KHAMENEI.ID– Di tengah banjir informasi dan pertarungan narasi yang makin sulit dibedakan, satu persoalan lama kembali muncul dengan wajah baru: bagaimana membedakan kebenaran dari kemasan yang tampak benar?
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa berbicara tentang agama dengan fasih, mengutip ayat dengan lancar, menampilkan kesalehan yang mengesankan, bahkan mengumpulkan pengikut dalam jumlah besar. Namun semua itu ternyata tidak selalu menjadi jaminan bahwa ia berada di jalan yang benar. Sejarah Islam pernah menghadapi situasi serupa, bahkan dalam bentuk yang jauh lebih rumit.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s pernah mengingatkan bahwa tidak semua orang mampu memikul panji kebenaran. Beliau berkata:
أَلَا وَلَا يَحْمِلُ هَذَا الْعَلَمَ إِلَّا أَهْلُ الْبَصَرِ وَالصَّبْرِ وَالْعِلْمِ بِمَوَاضِعِ الْحَقِّ
“Ketahuilah, panji ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh orang-orang yang memiliki ketajaman pandangan, kesabaran, dan pengetahuan tentang letak-letak kebenaran”
Kata kuncinya adalah bashirah; ketajaman batin atau kemampuan membaca realitas secara mendalam. Bukan sekadar melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi memahami hakikat yang tersembunyi di baliknya.
Pada masa Nabi Muhammad saw, garis pemisah antara kawan dan lawan relatif jelas. Mereka yang memerangi Islam tampak sebagai musuh yang nyata. Namun situasi berubah pada masa Imam Ali a.s. Lawan yang dihadapi bukan penyembah berhala atau penolak agama. Mereka sama-sama mengucapkan syahadat, mendirikan salat, membaca Al-Qur’an, dan mengaku memperjuangkan Islam.
Di medan Perang Jamal, Shiffin, hingga Nahrawan, orang-orang di kedua kubu mengerjakan salat berjamaah. Mereka sama-sama berpuasa dan membaca kitab suci. Jika dilihat dari luar, hampir tidak ada perbedaan yang mencolok.
Di sinilah bashirah menjadi sangat penting.
Ada sebuah kisah menarik yang diriwayatkan dari Kumail bin Ziyad, sahabat dekat Imam Ali a.s. Suatu malam mereka berjalan di Kufah. Dari sebuah rumah terdengar suara seseorang membaca Al-Qur’an dengan sangat merdu dan penuh penghayatan.
Ayat yang dibacanya adalah:
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
“Atau orang yang beribadah pada waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya” (QS. Az-Zumar: 9)
Suara itu begitu menyentuh. Kumail diam-diam mengagumi pembacanya. Dalam hatinya ia membayangkan betapa salehnya orang tersebut. Namun Imam Ali a.s justru berkata, “Jangan tertipu oleh suaranya. Ia termasuk penghuni neraka.”
Kumail terkejut. Bagaimana mungkin seseorang yang tampak begitu dekat dengan Al-Qur’an justru mendapat penilaian seperti itu?
Jawaban atas pertanyaan itu baru terungkap bertahun-tahun kemudian.
Ketika Perang Nahrawan pecah dan kelompok Khawarij dikalahkan, Imam Ali a.s berjalan melewati jasad-jasad yang bergelimpangan di medan perang. Tiba-tiba beliau menunjuk salah satu mayat dan bertanya kepada Kumail apakah ia mengenal orang tersebut.
Kumail menjawab tidak.
Imam Ali a.s lalu berkata bahwa itulah orang yang dulu membaca Al-Qur’an dengan suara yang sangat indah pada malam yang mereka lewati bersama.
Orang yang semula tampak sebagai ahli ibadah ternyata berdiri menghunus pedang melawan Imam Ali a.s sendiri. Ia membaca Al-Qur’an, tetapi gagal memahami arah kebenaran yang dibawa Al-Qur’an. Ia menghafal ayat, namun kehilangan kemampuan membaca realitas.
Kisah ini menyimpan pelajaran yang sangat relevan bagi zaman modern.
Hari ini kita sering menilai seseorang berdasarkan penampilan, simbol, slogan, atau potongan ceramah yang beredar di media sosial. Kita mudah terpesona oleh retorika yang menyala-nyala atau oleh kesalehan yang dipertontonkan. Padahal kebenaran tidak selalu hadir dalam kemasan yang paling menarik.
Bashirah mengajarkan bahwa ukuran kebenaran bukan hanya seberapa religius seseorang terlihat, tetapi ke mana arah langkahnya membawa manusia. Apakah ia mendekatkan orang pada keadilan atau justru memecah-belah? Apakah ia membela kebenaran atau sekadar membungkus kepentingan dengan bahasa agama?
Inilah sebabnya Imam Ali a.s menempatkan bashirah sejajar dengan kesabaran. Orang yang memiliki ketajaman pandangan harus siap menghadapi kebingungan zaman. Tidak semua perkara dapat dipahami hanya dengan emosi atau kesan pertama. Kadang seseorang harus menahan diri, mengumpulkan informasi, dan melihat gambaran yang lebih besar sebelum mengambil kesimpulan.
Krisis terbesar masyarakat modern mungkin bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kemampuan memahami informasi. Kita hidup dalam era ketika setiap orang bisa berbicara, tetapi tidak semua orang memahami. Setiap orang bisa mengutip ayat, tetapi tidak semua orang mampu menempatkan ayat pada konteks yang benar.
Karena itu, tantangan utama seorang mukmin hari ini bukan hanya menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki bashirah. Ibadah memberi cahaya bagi hati, tetapi bashirah membantu cahaya itu menunjukkan arah.
Sejarah Khawarij mengingatkan bahwa seseorang dapat menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur’an, namun pada siang hari berdiri melawan kebenaran. Kesalehan ritual tanpa ketajaman memahami zaman dapat berubah menjadi jebakan yang berbahaya.
Mungkin karena itulah Imam Ali a.s tidak mengatakan bahwa panji kebenaran hanya dipikul oleh ahli ibadah. Beliau menyebut orang-orang yang memiliki pandangan jernih, kesabaran, dan kemampuan mengenali posisi kebenaran di tengah kabut fitnah.
Sebab ketika zaman menjadi semakin rumit, yang menyelamatkan manusia bukan hanya banyaknya informasi yang ia miliki, melainkan kejernihan dalam membaca kenyataan. Dan di situlah bashirah menemukan maknanya yang paling mendalam.







