jika ketekunan itu membuatnya kasar, mudah merendahkan, dan sulit menghargai orang lain, masih ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam dirinya.
Namun ada hal penting yang perlu diperhatikan. Hadis itu bukan berarti bahwa orang yang tidak menjalankan kewajiban agama tetapi berperilaku ramah otomatis lebih utama daripada orang beriman yang menjalankan kewajibannya namun kurang pandai bergaul. Perbandingan semacam itu bukan maksudnya.
Yang dimaksud adalah bahwa di antara orang-orang beriman yang sama-sama berusaha menjalankan kewajibannya, mereka yang memiliki akhlak baik dan mampu membangun hubungan yang hangat dengan manusia memiliki keutamaan lebih dibanding mereka yang mengabaikan sisi tersebut.
Dengan demikian, akhlak bukan pengganti kewajiban agama. Ia justru menjadi bagian yang menyempurnakannya.
Dalam konteks yang lebih luas, persoalan ini terasa semakin penting pada zaman ketika manusia berhubungan dengan begitu banyak orang, tetapi belum tentu semakin dekat satu sama lain. Kita dapat mengirim pesan dalam hitungan detik, bertemu melalui layar tanpa batas geografis, dan memiliki ratusan bahkan ribuan orang dalam daftar pertemanan. Namun semua itu tidak otomatis membuat kita menjadi pribadi yang mudah didekati.
Ada orang yang memiliki banyak pengikut tetapi tidak memiliki seorang pun yang merasa aman untuk berbicara kepadanya.
Sebaliknya, ada manusia yang mungkin tidak terkenal dan tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kehadirannya memberi rasa tenang. Orang dapat menceritakan kegelisahan kepadanya tanpa takut dihakimi. Anak-anak merasa nyaman di dekatnya. Orang tua merasa dihormati. Mereka yang sedang kesulitan tidak merasa dipandang rendah.
Barangkali inilah salah satu bentuk kekayaan manusia yang sering luput kita hitung.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya mengingat apa yang kita katakan. Mereka juga mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara dengan kita.
Gagasan tentang akhlak yang baik karena hal tersebut bukan sekadar ajakan untuk tersenyum atau bersikap sopan. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: kemampuan menjadikan diri sebagai tempat yang tidak menakutkan bagi orang lain. Ada kelembutan dalam cara berbicara, kesabaran ketika menghadapi perbedaan, dan kerendahan hati untuk tidak selalu merasa paling benar.
Mungkin ukuran itu terasa sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dipalsukan.
Seseorang dapat menyusun citra kesalehan di hadapan banyak orang. Ia dapat menghafal banyak nasihat dan berbicara panjang tentang kebaikan. Tetapi ketika kehidupan mempertemukannya dengan orang yang berbeda pendapat, orang yang lebih lemah, atau seseorang yang tidak dapat memberinya keuntungan apa pun, di sanalah akhlaknya terlihat.
Pada akhirnya, kebaikan bukan hanya tentang seberapa banyak manusia mengenal nama kita. Ia juga tentang apakah orang merasa lebih ringan setelah bertemu dengan kita.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara dan semakin mudah dipenuhi pertengkaran, menjadi manusia yang membuat orang lain merasa aman untuk mendekat adalah salah satu bentuk kebaikan yang paling berharga.
Sebab orang-orang terbaik, seperti sabda Nabi saw, bukan hanya mereka yang mampu mendekati kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang membuat kebaikan itu terasa dekat bagi manusia lain.







