Arba’in Husaini dan Jabir bin Abdullah: Awal Magnet Cinta yang Tak Pernah Padam

KHAMENEI.ID– Ada peristiwa yang tidak mengubah sejarah melalui pedang, melainkan melalui langkah kaki. Langkah seorang lelaki tua yang berjalan menuju sebuah makam di padang gersang Karbala. Tidak ada pasukan yang mengiringi. Tidak ada pidato kemenangan. Hanya kesedihan yang begitu dalam dan cinta yang begitu kuat.

Lelaki itu bernama Jabir bin Abdullah Al-Anshari.

Banyak orang mengenal Arba’in sebagai peringatan empat puluh hari syahidnya Imam Husain bin Ali a.s. Jutaan peziarah dari berbagai penjuru dunia setiap tahun berjalan kaki menuju Karbala. Namun sedikit yang menyadari bahwa tradisi besar itu sesungguhnya bermula dari seorang sahabat Nabi yang datang seorang diri untuk menziarahi cucu Rasulullah saw yang baru saja dibantai secara tragis.

Di situlah kisah Arba’in sebenarnya dimulai. Bukan sekadar sebuah ritual, melainkan lahirnya daya tarik spiritual yang terus hidup melintasi abad.

Sebagian riwayat menyebut keluarga Nabi saw tiba kembali di Karbala pada hari Arba’in. Sebagian ulama memperdebatkannya. Namun ada satu peristiwa yang hampir tidak diperselisihkan: Jabir bin Abdullah Al-Anshari datang ke makam Imam Husain a.s pada hari keempat puluh setelah tragedi Karbala.

Perjalanan itu bukan perjalanan biasa.

Jabir bukan orang asing bagi keluarga Nabi. Ia termasuk generasi awal Islam, seorang pejuang yang ikut dalam Perang Badar dan menyertai Rasulullah saw sejak masa-masa pertama dakwah. Bahkan sebelum Imam Husain a.s lahir, Jabir telah hidup bersama Nabi saw, menyaksikan perjuangan beliau, dan mendengar langsung petunjuk-petunjuknya.

Ia melihat sendiri bagaimana Rasulullah saw memeluk Husain kecil dengan penuh kasih sayang. Ia menyaksikan Nabi saw mencium wajah dan mata cucunya. Ia melihat bagaimana Husain tumbuh di bawah perhatian langsung Rasulullah saw.

Baca Juga  Mubahalah dan Karbala: Ketika Kebenaran Menuntut Pengorbanan Orang-Orang Tercinta

Lebih dari itu, Jabir juga mendengar sabda Nabi saw tentang Hasan dan Husain. Rasulullah saw pernah bersabda:

الحسن والحسين سيدا شباب أهل الجنة

“Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.”

Dalam riwayat lain, Nabi saw menegaskan kedudukan keluarga beliau:

إِنَّ عَلِيّاً وَصِيِّي وَخَلِيفَتِي … وَالْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Ali adalah penerusku, Fatimah adalah pemimpin para wanita semesta, dan Hasan serta Husain adalah pemimpin para pemuda surga.”

Karena itulah, ketika kabar syahidnya Husain a.s sampai ke telinganya, Jabir tidak sedang mendengar berita tentang wafatnya seorang tokoh biasa. Ia mendengar bahwa cucu kesayangan Nabi saw, yang pernah digendong Rasulullah saw di hadapan para sahabat, telah dibunuh dalam keadaan haus di Karbala.

Bayangkan perasaan seorang sahabat tua yang menyimpan puluhan tahun kenangan bersama Nabi saw, lalu mendengar bahwa keluarga yang paling dicintai Rasulullah saw mengalami nasib sekejam itu.

Maka Jabir berangkat.

Dari Madinah ia menempuh perjalanan panjang. Dalam perjalanan itu ia ditemani seorang tabi’in bernama Athiyyah Al-Kufi. Athiyyah kemudian meriwayatkan momen-momen yang mengharukan ketika mereka tiba di dekat Sungai Eufrat.

