Takdir Tuhan dan Jalan Kebaikan yang Tak Selalu Terlihat

KHAMENEI.ID – Ada hal-hal yang datang dalam hidup dengan wajah yang sulit kita terima. Penyakit, kehilangan, kegagalan, rencana yang berantakan, atau kabar yang membuat hati seketika runtuh. Pada saat seperti itu, manusia biasanya segera bertanya: mengapa harus saya? Mengapa jalan ini yang dipilihkan untuk saya?

Pertanyaan semacam itu lahir dari cara kita memandang peristiwa: baik adalah yang menyenangkan, buruk adalah yang menyakitkan. Padahal, ukuran manusia tentang baik dan buruk sering kali berhenti pada apa yang tampak hari ini. Takdir Tuhan bekerja dengan jangkauan yang lebih panjang. Sesuatu yang terasa pahit sekarang belum tentu buruk bagi perjalanan hidup seseorang.

Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan sebuah kalimat yang pendek, tetapi menyimpan pandangan yang luas tentang takdir:

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ لَا يَقْضِي اللَّهُ عَلَيْهِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، سَرَّهُ أَوْ سَاءَهُ، إِنِ ابْتَلَاهُ كَانَ كَفَّارَةً لِذَنْبِهِ، وَإِنْ أَعْطَاهُ وَأَكْرَمَهُ كَانَ قَدْ حَبَاهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Allah tidak menetapkan suatu ketentuan baginya kecuali itu menjadi kebaikan baginya, baik sesuatu itu menyenangkannya maupun menyusahkannya. Jika Allah mengujinya, ujian itu menjadi penghapus dosanya. Jika Dia memberinya dan memuliakannya, berarti Dia telah menganugerahinya”

(Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 48).

Di sini letak sesuatu yang menarik. Hadis itu tidak mengatakan bahwa kehidupan orang beriman akan selalu menyenangkan. Justru sebaliknya. Ia mengakui adanya peristiwa yang menyusahkan, menyakitkan, bahkan menguji ketahanan seseorang. Yang berubah bukan selalu peristiwanya, melainkan cara seorang mukmin memandang peristiwa tersebut.

Penyakit, misalnya, tetaplah penyakit. Kehilangan tetaplah kehilangan. Kesedihan tidak tiba-tiba berubah menjadi kegembiraan hanya karena seseorang beriman kepada Tuhan. Tetapi dalam pandangan iman, penderitaan tidak berhenti sebagai penderitaan. Ia dapat menjadi jalan pembersihan diri, penghapus kesalahan, atau ruang bagi manusia untuk menemukan kembali sesuatu yang lama hilang dari dalam dirinya.

Baca Juga  Keteguhan Bangsa: Kekuatan Tekad yang Dibuktikan dengan Tindakan

Di titik ini, makna takdir Tuhan menjadi lebih dalam daripada sekadar menerima apa yang terjadi. Takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia juga bukan pembenaran untuk bersikap pasrah tanpa ikhtiar. Yang ditawarkan hadis ini adalah cara lain dalam menghadapi sesuatu yang berada di luar kendali manusia: percaya bahwa tidak semua kebaikan harus hadir dalam bentuk yang kita sukai.

Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan kenyataan semacam itu? Sebuah kegagalan yang dahulu terasa menghancurkan justru membuka jalan ke kehidupan yang sama sekali baru. Sebuah perpisahan memaksa seseorang mengenal dirinya sendiri. Masa sakit membuat seseorang menyadari betapa mahalnya kesehatan. Kehilangan sesuatu yang sangat dicintai kadang membuat manusia berhenti mengejar hal-hal yang ternyata selama ini tidak benar-benar ia perlukan.

Namun, tentu saja, tidak setiap penderitaan harus segera diberi label sebagai “baik”. Luka tetap membutuhkan waktu untuk sembuh. Kesedihan tetap membutuhkan ruang untuk dirasakan. Hadis ini bukan ajakan untuk menyangkal rasa sakit, melainkan untuk tidak menganggap bahwa rasa sakit adalah akhir dari segala makna.

Dalam konteks yang lebih luas, kebahagiaan pun memperoleh tempat yang berbeda. Ketika Tuhan memberi kemudahan, kesehatan, keberhasilan, rezeki, atau kehormatan, semua itu bukan sekadar hasil yang boleh dinikmati. Ia adalah pemberian yang semestinya melahirkan kesadaran. Karena itu, hadis tersebut menempatkan dua keadaan yang tampaknya berlawanan, ujian dan pemberian dalam satu bingkai: keduanya dapat menjadi kebaikan bagi orang beriman.

Gagasan semacam ini sebenarnya telah lama hidup dalam khazanah sastra Persia. Hafiz, penyair besar dari Shiraz, pernah menulis:

در طریقت هرچه پیش سالک آید خیر او است 

 “Dalam jalan spiritual, apa pun yang datang kepada seorang penempuh jalan adalah baik baginya” 

Baca Juga  Kesederhanaan Rasulullah: Ketika Kerendahan Hati Menjadi Puncak Kemuliaan

Bagi Hafiz, keyakinan itu dilekatkan kepada salik, seseorang yang sedang menempuh perjalanan rohani. Hadis Nabi saw memberikan cakupan yang lebih luas: prinsip tersebut bukan hanya untuk seorang pengembara spiritual yang telah mencapai tingkat tertentu, melainkan untuk setiap mukmin.

Dengan demikian, ukuran keberuntungan seorang mukmin tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak hal menyenangkan yang ia terima. Bahkan kesulitan dapat memperoleh makna yang tidak dimiliki oleh kesenangan. Yang menentukan bukan hanya apa yang datang kepada seseorang, tetapi apa yang terjadi pada dirinya setelah sesuatu itu datang.

Barangkali karena itulah manusia tidak pernah benar-benar tahu seluruh rahasia di balik takdirnya. Kita hanya melihat satu halaman, sementara Tuhan mengetahui seluruh buku. Kita sering menilai sebuah peristiwa dari rasa yang ditinggalkannya hari ini, sedangkan maknanya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Maka menjadi mukmin bukan berarti hidup tanpa kesedihan. Menjadi mukmin berarti memiliki keyakinan bahwa kesedihan pun tidak harus sia-sia. Ketika sesuatu yang pahit datang, ia mungkin sedang membawa sesuatu yang belum sanggup kita lihat. Dan ketika sesuatu yang menyenangkan tiba, ia pun bukan sekadar alasan untuk bersuka cita, melainkan kesempatan untuk menyadari bahwa hidup ini sejak awal adalah pemberian.

Pada akhirnya, mungkin yang paling menenteramkan dari takdir Tuhan bukanlah janji bahwa semua yang terjadi akan terasa baik. Melainkan keyakinan bahwa bahkan sesuatu yang belum mampu kita pahami pun tidak berada di luar pengetahuan dan kasih-Nya.

Bagikan:
Terkait
Komentar