Sebelum mendekati makam Imam Husain a.s, Jabir mandi terlebih dahulu. Ia mengenakan pakaian putih yang bersih. Langkahnya perlahan dan penuh penghormatan. Seolah-olah ia sedang memasuki sebuah tempat yang sangat suci.

Ketika sampai di makam, ia mengucapkan takbir tiga kali.

“Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar.”

Takbir itu bukan teriakan kemenangan. Ia adalah jeritan jiwa yang berusaha memahami tragedi yang sulit diterima akal. Bagaimana mungkin cucu Nabi sawyang begitu dicintai dapat dibunuh dengan cara yang begitu kejam?

Riwayat menyebutkan bahwa kesedihan yang menyesakkan membuat Jabir jatuh pingsan di sisi makam Imam Husain a.s.

Baca Juga  Peradaban Tidak Tumbuh dari Bumi, Tetapi dari Keberanian untuk Berpikir

Tidak ada catatan yang menjelaskan apa yang terjadi dalam benaknya saat itu. Namun kita bisa membayangkan seluruh kenangan masa lalu berkelebat di hadapannya: Husain kecil yang bermain di pangkuan Nabi saw, senyum Rasulullah saw ketika memandang cucunya, serta sabda-sabda yang dulu ia dengar langsung dari lisan Nabi saw.

Ketika sadar kembali, Jabir mulai berbicara kepada penghuni makam itu.

“Assalamu’alaikum ya Aala Allah. Assalamu’alaikum ya Shafwatallah.”

“Salam atas kalian, wahai keluarga pilihan Allah. Salam atas kalian, wahai hamba-hamba pilihan-Nya.”

Mungkin di situlah sesuatu yang besar lahir.

Arba’in bukan sekadar mengenang kematian seorang tokoh sejarah. Ia adalah awal dari sebuah ikatan emosional dan spiritual yang kemudian menghubungkan jutaan manusia dengan Karbala. Apa yang hari ini terlihat sebagai lautan manusia yang berjalan menuju makam Imam Husain a.s sesungguhnya berakar pada langkah sunyi Jabir berabad-abad lalu.

Seakan-akan ada magnet yang mulai bekerja sejak hari itu.

Magnet itu tidak terbuat dari besi. Ia tidak terlihat oleh mata. Namun kekuatannya mampu menggerakkan hati manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan generasi.

Dalam dunia modern yang serba cepat, manusia sering bergerak karena kepentingan: keuntungan, karier, popularitas, atau kekuasaan. Tetapi perjalanan Jabir mengingatkan bahwa ada perjalanan yang lahir dari sesuatu yang lebih dalam: cinta dan kesetiaan terhadap nilai.

Imam Husain a.s tidak dikenang hanya karena ia terbunuh. Ia dikenang karena menolak tunduk kepada kezaliman meskipun harus membayar dengan nyawanya. Dan Jabir datang ke Karbala karena ia memahami makna pengorbanan itu.

Mungkin itulah sebabnya Karbala tidak pernah menjadi sekadar lokasi sejarah. Ia berubah menjadi simbol. Simbol keberanian moral, kesetiaan kepada kebenaran, dan cinta yang tidak tunduk pada waktu.

Baca Juga  Al-Husein dan Kerinduan Manusia Akan Cahaya di Zaman yang Semakin Gelap 

Empat puluh hari setelah tragedi itu, seorang sahabat tua berdiri di hadapan sebuah makam yang sunyi. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa langkahnya akan menjadi awal dari tradisi ziarah terbesar dalam sejarah manusia.

Namun hingga hari ini, ketika jutaan orang berjalan menuju Karbala setiap Arba’in, gema langkah Jabir masih terasa. Seolah-olah cinta yang membawanya dari Madinah ke Karbala tidak pernah benar-benar berakhir.

Karena sebagian perjalanan memang tidak selesai ketika kaki berhenti melangkah. Ia terus hidup di dalam hati manusia yang mewarisi maknanya.

Bagikan:
Terkait
Komentar